252 siswa SD di Jakarta Timur diduga keracunan usai santap menu MBG. Pemprov DKI selidiki penyebab dan evaluasi SPPG.
CAKUNG, KalderaNews.com – Sebanyak 252 siswa sekolah dasar di wilayah Cakung, Jakarta Timur, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa pangsit isi tahu pada Jumat (8/5/2026).
Hingga Sabtu (9/5/2026), tercatat 26 siswa masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Dugaan keracunan muncul setelah para siswa mengeluhkan gejala kesehatan usai menyantap pangsit tahu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang.
Salah satu menu dilaporkan memiliki rasa masam, sehingga memicu investigasi lebih lanjut terkait keamanan pangan.
BACA JUGA:
- Viral Anak Di-DO dari Sekolah karena Ortu Kritik MBG, BGN Klarifikasi
- Parah! 162 Siswa Anambas Keracunan, MBG Tercemar Boraks dan Bakteri
- Viral di Medsos, Rumah Seorang Kakek 80 Tahun di Surabaya Tiba-tiba Berubah Jadi Dapur MBG, Kok Bisa?
Disdik sudah ambil sampel makanan untuk diuji
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
“Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya diperkirakan baru keluar paling cepat Selasa pekan depan,” jelas Ani saat dikonfirmasi.
Menurut data Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, sebanyak 188 siswa telah mendapatkan layanan kesehatan, sementara 26 siswa lainnya masih dirawat di rumah sakit. Meski demikian, kondisi seluruh pasien disebut stabil dan tidak membutuhkan perawatan intensif.
“Seluruh pasien dirawat di ruang rawat inap biasa,” ujarnya.
Sebaran siswa yang masih menjalani perawatan berada di tujuh rumah sakit, yakni RS Citra Harapan Bekasi, RS Ananda, RSI Pondok Kopi, RS Resti Mulya, RS Firdaus, RSI Sukapura, dan RS Pekerja.
Selain fokus pada penanganan korban, Dinkes DKI Jakarta bersama Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur juga melakukan pembinaan dan evaluasi terhadap operasional SPPG Pulogebang.
Langkah pengawasan mencakup inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan penjamah makanan, hingga proses penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
SPPG Pulogebang diketahui mulai beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan masih dalam tahap pengurusan sertifikasi sesuai aturan Badan Gizi Nasional (BGN), yang memberikan batas waktu maksimal tiga bulan untuk pemenuhan standar tersebut.
Pemprov tegaskan akan tangani kasus secara serius
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan akan menangani kasus ini secara serius. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa ratusan siswa.
“Pemprov DKI Jakarta sangat prihatin dan menanggapi serius kasus dugaan keracunan pangan ini,” kata Chico.
Ia memastikan pemerintah terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan serta Badan Gizi Nasional untuk mempercepat investigasi.
“Ada salah satu menu yang dilaporkan berasa masam. Sampel makanan sudah diambil untuk uji laboratorium di dinkes, hasil diperkirakan keluar pekan depan,” ucap dia.
Chico juga menegaskan bahwa seluruh siswa terdampak akan mendapatkan penanganan medis maksimal.
“Kami pastikan semua siswa mendapat perawatan terbaik hingga sembuh,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG di Jakarta, terutama terkait pemenuhan standar higienitas. Dari total 609 SPPG yang beroperasi di Jakarta, baru 167 yang telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan program pangan untuk anak-anak sekolah. Pemerintah menegaskan pembinaan dan pengawasan terhadap penyedia makanan MBG akan diperketat agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply