JAKARTA, KalderaNews.com – Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang tetap menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah memicu perdebatan panas.
Alih-alih mendapat pujian, alasan di balik langkah ini justru dipertanyakan tajam oleh ahli gizi ternama, dr. Tan Shot Yen.
BGN berdalih bahwa pembagian makanan gratis saat libur dilakukan demi menjaga status gizi anak.
Menurut mereka, saat anak tidak di sekolah, pola makan sepenuhnya bergantung pada keluarga dan dikhawatirkan tidak terjaga kualitasnya.
BACA JUGA:
- MBG Tetap Jalan Saat Libur, Pembagian di SMPN 8 Cimahi Tuai Sorotan Warganet: Nambah Kerjaan Guru
- JPPI: Nilai TKA SMA Jeblok Parah, Anggaran Pendidikan Jangan Dipangkas untuk MBG!
- Pro-Kontra MBG Selama Libur Sekolah: DPR Kritik Keras, Wali Murid Mengeluh
Namun, dr. Tan Shot Yen mengaku geram dengan asumsi tersebut.
Menurutnya, sebuah kebijakan publik berskala besar seharusnya didasarkan pada data ilmiah, bukan sekadar kekhawatiran tanpa bukti.
Mana studi ilmiahnya?
Dalam keterangannya, dr. Tan mempertanyakan dasar kajian yang menyatakan bahwa gizi anak pasti menurun ketika mereka berada di rumah bersama orang tua selama masa liburan.
“Kalau ini alasannya, jujur saya marah. Ada data studi yang menyatakan kekurangan gizi meningkat saat libur?” kata dr. Tan.
Ia menekankan bahwa tugas pemerintah seharusnya bukan hanya membagikan makanan, tetapi juga mengedukasi keluarga.
Libur sekolah semestinya menjadi momentum bagi orang tua untuk belajar menyediakan makanan sehat secara mandiri di rumah.
Sorotan tajam menu “sampah”
Tak hanya soal alasan kebijakan, dr. Tan juga menyoroti kualitas makanan yang dibagikan.
Berdasarkan laporan masyarakat yang ia terima, menu MBG selama libur sekolah justru didominasi oleh Ultra Processed Food (UPF) atau pangan olahan industri.
Berikut beberapa poin kritis yang disampaikan dr. Tan:
- Menu bermasalah, seperti ditemukan pembagian biskuit, roti, hingga camilan instan (snack) dalam paket MBG.
- Produk UPF tersebut bahkan dilaporkan diberikan kepada bayi usia 15 bulan, yang sangat berisiko bagi tumbuh kembangnya.
- Program MBG seharusnya menjadi “template” atau standar rujukan makanan sehat bagi masyarakat Indonesia, bukan sekadar aktivitas mengisi perut.
Edukasi, bukan sekadar distribusi
Bagi dr. Tan, setiap asupan makanan yang diberikan negara kepada rakyat harus memiliki nilai literasi gizi.
Ia menyayangkan jika program besar ini hanya dipahami sebatas distribusi makanan tanpa adanya sentuhan pendidikan bagi otak dan pola pikir masyarakat.
“Setiap kunyahan seharusnya ada rasa syukur yang sesungguhnya. Bukan sekadar syukur sudah dikasih makan, tapi isinya cuma buat perut, bukan buat otak,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply