Ketahui gejala hipotermia dari ringan hingga berat, penyebab utamanya, serta panduan pertolongan pertama yang benar dan aman di sini.
JAKARTA, KalderaNews.com – Hipotermia sering kali diidentikkan dengan aktivitas mendaki gunung atau cuaca ekstrem di negara empat musim.
Namun, tahukah kamu bahwa kondisi medis yang berbahaya ini juga bisa terjadi di dalam rumah akibat penggunaan pendingin ruangan (AC) yang terlalu dingin atau lingkungan yang basah?
Memahami hipotermia secara mendalam sangat penting, terutama bagi kamu yang gemar melakukan aktivitas outdoor.
BACA JUGA:
- Lilie Wijayanti dan Elsa Laksono, Alumni SMA Dempo Malang yang Meninggal di Puncak Cartenz
- Apa Itu ‘Golden Time’ atau Fase Kritis dalam Operasi SAR Seperti di Ponpes Al-Khoziny?
- Inilah Identitas Lengkap 3 Korban Meninggal Erupsi Gunung Dukono
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif mengenai apa itu hipotermia, gejala dari setiap fasenya, langkah pertolongan pertama, hingga tips pencegahannya.
Apa Itu Hipotermia?
Hipotermia adalah kondisi medis darurat di mana tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk menghasilkan panas. Kondisi ini menyebabkan suhu inti tubuh turun drastis di bawah batas normal.
Suhu tubuh normal manusia berada di kisaran 36,5°C hingga 37,5°C. Seseorang dinyatakan mengalami hipotermia ketika suhu inti tubuhnya turun di bawah 35°C.
Ketika suhu tubuh drop, organ-organ vital seperti jantung, sistem saraf, dan otak tidak dapat berfungsi secara optimal. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung hingga kematian.
Penyebab Utama Hipotermia
Penyebab utama hipotermia adalah paparan suhu dingin yang berkepanjangan. Proses penurunan suhu tubuh ini bisa dipercepat oleh beberapa faktor berikut:
- Pakaian yang Basah: Air menghantarkan panas tubuh 25 kali lebih cepat daripada udara. Memakai baju basah akibat keringat atau hujan di tempat dingin adalah pemicu tercepat hipotermia.
- Angin Kencang (Wind Chill Effect): Angin meniup lapisan udara hangat di permukaan kulit, mempercepat proses hilangnya panas tubuh.
- Terendam di Air Dingin: Berada di dalam air dingin dalam waktu lama akan menurunkan suhu tubuh secara drastis dalam hitungan menit.
- Kondisi Fisik yang Lemas: Kelelahan, dehidrasi, dan perut kosong membuat tubuh kekurangan bahan bakar (kalori) untuk memproduksi panas melalui metabolisme.
Tahapan dan Gejala Hipotermia
Gejala hipotermia muncul secara bertahap seiring menurunnya suhu inti tubuh. Berikut adalah klasifikasi gejala berdasarkan tingkat keparahannya:
1. Hipotermia Ringan (Suhu Tubuh 32°C – 35°C)
Pada fase awal, tubuh berusaha keras menghasilkan panas secara mandiri.
- Menggigil secara intens dan terus-menerus.
- Ujung jari tangan dan kaki terasa dingin dan mati rasa.
- Detak jantung dan napas menjadi lebih cepat.
- Kulit tampak pucat atau membiru (sianosis).
- Gagap atau kesulitan berbicara dengan jelas.
2. Hipotermia Sedang (Suhu Tubuh 28°C – 32°C)
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan tubuh mulai kelelahan.
- Berhenti menggigil, meskipun tubuh semakin dingin (ini adalah tanda bahaya besar).
- Sangat lesu, mengantuk ekstrem, dan mulai linglung (disorientasi).
- Gerakan tubuh menjadi kaku, kikuk, dan kehilangan keseimbangan.
- Napas dan denyut nadi melambat.
3. Hipotermia Berat (Suhu Tubuh di Bawah 28°C)
Fase kritis yang mengancam nyawa dan membutuhkan tindakan medis segera.
- Penurunan kesadaran atau pingsan.
- Napas terasa sangat dangkal dan lambat, bahkan hampir tidak terlihat.
- Denyut nadi sangat lemah dan tidak teratur.
- Pupil mata melebar (dilatasi).
- Paradoxical undressing: Kondisi di mana penderita merasa kepanasan akibat kegagalan saraf pembuluh darah, sehingga mereka justru melepas pakaian mereka secara tidak sadar.
Pertolongan Pertama pada Korban Hipotermia
Jika kamu menghadapi seseorang yang menunjukkan gejala hipotermia, segera lakukan tindakan darurat berikut sembari menunggu bantuan medis tiba:
Yang HARUS Dilakukan (Do’s):
- Pindahkan ke Tempat Aman: Bawa korban ke tempat yang kering, hangat, dan terlindung dari angin atau hujan (seperti di dalam tenda atau ruangan).
- Ganti Pakaian Basah: Lepaskan seluruh pakaian basah korban dengan hati-hati dan ganti dengan pakaian serta selimut yang kering dan tebal.
- Berikan Kehangatan secara Bertahap: Selimuti korban, terutama di bagian kepala dan leher (biarkan wajah tetap terbuka). Anda bisa menggunakan thermal blanket atau memanfaatkan kehangatan tubuh orang lain (skin-to-skin contact).
- Beri Minuman Hangat dan Manis: Jika korban masih sadar penuh dan bisa menelan, berikan minuman hangat berkalori (seperti teh manis atau cokelat hangat). Ini membantu memberikan energi instan bagi tubuh untuk memproduksi panas.
Yang TIDAK BOLEH Dilakukan (Don’ts):
- Jangan menghangatkan terlalu cepat: Jangan gunakan lampu pemanas, kompor, atau merendam korban di air panas secara langsung. Perubahan suhu yang terlalu mendadak bisa memicu serangan jantung (afterdrop).
- Jangan beri alkohol atau kafein: Alkohol melebarkan pembuluh darah kulit (vasodilatasi) yang justru mempercepat hilangnya panas dari organ vital. Kafein dapat memperparah dehidrasi.
- Jangan memijat atau menggosok kulit korban: Gerakan kasar pada kulit yang membeku dapat merusak jaringan kapiler darah dan memicu henti jantung.
Cara Mencegah Hipotermia saat Beraktivitas
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Gunakan rumus C.O.L.D. saat kamu hendak berkegiatan di alam bebas atau area bersuhu dingin:
- C – Clean (Bersih): Jaga pakaian tetap bersih dan bebas dari minyak atau kotoran agar kemampuan isolasi kain tetap maksimal.
- O – Avoid Overheating (Hindari Kepanasan): Jangan memakai baju terlalu tebal saat melakukan aktivitas fisik berat (seperti mendaki trek curam). Keringat berlebih akan membasahi baju dan memicu hipotermia saat Anda berhenti bergerak.
- L – Layers (Berlapis): Gunakan sistem pakaian berlapis (layering system). Lapisan dalam (base layer yang menyerap keringat), lapisan tengah (insulating layer seperti bahan fleece untuk menahan panas), dan lapisan luar (outer layer yang tahan angin dan air).
- D – Dry (Tetap Kering): Selalu siapkan jas hujan dan pakaian cadangan di dalam kantong plastik kedap air di dalam tas Anda.
So, hipotermia bukan sekadar rasa dingin biasa, melainkan kondisi darurat yang menyerang sistem kerja organ tubuh.
Kunci utama menghadapi kondisi ini adalah deteksi dini terhadap gejala awal (seperti menggigil hebat) dan segera melakukan penanganan yang tepat sebelum korban memasuki fase sedang atau berat.
Selalu persiapkan fisik, asupan kalori, dan pakaian yang memadai sebelum berpetualang di alam bebas.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply