Megawati Bela Demo Mahasiswa di Bundaran HI, Mereka Warga Negara, Jangan Takut

Sharing for Empowerment


Pidato Megawati di Blitar bela demo BEM UI, soroti harga cabai Rp180 ribu, dan tegaskan dirinya tetap bersahabat dengan Prabowo.

BLITAR, KalderaNews.com – Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memberikan pembelaan terbuka terhadap aksi unjuk rasa mahasiswa yang sempat tertahan oleh aparat keamanan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Jumat (12/6/2026) lalu.

Megawati menegaskan bahwa di dalam negara demokrasi, mahasiswa merupakan bagian dari warga negara yang memiliki hak konstitusional penuh untuk menyuarakan aspirasi di ruang publik tanpa harus dibayangi rasa takut.

BACA JUGA:

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pidato dalam acara peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026).

Soroti Pengamanan Ketat TNI-Polri

Dalam pidatonya, Megawati secara khusus menyoroti keterlibatan aparat kepolisian dan TNI yang dinilainya berlebihan dalam mengawal aksi yang dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) beserta aliansi kampus lainnya.

“Kemarin saya lihat BEM UI itu demo. Wah, kok saya tuh mikir, ini sopo toh yo?” ujar Megawati. “Ya apa boleh buat, polisinya toh, lalu Angkatan Daratnya. Terus saya tuh mikirnya begini… Mahasiswa itu masuk tidak sebagai warga negara Indonesia? Masuk!”

Ia pun menyayangkan jika mental generasi muda runtuh hanya karenaadang hambatan dari aparat penegak hukum. Menurutnya, keteguhan sikap adalah kunci dalam menyuarakan kebenaran.

“Itu menunjukkan apa? Hati kalian itu tidak teguh! Jadi mestinya jangan takut. Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak,” tegasnya memotivasi para mahasiswa.

Tegaskan Sikap Politik, Megawati: Mau Ditangkap? Ayo!

Lebih lanjut, Megawati menyatakan bahwa dirinya pribadi tidak akan pernah gentar untuk terus menyampaikan kritik dan pendapat di ruang publik demi menjaga arah demokrasi bangsa. Ia bahkan melontarkan tantangan terbuka kepada aparat jika ada yang mempermasalahkan pernyataan sikapnya tersebut.

“Nah, saya berani ngomong gini, terus saya mau ditangkap? Ayo! Mana di sini ada polisi? Panggil sini!” ucap Megawati di hadapan para hadirin yang hadir di Blitar.

Bersahabat dengan Prabowo, Bukan Musuh

Di tengah berbagai kritik tajamnya terhadap kondisi ekonomi nasional saat ini, Megawati secara khusus menepis isu yang menyebut dirinya dan Presiden Prabowo Subianto tengah bermusuhan. Ia menegaskan bahwa perbedaan sikap politik tidak merusak hubungan personal mereka yang sudah terjalin lama.

“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan, bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Tapi saya bukan musuh dia, itu teman saya,” tutur Megawati.

Megawati kemudian mengungkit momen kebersamaan mereka pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, di mana keduanya tampak akrab bergandengan tangan dan tertawa bersama. Ia meminta agar pihak-pihak tertentu tidak mencoba membenturkan hubungannya dengan Presiden Prabowo.

Soroti Lonjakan Harga Pangan: Cabai Tembus Rp 180 Ribu

Isu ekonomi dan kesejahteraan rakyat menjadi salah satu poin utama yang disorot tajam oleh Megawati. Ia mengakui bahwa harga berbagai kebutuhan pokok di tingkat konsumen saat ini tengah mengalami lonjakan yang memberatkan masyarakat.

Dalam pidatonya, Megawati bahkan sempat berdialog langsung dengan audiens untuk mengecek harga cabai di wilayah masing-masing. Ia mengungkapkan bahwa di beberapa wilayah Indonesia Timur, harga komoditas tersebut sudah berada di luar kewajaran.

“Di daerah timur saya dapat laporan cabe itu harganya Rp 180.000. Wes ora usah mangan lombok (sudah tidak usah makan cabai), wes ora usah. Atau apa? Bikin gerakan menanam cabe di rumah sendiri,” selorohnya.

Etika Politik PDI-P di Luar Pemerintahan

Meskipun menyadari betul jeritan rakyat terkait kenaikan harga pangan, Megawati mengingatkan para kader PDI-P dan masyarakat untuk tetap mengedepankan etika serta jalur hukum tata negara dalam menyampaikan keluhan. Mengingat posisi PDI-P saat ini berada di luar pemerintahan, penyampaian aspirasi harus dilakukan melalui saluran legislatif resmi.

“Saya tahu harga udah pada naik. Tapi saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya akan menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” tegasnya.

Prihatin Nasib Petani, Megawati Tagih Instruksi Tanaman Pendamping Beras

Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno, Megawati menaruh perhatian besar pada nasib petani sebagai Soko Guru bangsa. Ia menekankan pentingnya mengorganisir dan memberdayakan kaum petani agar mampu mewujudkan kedaulatan pangan yang mandiri.

Sebagai langkah konkret, Megawati menagih komitmen seluruh struktur partai terkait instruksi yang telah ia keluarkan sejak tahun 2021, yakni kewajiban menggalakkan penanaman 10 jenis tanaman pangan pendamping beras guna mengantisipasi ancaman krisis pangan global.

“Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya masih bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!” ujarnya membakar semangat para kader.

Megawati menutup pidatonya dengan mengingatkan kembali pesan fundamental Bung Karno, bahwa urusan perut dan pemenuhan makanan untuk rakyat adalah prioritas mutlak yang tidak boleh diabaikan demi menjaga stabilitas dan mencegah terjadinya kerusuhan sosial.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*