
Mahasiswa USD Kaletus Sakoro berdialog dengan Wapres Gibran bahas pelestarian budaya dan pangan lokal sagu di Asmat, Papua.
JAKARTA, KalderaNews.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming menerima audiensi Yayasan Widya Cahaya Nusantara di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat.
Pertemuan ini menjadi ruang penting untuk membahas pengembangan Museum Asmat sebagai pusat pelestarian warisan budaya, serta program Sekolah Lapang Sagu yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat Asmat, termasuk kesehatan, stunting, sanitasi, dan malaria.
BACA JUGA:
- Puncak Dies Natalis ke-70, Universitas Sanata Dharma Teguhkan Tekad Lawan Kebodohan
- Puncak Dies Natalis Universitas Sanata Dharma (USD), Kuatkan Komitmen Merawat Semesta
- Dies Natalis Universitas Sanata Dharma Dimeriahkan Konser Kolaborasi PSM Cantus Firmus dan Yogyakarta Royal Orchestra
Turut hadir dalam pertemuan itu Kaletus Sakaro, mahasiswa berasal dari Agats, Asmat, Papua. Kehadiran Kaletus menegaskan bahwa suara generasi muda Papua tidak hanya menjadi bagian dari diskusi pembangunan, tetapi juga hadir sebagai representasi langsung dari masyarakat yang mengalami dan merasakan kebutuhan di lapangan.
Dalam konteks ini, pertemuan dengan RI-2 dapat dibaca sebagai misi untuk mempertemukan aspirasi lokal, pelestarian budaya, dan agenda pembangunan manusia di Tanah Papua.
Bagi Kaletus, kesempatan tersebut memiliki makna strategis. Dengan latar belakang sebagai mahasiswa kerjasama dari Agats, Asmat, Papua, serta capaian IPK 3,55 di Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma, ia tampil sebagai figur muda yang memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi jembatan antara kampung halaman, identitas budaya, dan ruang kebangsaan yang lebih luas.
Berdasarkan berita resmi, kehadirannya selaras dengan posisi mahasiswa binaan yayasan asal Asmat yang ikut dalam forum yang membahas masa depan budaya dan kesejahteraan daerahnya.

Universitas Sanata Dharma sendiri memiliki fondasi akademik yang kuat. USD berdiri sejak 17 Desember 1955 dan membawa motto “Cerdas dan Humanis” dengan nilai dasar mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia.
Program Studi Sejarah USD juga menegaskan orientasi akademiknya melalui pembelajaran yang melatih mahasiswa menganalisis peristiwa masa lalu secara kritis dan membangun masyarakat yang berkesadaran sejarah.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya Asmat, penguatan pangan lokal berbasis sagu, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan agenda yang saling terkait.
Dalam semangat itu, kehadiran mahasiswa seperti Kaletus Sakaro menjadi penting sebagai wajah generasi muda Papua yang belajar, bertumbuh, dan kembali membawa suara daerahnya ke pusat pengambilan kebijakan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply