Ini Penyebab Rasio SDM Iptek di Indonesia Sangat Rendah

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko
Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Saat ini rasio jumlah SDM iptek sangat rendah yaitu 1:934 penduduk, daftar paten Indonesia hanya berjumlah 2.272 atau 24% dari 9.362 paten global, dan peringkat publikasi internasional masih diperingkat 52 dari 230 negara.

Salah satu yang melatarbelakangi karena Indonesia hanya memiliki 301.885 SDM Iptek yang terdiri dari dosen, peneliti dan perekayasa, 1.280 peneliti di antaranya telah menempuh pendidikan S3.

Pemberdayaan diaspora Indonesia, terutama diaspora peneliti untuk bekerja bagi Tanah Air masih belum maksimal. Untuk itu, LIPI secara aktif mencari dan merekrut diaspora-diaspora peneliti untuk keunggulan kompetitif terhadap SDM aparatur. Sejak tahun 2018, LIPI membuka jalur diaspora dalam mekanisme perekrutan CPNS. Sampai saat ini, tercatat sudah 27 diaspora peneliti yang bekerja di LIPI sejak tahun 2014.

BACA JUGA:

“LIPI menciptakan ekosistem riset ramah inovasi melalui pembangunan infrastruktur riset serta melakukan penyempurnaan regulasi untuk mendukung platform riset ramah inovasi bagi para diaspora serta lulusan S3 terbaik dalam negeri,” terang Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko di acara Diskusi Publik “Diaspora Peneliti Indonesia: Kiprah dan Tantangan” di Jakarta, Senin, 9 Desember 2019.

Sementara itu, Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menjelaskan, beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk percepatan pembangunan Sumber Daya Manusia Iptek. “Antara lain membangun ekosistem riset melalui skema manajemen talenta dan talent pool, juga pembinaan SDM Iptek sebagai future leaders dan great scientists melalui R&D Corporate University,” ujar Nur.

Diskusi Publik “Diaspora Peneliti Indonesia: Kiprah dan Tantangan” menghadirkan empat diaspora peneliti yang kini telah berkiprah di LIPI. Mereka adalah Intan Suci Nurhati (Amerika Serikat dan Singapura), Osi Arutanti (Jepang), Ayu Savitri Nurinsiyah (Belanda-Prancis-Inggris-Jerman), Mohammad Hamzah Fauzi (Jepang). (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*