Waspada! Potensi Erupsi Dahsyat Gunung Anak Krakatau Seperti 1883

Panorama Gunungapi Anak Krakatau yang diambil sebelum aktivitasnya meningkat secara masif di tahun 2018
Panorama Gunungapi Anak Krakatau yang diambil sebelum aktivitasnya meningkat secara masif di tahun 2018 (Kalderanews/Arli Cia)
Sharing for Empowerment

Studi BRIN ungkap potensi Gunung Anak Krakatau meletus seperti 1883. Simak analisis fase pertumbuhan magmanya di sini.

JAKARTA, KalderaNews.com – Erupsi dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 dicatat sejarah sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar di dunia modern.

Letusan tersebut memicu gelombang volcano tsunami setinggi lebih dari 30 meter dan merenggut lebih dari 30.000 korban jiwa. Pertanyaan besar yang sering muncul di masyarakat: Apakah Gunung Anak Krakatau (GAK) berpotensi meletus sehebat induknya pada 1883?

BACA JUGA:

Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Aditya Pratama, memberikan penjelasan ilmiah mengenai kekhawatiran publik tersebut dalam Webinar Geohazard BRIN.

Memahami Siklus Kaldera: 3 Fase Pertumbuhan Gunung Api

Dalam studi ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Science, Dr. Aditya Pratama bersama tim risetnya menjelaskan bahwa fenomena pemicu Caldera Forming Eruption (letusan pembentuk kaldera) pada sistem Krakatau pada dasarnya berulang.

Berdasarkan catatan geologi, Krakatau telah mengalami letusan skala raksasa setidaknya dua kali, yaitu pada kisaran abad ke-4 hingga ke-6, serta tragedi tahun 1883.

Sebelum mencapai letusan skala kaldera, sebuah gunung berapi umumnya melalui tiga siklus utama:

  • Fase Inkubasi (Incubation): Dapur magma masih berada di kedalaman yang sangat dalam.
  • Fase Pematangan (Maturation): Mulai terbentuk kantung-kantung magma (magma pockets) di kedalaman dangkal yang kemudian menyatu membentuk reservoir besar.
  • Fase Fermentasi (Fermentation): Fase akhir di mana akumulasi tekanan magma memicu letusan pembentuk kaldera. Pasca-erupsi, gunung akan masuk masa pemulihan (recovery) yang memungkinkan munculnya gunung api baru.

Analisis Sampel Batuan: Di Mana Posisi Gunung Anak Krakatau Saat Ini?

Untuk menentukan posisi fase Gunung Anak Krakatau, tim peneliti BRIN menganalisis 16 sampel batuan dari tiga generasi Krakatau: Old Krakatau, Young Krakatau, dan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Pengujian dilakukan secara komprehensif menggunakan metode petrografi, geokimia batuan, kimia mineral dan gelas, tekstur mineral magnetik, serta sifat kemagnetan batuan.

Temuan Utama Riset BRIN:

Keberadaan Mineral Olivine: Berbeda dengan sampel Old dan Young Krakatau, sampel batuan GAK menunjukkan keberadaan mineral olivine—mineral pembentuk bagian mantel atas Bumi. Ini mengindikasikan bahwa karakteristik magma GAK relatif berbeda dari pendahulunya.

Kedalaman Dapur Magma: Dapur magma GAK berada pada kisaran kedalaman 7,4 hingga 26,6 km dengan tekanan 185–665 MPa. Angka ini jauh lebih dalam dibandingkan dapur magma Old Krakatau (0,6–2,9 km) dan Young Krakatau (1,1–3,4 km).

Kedalaman dapur magma yang masih tergolong dalam ini merupakan ciri khas utama dari fase inkubasi (incubation)—fase paling awal dalam siklus pertumbuhan gunung api menuju letusan kaldera.

Apakah GAK Akan Meletus Seperti Tahun 1883?

Secara ilmiah, jawabannya adalah ya, potensi tersebut ada, namun tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Dr. Aditya Pratama yang mendalami bidang vulkanologi, geokimia, petrologi, dan sifat magnetik batuan menegaskan bahwa karakteristik magma GAK menunjukkan gunung api ini masih berada di tahap awal fase inkubasi.

Waktu yang dibutuhkan untuk bertransformasi ke fase maturation hingga fermentation masih sangat panjang.

“Memang masih sama seperti yang akan dialami oleh ayah-ibunya terjadi caldera forming eruption. Tapi, dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu,” jelas Dr. Aditya Pratama.

Meski demikian, pemantauan berkala tetap krusial dilakukan karena dinamika diferensiasi magma dapat berpotensi membentuk kantung-kantung magma dangkal di masa mendatang.

Meskipun potensi letusan skala besar seperti 1883 tetap ada dalam siklus jangka panjang geologi, Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam fase inkubasi atau awal pertumbuhannya.

Pemahaman terhadap pola dan fase pertumbuhan gunung api ini menjadi kunci utama bagi lembaga pemerintah dan masyarakat dalam menyusun strategi mitigasi bencana geologi yang lebih presisi di masa depan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


37 views