Oknum Dosen UIN Solo Diduga Lecehkan Mahasiswi, Ini Modusnya

Ilustrasi: Stop kejahatan seksual di dalam kampus. (Ist.)
Stop kejahatan seksual berupa pencabulan hingga pelecehan di dalam dunia pendidikan (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Oknum dosen UIN Solo diduga lecehkan mahasiswi. Ada beragam modus yang dilakukan oleh oknum dosen tersebut. Apa sajakah itu?

SURAKARTA, KalderaNews.com- Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang dosen berinisial F di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Solo menjadi sorotan publik.

Kabar ini pun viral di media sosial setelah sejumlah mahasiswi mulai berani mengungkap pengalaman mereka terkait dengan AKSI yang dilakukan oleh oknum dosen.

Peristiwa ini disebut telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. Salah satu korban berinisial R mengaku mengalami perlakuan tidak pantas saat menjalani magang di minimarket laboratorium FEBI pada September 2025.

BACA JUGA:

Kronologi dosen lecehkan mahasiswi

Awalnya, R mengira komunikasi dari dosen tersebut hanya berkaitan dengan urusan pekerjaan selama magang. Namun, isi percakapan melalui WhatsApp perlahan berubah menjadi lebih pribadi dan membuatnya tidak nyaman.

“Saya pikir awalnya ada masalah pelayanan atau hal biasa. Tapi lama-lama pertanyaannya mulai aneh. Nanya kos, identitas pribadi, sampai hal-hal yang bikin saya takut. Dia bilang mau dipelet,” ujar R, Selasa (19/5).

Merasa terganggu dan ketakutan, R memilih menghentikan komunikasi dan melaporkan kejadian itu kepada pihak program studi. Setelah laporan diterima, pihak kampus memindahkan jadwal magangnya agar tidak lagi bertemu dengan dosen tersebut.

“Kaprodi (kepala program studi) waktu itu menyarankan saya tidak masuk magang dan kuliah dulu tidak apa-apa. Jadwal magang dipindah supaya tidak ketemu lagi,” imbuhnya.

Meski komunikasi telah berhenti, R mengaku masih mengalami trauma ketika berpapasan dengan dosen tersebut di lingkungan kampus.

“Kalau ketemu dia, melihatnya masih  aneh banget. Nggak sewajarnya. Saya jadi takut interaksi sama orang lain juga,” ungkapnya.

Pengakuan serupa juga datang dari seorang alumni UIN Solo berinisial P yang kini tinggal di Jakarta. Ia mengaku awalnya hanya berhubungan secara profesional dengan dosen tersebut sebagai mahasiswa dan dosen penguji proposal.

Namun, setelah seminar proposal selesai, komunikasi disebut mulai berubah ke arah personal. P mengaku kerap menerima pesan bernada akrab hingga ajakan bertemu.

“Beliau sering balas status, manggil pakai panggilan sayang. Pernah ngajak ketemu, sampai bilang mau nyariin kerja buat saya supaya tetap di Solo dan gampang ketemu,” bebernya.

Modus oknum dosen UIN Solo lecehkan mahasiswi


P juga merasa kondisi psikologisnya dimanfaatkan karena dosen itu mengetahui dirinya sedang menjalani pendampingan psikiater. Selain itu, ia mengaku pernah mengalami kontak fisik yang membuatnya tidak nyaman ketika sidang skripsi berlangsung.

“Pas sidang beliau pegang dan elus pergelangan tangan saya. Saya takut dan bingung harus gimana, karena situasinya sidang,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, percakapan melalui pesan disebut kerap mengarah pada komentar fisik pribadi yang membuat korban semakin tertekan.

Kasus ini kemudian meluas setelah sejumlah mahasiswi lain turut buka suara di media sosial. Salah satu pengakuan juga muncul melalui unggahan akun Instagram @ruangsambatttt.

Mahasiswi tersebut mengaku pernah diajak check in hotel oleh dosen F dengan alasan menemaninya mengikuti workshop.

“Dulu aku masih semester awal, dan belum yg Kya sekarang sekali speak up Ingsung viral. Dulu bner2 takut bgtt, smpai aku ga masuk kuliah jam beliau bbrapa kali. Yg bikin ga nyaman dia mau ngajak cek in dengan dalih aku suruh nemenin beliau workshop..” tulisnya.

Mahasiswi itu juga mengaku sempat menyampaikan keresahannya kepada seorang dosen perempuan lain. Namun, respons yang diterima justru dianggap tidak membela dirinya.

“mungkin dia cuma bercanda”.

Korban mengatakan, setelah itu perilaku dosen tersebut justru semakin menjadi-jadi. Ia mengaku kerap dipaksa melakukan video call pada malam hari dan sering menerima komentar terkait bentuk tubuhnya.

“Sampai ngajak VC malem2, aku udah kasih alasan apapun dia tetap maksa tapi Alhamdulillah nya ga kesampaian VC. Dia selalu bilang soal body aku, dan itu buat aku ga nyaman,” ujarnya.

Mahasiswi tersebut juga mengaku sempat merasa ketakutan ketika dosen itu berniat mendatangi rumahnya dan meminta izin kepada orang tuanya untuk mengajaknya pergi.

“Sampai di titik dia mau main ke suatu tempat dan mau mampir kerumah ku minta izin ortu ku buat ngajak aku jalan… aku bener2 takut. Akhir nya aku blok nomer nya… ” ujarnya.

Setelah memutus komunikasi dengan memblokir nomor pelaku, korban mengaku justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan di kelas.

“Dia kaya kesel sama aku.. dia sensi bahkan pernah ngasih hukuman ke aku buat hafalin materi makul nya..” pungkasnya.

Ramainya pengakuan para korban memicu desakan agar kampus mengambil tindakan tegas. Salah satu korban berharap kasus tersebut tidak berhenti hanya pada permintaan maaf.

“Kalau bisa disanksi tegas karena bukan sekali dua kali. Banyak korban yang takut bicara,” ujarnya.

Rektor UIN Solo tanggapi kasus oknum dosen yang lecehkan mahasiswi

Menanggapi kasus tersebut, Rektor UIN Raden Mas Said Solo Toto Suharto mengatakan laporan dugaan kekerasan seksual telah masuk melalui aplikasi Sistem Layanan Pengaduan (SILADA) dan kini ditangani Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Ia menyebut Satgas telah memberikan peringatan keras kepada terduga pelaku dan meminta yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada korban.

“Ketua satgas memberikan peringatan dengan keras dan tegas. Meminta pelaku agar meminta maaf pada korban secara langsung, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi pada siapa pun,” tegas Toto.

Menurut Toto, dosen berinisial F juga disebut telah menyampaikan permintaan maaf melalui pesan WhatsApp kepada korban.

“Pak F sudah meminta maaf kepada korban melalui WA, dan nanti akan kami arahkan untuk meminta maaf secara resmi,” bebernya.

Namun demikian, para korban mengaku hingga kini belum menerima pendampingan khusus dari pihak kampus maupun permintaan maaf secara langsung dari pelaku.

“Sampai sekarang saya belum dihubungi pihak kampus. Sempat beliau menanyakan kepada saya terkait laporan itu. Belum ada permononan maaf. Saya rasa kalau hanya minta maaf, itu tidak adil,” ungkap P.

Sementara itu, Satgas PPKS UIN Raden Mas Said Solo menyatakan kasus tersebut masih dalam proses penanganan dan meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun identitas korban.

Di sisi lain, Dekan FEBI UIN Raden Mas Said Solo Rhamawan Arifin mengaku pihak fakultas belum menerima laporan resmi maupun berita acara investigasi dari tim Satuan Pengawas Internal (SPI).

“Untuk saat ini fakultas belum terima laporan dan berita acara investigasi tim SPI UIN Surakarta, karena laporan masuk melalui aplikasi SILADA. Kami masih menunggu laporannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, fakultas akan berkoordinasi dengan rektorat terkait sanksi apabila dugaan pelecehan tersebut terbukti.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*