Alumni Mengajar SMA Tarakanita Magelang: Berbagi Bisnis Kuliner Sebagai Panggilan Hidup

Yosep Adi Prasetyo, alumni SMA Tarakanita Magelang sekaligus owner mengelola Rumah Makan Kitakata Ramen dan Donburi di Magelang bersama istrinya Devie Devara Yudana (KalderaNews/Dok. Tarakanita)
Yosep Adi Prasetyo, alumni SMA Tarakanita Magelang sekaligus owner mengelola Rumah Makan Kitakata Ramen dan Donburi di Magelang bersama istrinya Devie Devara Yudana (KalderaNews/Dok. Tarakanita)
Sharing for Empowerment

MAGELANG, KalderaNews.com – SMA Tarakanita Magelang mengadakan kegiatan pembinaan setelah para siswa menyelesaikan Asesmen Sumatif Akhir Semester Gasal.

Kegiatan ini dirancang sebagai ruang penyegaran sekaligus pendalaman makna belajar, agar para siswa tidak hanya berhenti pada capaian akademik, tetapi juga diajak merefleksikan perjalanan hidup, pilihan, dan panggilan mereka di masa depan.

Salah satu bentuk kegiatan pembinaan tersebut diwujudkan melalui program Alumni Mengajar dengan tajuk Sharing Profesi: “Merintis Bisnis Kuliner”.

BACA JUGA:

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Yosep Adi Prasetyo, alumni SMA Tarakanita Magelang. Ia adalah owner sekaligus yang mengelola Rumah Makan Kitakata Ramen dan Donburi di Magelang.

Dalam kesempatan tersebut, ia hadir bersama istrinya, Devie Devara Yudana, yang menjadi rekan seperjalanan dalam hidup dan karya.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Philipus Aditya, yang mengantar proses sharing dengan suasana dialogis, hangat, dan reflektif.

Sharing diawali dengan kisah sederhana namun jujur tentang masa sekolah Yosep di SMA Tarakanita Magelang. Ia mengakui bahwa perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus.

Sebagai siswa jurusan IPS, Yosep bahkan pernah mengalami tidak naik kelas. Namun, pengalaman kegagalan itu justru menjadi titik pembelajaran yang mendalam: bahwa manusia tidak ditentukan oleh kegagalan semata, melainkan oleh kesediaannya untuk bangkit, belajar, dan tetap melangkah dengan harapan.

Pengalaman tersebut menegaskan nilai yang selalu ditanamkan dalam pendidikan Tarakanita, bahwa setiap pribadi adalah ciptaan Allah yang berharga, dengan proses pertumbuhan yang unik dan tidak selalu sama.

Dalam keterbatasan dan kelemahan, Tuhan tetap berkarya membentuk pribadi yang tangguh, rendah hati, dan setia pada proses kehidupan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Tarakanita Magelang, Yosep melanjutkan studi ke jurusan Arsitektur. Dalam perjalanan kuliahnya ia berjumpa dengan Devie yang kemudian menjadi pasangan hidupnya.

Keduanya menjalani masa studi dengan penuh perjuangan hingga akhirnya lulus dan memasuki dunia kerja. Namun, realitas hidup mengajarkan bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai dengan harapan manusia.

Pekerjaan sebagai arsitek ternyata belum mampu menjadi sandaran hidup yang kokoh.

Di titik inilah refleksi iman menjadi penting. Yosep dan istrinya mulai belajar mendengarkan suara hati dan bertanya: ke mana Tuhan memanggil mereka untuk berkarya? Dari kegemaran sederhana terhadap kuliner, khususnya ramen, serta kepekaan membaca kebutuhan masyarakat Magelang, mereka melihat sebuah peluang.

Ramen yang saat itu belum banyak berkembang di Magelang menjadi jalan bagi mereka untuk berkarya, berusaha, dan melayani sesama melalui dunia kuliner.

Dalam sharing-nya mereka menegaskan bahwa setiap orang dianugerahi potensi oleh Tuhan, dan tugas manusia adalah mengenali, mengembangkan, serta mempertanggungjawabkan potensi tersebut.

Perjalanan merintis usaha tentu tidak lepas dari hambatan dan rintangan, baik yang berasal dari dalam diri berupa rasa takut dan keraguan, maupun dari luar berupa komentar, penilaian, dan ekspektasi orang lain.

Namun demikian, mereka berkomitmen bahwa keberanian untuk melawan rasa takut dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pilihan hidup merupakan sikap yang tidak bisa ditawar.

Kepekaan membaca tanda-tanda zaman—apa yang sedang dibutuhkan dan digandrungi oleh masyarakat—juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Dalam setiap proses mereka belajar untuk percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai langkah-langkah kecil yang dijalani dengan kesungguhan dan kejujuran.

Melalui kisah hidupnya, Yosep mengajak para siswa SMA Tarakanita Magelang untuk tidak takut gagal dan tidak mudah putus asa.

Kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan diri. Ketakutan perlu dihadapi dengan iman dan keberanian, sebab setiap pilihan hidup selalu mengandung tanggung jawab yang harus dijalani dengan kesadaran dan kesetiaan.

Kegiatan Alumni Mengajar ini menjadi bagian penting dari pembinaan siswa di SMA Tarakanita Magelang. Melalui kesaksian hidup alumni, para siswa diajak untuk melihat bahwa pendidikan sejati tidak hanya berbicara tentang nilai dan prestasi, tetapi tentang pembentukan manusia seutuhnya: pribadi yang beriman, berani, tangguh, dan siap bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Semoga pengalaman ini meneguhkan para siswa untuk setia pada proses dan berani menjawab panggilan Tuhan dalam karya nyata bagi sesama. (Penulis: Handa Putra)

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*