Oryza sativa, Nama Spesies Kok Jadi Nama Anak, Begini Cara Carolus Linnaeus Memberi Nama Ilmiah




Carolus Linnaeus
Ilustrasi: Carolus Linnaeus

JAKARTA, KalderaNews.com – Oryza sativa sedang heboh di dunia maya. Semua bermula dari cuitan akun @zeniuseducation pada Minggu, 8 September 2019. Cuitan itu berbunyi, “Nama2 spesies yang mungkin bisa jadi inspirasi buat nama anak: Aloe vera, Eugenia aromatica, Michelia alba, Oryza sativa, Rosa damascen, Salvinia natans, Aurelia aurita, Canarius serenia, Dayatis sabina, Manis javanica, Rana aurora, Virginia valeriae.”

Mendadak, cuitan ini mendapat komentar sekira 1.600, disukai oleh lebih dari 12.000 akun, dan di-retweet sebanyak 6.400. Berikut beberapa komentar warganet:

“Entar anakku kasih nama Aurelia aurita kalo di panggil nggak nyaut gw teriakin ‘heh ubur-ubur sini lo” ehehehe”

“Oryza sativa ketika di suruh makan nasi sama emaknya. Dia menjawab : aku ngga mau makan temen sendiri mah.”

“Kenalin nama aku Aurelia Aurita.. Gausah canggung, biar akrab panggil Ubur-ubur ajah”

“Kasian kalau dinamain Rana aurora, nama latinnya cakep tp kalo diterjemahin ke indo jadi “eh kodok” kan kasian”

“Kalo kembar namanya jangan Allium sativum sama Allium cepa ntar berantem terus soalnya Allium cepa alias bawang merah jahat”

BACA JUGA:

Nah, sebenarnya dari mana sih nama-nama itu?

Itu adalah nama-nama ilmiah dari beberapa spesies, baik hewan maupun tanaman. Nama ilmiah memang selalu menggunakan bahasa Latin, walaupun dalam sejarahnya, penggunaan bahasa Latin pernah ditentang lantaran sudah tak ada lagi negara yang memakai bahasa Latin dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa Latin berasal dari Latium, daerah di dekat kota Roma, Italia. Maka, saat Kekaisaran Romawi muncul, bahasa Latin dipakai sebagai bahasa resmi. Romawi sukses menaklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah Eropa dan sekitarnya. Inilah yang kemudian membuat bahasa Latin amat populer.

Nah, pada saat itu, Plinius dari masa Kekaisaran Romawi menuliskan sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalam bahasa Latin. Sistem penamaannya pun kemudian berlanjut hingga saat ini. Bahasa Latin pun tetap digunakan sebagai “nama resmi” spesies di bumi ini. Sistem penamaan tersebut kemudian makin disempurnakan oleh Carolus Linnaeus.

Sistem penamaan itu memakai tata nama binomial atau binomial nomenklatur, yang merupakan aturan penamaan baku bagi semua organisme. Terdiri atas dua kata dari sistem taksonomi, dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Adalah Carolus Linnaeus yang memiliki kontribusi besar dalam penamaan spesies. Penamaan spesies saat ini telah diatur dalam Peraturan Internasional.

Aturan penulisan dalam tata nama binomial selalu menempatkan nama genus di awal dan nama spesies mengikuti. Misal Panthera tigris (Panthera adalah nama genus; tigris adalah nama spesies). Nama genus selalu diawali huruf kapital dan nama spesies selalu diawali dengan huruf biasa.

Ada pula aturan tentang singkatan “sp” (zoologi) atau “spec” (botani) yang digunakan jika nama spesies tak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Masih ada sejumlah aturan-aturan dalam penamaan spesies. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*