Geger spanduk ‘Surat Permohonan Maaf’ catut nama UGM di gerbang kampus. Simak klarifikasi resmi dari Jubir UGM dan Ketua BEM.
YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh kemunculan sebuah spanduk berukuran besar yang bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” di gerbang masuk kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (21/5/2026).
Baliho misterius yang mengatasnamakan institusi UGM tersebut langsung menarik perhatian publik lantaran memuat narasi permohonan maaf yang secara spesifik menyinggung institusi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kemunculan atribut bermuatan politis ini pun memicu perdebatan hangat mengenai batasan kebebasan berpendapat di lingkungan akademik.
BACA JUGA:
- Viral Spanduk “Surat Permohonan Maaf” UGM, Singgung Kondisi Indonesia
- Ternyata! Dosen UGM Terseret Skandal Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha
- Profil Dirut BNI Putrama Wahju, Alumnus UGM yang Kembalikan Dana CU
Merespons kegaduhan tersebut, Juru Bicara UGM, Dr. I Made Andi Arsana, langsung memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan status kepemilikan spanduk tersebut.
Made Andi menegaskan bahwa baliho tersebut sama sekali tidak dipasang oleh pihak rektorat dan dipastikan mencatut identitas resmi kampus tanpa izin.
Meskipun pihak universitas sangat menghormati serta melindungi kebebasan berekspresi setiap warga negara, pemasangan media informasi di area kampus tetap wajib mematuhi regulasi, tata kelola ruang, serta memiliki penanggung jawab yang jelas. Karena dinilai melanggar aturan peruntukan wilayah, pihak keamanan kampus akhirnya telah menurunkan spanduk tersebut.
Di sisi lain, teka-teki mengenai siapa aktor di balik aksi ini perlahan mulai terkuak setelah organisasi mahasiswa memberikan respons.
Plt. Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay, mengonfirmasi bahwa spanduk tersebut bukan dibuat ataupun dipasang oleh pengurus BEM, melainkan lahir dari inisiatif mandiri gerakan mahasiswa akar rumput UGM.
Kendati tidak terlibat langsung dalam pemasangan fisik, pihak BEM menyatakan ikut mendukung pesan tersebut karena dinilai mewakili keresahan bersama yang saat ini tengah dirasakan oleh civitas akademika.
Lebih lanjut, Sheron menjelaskan bahwa aksi simbolis ini dipicu oleh kegelisahan mendalam para mahasiswa terhadap kondisi negara yang dinilai sedang dilanda ketidakpastian, khususnya di sektor stabilitas ekonomi.
Pihak BEM UGM berharap birokrasi kampus dapat terus membebaskan ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan kritik dan ekspresi politik tanpa intervensi yang ketat.
Menurut mereka, kondisi sosial masyarakat saat ini menuntut institusi pendidikan tinggi seperti UGM untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan berani mengambil sikap yang lebih radikal dan tegas terhadap jalannya roda pemerintahan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply