Runtuh Lagi! Sinyal Hawkish The Fed Tekan Harga Bitcoin ke Level US$ 70.000

Kripto
Kripto (EduFulus/Ist)
Sharing for Empowerment

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com – Pasar kripto kembali mengalami kejatuhan lagi setelah sempat menunjukkan performa gemilang.

Harga Bitcoin (BTC) terpantau turun ke level US$ 70.000 atau setara dengan Rp 1,18 miliar (asumsi kurs Rp 16.928/dolar AS).

Penurunan ini memutus tren penguatan pekan lalu yang sempat mendekati angka US$ 76.000 (Rp 1,28 miliar).

SIMAK JUGA: Bitcoin Moncer Lebih Tangguh dari Emas, Sementara IHSG Muram di Tengah Konflik Timur Tengah

Koreksi sebesar 7-8% ini dinilai sebagai dampak langsung dari hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang memberikan sinyal kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat.

Kebijakan The Fed Jadi Pemicu Utama

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% serta revisi naik proyeksi inflasi AS menjadi 2,7% menjadi “biang kerok” terbatasnya likuiditas pada aset berisiko.

“Keputusan FOMC yang tetap hawkish menunjukkan bahwa inflasi belum turun secepat harapan pasar. Hal ini membuat minat terhadap aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/3/2026).

Gubernur The Fed, Jerome Powell, juga menekankan bahwa penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi.

Dukungan Dana Institusional

Meski dibayangi sentimen makroekonomi yang berat, Bitcoin sebenarnya sempat mendapat dorongan kuat dari arus dana institusional.

Tercatat, spot Bitcoin ETF membukukan arus masuk sebesar US$ 199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, dengan total akumulasi tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.

SIMAK JUGA: Dongkrak Daya Saing Nasional, Bursa Kripto CFX Siapkan Strategi Pangkas Biaya Transaksi

Antony menilai minat investor besar ini tetap terjaga meski pasar sedang volatil. Saat ini, level US$ 70.000 hingga US$ 72.000 menjadi area support penting yang dipantau ketat oleh para pelaku pasar.

“Selama level ini mampu bertahan, harga berpotensi stabil dalam jangka pendek karena adanya serapan tekanan jual dari dana institusional. Namun jika jebol, penyesuaian harga bisa berlanjut ke level yang lebih rendah,” tambahnya.

Strategi Menghadapi Volatilitas

Menyikapi dinamika ini, Indodax mengimbau para investor untuk tetap rasional dan tidak terjebak dalam kepanikan.

Fase koreksi dan konsolidasi dinilai bisa menjadi momentum untuk menata ulang strategi investasi dengan fokus jangka panjang.

Antony menyarankan penggunaan metode Dollar Cost Averaging (DCA) atau mencicil investasi secara rutin untuk meminimalisir dampak volatilitas.
Ia juga menekankan pentingnya riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) sebelum mengambil keputusan.

“Lewat edukasi berkelanjutan, kami mengajak masyarakat untuk tetap bertanggung jawab dan disiplin dalam menyikapi peluang di pasar kripto,” tutup Antony.

SIMAK JUGA: Sah! Fatwa Muhammadiyah: Kripto Jadi Aset Digital, Tapi Haram Buat “Meme Coin” dan Spekulasi

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*