Viral! Bahaya Tersembunyi Anak Masuk Sekolah Terlalu Dini

Pendidikan PAUD mengutamakan sisi bermain
Bermain adalah yang utama di PAUD (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Nikita Willy tanya dampak anak sekolah terlalu cepat ke pakar neurologi. Cek penjelasan medis & dilema calistung di sini!

JAKARTA, KalderaNews.com – Trend menyekolahkan anak sejak usia sangat dini kini tengah menjamur di masyarakat Indonesia.

Tidak sedikit orang tua yang memasukkan buah hatinya ke lembaga pendidikan formal atau tempat bimbingan belajar sejak usia di bawah 4 tahun. Namun, apakah menyekolahkan anak terlalu dini aman bagi perkembangan saraf dan otaknya?

Isu ini mendadak tular di media sosial Threads usai akun @nesy.a763 membagikan cuplikan percakapan antara aktris Nikita Willy dengan ahli neurologi anak ternama, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K).

BACA JUGA:

Pertanyaan sederhana dari Nikita mengenai dampak menyekolahkan anak terlalu cepat memicu gelombang diskusi hangat di kalangan orang tua dan praktisi pendidikan.

Perkembangan Otak Anak Usia Dini: Kapan Waktu Terbaik Sekolah?

Secara medis dan neurologis, masa tumbuh kembang otak anak pada usia 0 hingga 2 tahun berada dalam fase emas (prime time). Pada periode ini, otak anak menyerap segala bentuk stimulasi dari lingkungan sekitarnya dengan sangat cepat.

Kendati demikian, para ahli perkembangan anak menekankan bahwa jenis stimulasi di usia dini harus disesuaikan dengan kesiapan struktur saraf anak. Pendidikan di usia PAUD atau TK idealnya berfokus pada:

  • Perkembangan Sensorik dan Motorik: Melalui kegiatan bermain, mewarnai, dan menggambar.
  • Problem Solving dan Logika Dasar: Melalui eksplorasi lingkungan (seperti metode Montessori).
  • Kecerdasan Emosional dan Sosialisasi: Belajar berinteraksi dengan sesama teman sebaya tanpa tekanan akademis.

Memaksa anak masuk ke lingkungan akademis formal sebelum kesiapan mental dan sarafnya matang justru berisiko menimbulkan keluhan burnout dini, stres, hingga penurunan minat belajar ketika mencapai usia sekolah dasar.

Dilema Calistung dan Kurikulum Sekolah Dasar

Diskusi viral ini juga membongkar dilema nyata yang dihadapi para pendidik di lapangan. Salah seorang pendidik TK mengungkapkan ketidaksinkronan antara aturan pra-sekolah dan syarat masuk Sekolah Dasar (SD).

“Harusnya di TK tidak boleh ada Calistung (baca, tulis, hitung), tapi masuk SD seleksinya harus bisa calistung. Tidak sinkron. Akhirnya banyak orang tua yang memberikan les calistung di rumah karena takut anaknya tidak diterima di SD favorit,” tulis seorang guru TK dalam kolom komentar Threads.

Kondisi inilah yang kerap memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan orang tua, sehingga terdorong mendaftarkan anak ke lembaga bimbingan belajar calistung meskipun usianya belum genap 4 tahun.

Setiap Anak Unik: Pentingnya Assesmen Tumbuh Kembang

Para praktisi dan pengamat pendidikan menyimpulkan bahwa kebiasaan membandingkan (generalisasi) perkembangan anak adalah kekeliruan besar. Setiap anak memiliki ritme dan pola perkembangan otak yang berbeda.

Sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia muda, ada beberapa faktor krusial yang perlu diperhatikan orang tua:

  1. Pemeriksaan Kesiapan Belajar: Melakukan tes psikotes atau asesmen tumbuh kembang anak secara mandiri atau dengan bantuan profesional.
  2. Kesiapan Mental dan Emosional: Memastikan anak tidak merasa tertekan atau cemas saat berpisah dari orang tua.
  3. Pemilihan Metode Sekolah: Jika memilih menyekolahkan anak di usia 1–3 tahun, pilihlah sekolah yang berbasis bermain (play-based learning) daripada akademis murni.

Sebagian orang tua bahkan memilih menahan anak hingga berusia 7 tahun sesuai anjuran psikologi pendidikan dasar, guna memastikan pematangan emosi dan fisik anak benar-benar siap menghadapi jenjang sekolah formal.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


82 views