Berikut ini Kegelisahan Sosial dan Isu Minoritas Meresahkan di Indonesia




Peluncuran buku “Contentious Belonging – The Place of Minorities in Indonesia”
Peluncuran buku “Contentious Belonging – The Place of Minorities in Indonesia” di Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019 (KalderaNews/LIPI)

JAKARTA, KalderaNews.com – “Buku bunga rampai ini menantang dua hal, yaitu menantang komitmen kita untuk menjaga ke-Indonesia-an dan menantang komitmen kita untuk menciptakan demokrasi yang lebih baik,” terang Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Firman Noor saat peluncuran buku “Contentious Belonging – The Place of Minorities in Indonesia” di Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019.

Menurutnya, pemikiran dalam buku seperti ini sangat dibutuhkan oleh bangsa kita sebagai pengingat agar bangsa kita tidak terjebak pada hal-hal yang sifatnya akan merugikan siapapun termasuk dan terutama kalangan minoritas.

“Ada kegelisahan sosial akhir-akhir ini terkait dengan masalah minoritas. Buku ini berangkat dari masalah tersebut, ditambah komitmen mencari solusi bagaimana agar kegelisahan itu agak tidak berkepanjangan dan menjadi destruktif buat bangsa kita yang plural ini,” tambah Firman yang merupakan Profesor Riset LIPI tersebut.

BACA JUGA:

Dewi Fortuna Anwar, Profesor Riset Pusat Penelitian Politik LIPI mengatakan, isu yang diangkat oleh buku ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan.

“Apa yang sebaiknya Indonesia lakukan sebagai negara yang memiliki toleransi kepada keberagaman, sesuai dengan semangat semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sudah bangsa kita miliki,” terangnya.

Dewi menjelaskan, perlindungan hak asasi manusia kepada kaum minoritas adalah salah satu bagian yang tidak boleh dilupakan.

Ronit Ricci, Associate Professor Australian National University selaku editor mengatakan, kaum minoritas tidak hanya terjadi akibat adanya migrasi tetapi juga dapat terbentuk dengan adanya transmigrasi.

“Minoritas itu dapat terjadi secara individual, secara komunitas maupun secara nasional, yang tidak boleh hilang dari pembahasan minoritas adalah terbentuknya identitas minoritas secara individual,” ulasnya.

Ia pun meminta buku ini sebaiknya diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia agar dapat dipahami oleh khalayak.

“Permasalahan kesenjangan minoritas ini bukan hanya tugas negara, namun kaum minoritas itu sendiri harus dapat bekerjasama dan membantu tugas pemerintah terkait permasalahan ini, seperti contohnya tentang penggunaan kata pribumi dan non pribumi dalam perundang-undangan,” paparnya.

Greg Fealy, Associate Professor Australian National University yang juga bertindak sebagai editor menjelaskan, sebagai negara besar, Indonesia memiliki kaum mayoritas muslim yang sudah menerapkan demokrasi dan keberagaman. Namun Greg mencatat beberapa rekaman sejarah di Indonesia. Ia mencontohkan kasus Ahok yang diturunkan dari jabatan Gubernur. (ML)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*