UIN Walisongo Ditantang Jadi World Class University Hanya dalam 3 Tahun




UIN Walisongo Semarang
Eksekutif Briefing di UIN Walisongo (KalderaNews/Kemenag)

SEMARANG, KalderaNews.com – UIN Walisongo Semarang diminta melakukan langkah strategis dan inovatif untuk menjadi 500 kampus terbaik di dunia. Sebagai PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) yang telah mendapatkan akreditasi A oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), UIN Semarang ditantang dalam waktu 3 (tiga) hingga 5 (lima) ke depan agar menjadi World Class University.

Tantantan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, saat mengisi kegiatan “Executive Briefing UIN Walisongo” di kampus UIN Walisongo, Semarang pada Selasa, 30 Juli 2019. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Rektor UIN Semarang, Imam Taufik, para wakil rektor, dekan dan para pembantu dekan, pimpinan lembaga di lingkungan UIN Walisongo serta Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Suwendi.

Menurut Kamaruddin Amin, saat ini terdapat tujuh UIN yang telah meraih akreditasi A, yakni UIN Semarang, UIN Jakarta, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, UIN Surabaya, UIN Malang, dan UIN Makassar. Semua UIN yang telah meraih akreditasi A itu hakikatnya sama dengan perguruan tinggi lain yang juga meraih akreditasi institusi A, seperti UI, ITB, IPB. Guru besar UIN Makassar itu pun menantang pimpinan tujuh UIN itu agar merumuskan langkah-langkah strategis agar menjadi universitas terbaik di dunia.

BACA JUGA:

“Jangan berpikir aspek anggaran, silakan anggaran diusulkan. Kami yang akan cari jalan keluarnya terkait anggaran itu. Yang pasti, saya dorong agar seluruh stakeholder PTKIN melakukan upaya terobosan internasionalisasi kampus,” pinta Kamaruddin Amin.

“Kita memiliki distingsi sendiri, pembeda antara PTKI dengan selain PTKI, yakni pada aspek ilmu-ilmu tradisional Islam. Untuk itu, ilmu-ilmu tradisional Islam itu harus lebih diperkuat,” imbuh guru besar ilmu hadis ini menyoroti penguatan kajian keislaman di PTKIN.

PTKI juga diminta untuk menguatkan dirinya sebagai pengawal moderasi beragama untuk merespon fenomena semakin kuatnya “tradisi belajar instan”.

“Mahasiswa harus didorong untuk mengakses sumber-sumber literatur yang otoritatif, jangan hanya bermodal media sosial sebagai sumber pembelajaran,” paparnya.

“Keberagamaan di Saudi, Iran, Indonesia dan lain-lain itu sangat dipengaruhi oleh studi keislaman yang berkembang di negara tersebut. Negara-negara itu memiliki karakter kajian keislamannya yang berbeda-beda. Oleh karenanya, UIN Semarang diminta terus meneguhkan tradisi kesarjanaan dan studi keislaman yang berkarakter keindonesiaan lebih diperkuat lagi,” pungkasnya. (LF)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*