Etiket Menulis di Saat Bencana




Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.
Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh: Eben E. Siadari *

Bencana adalah peristiwa unik dan mengundang rasa ingin tahu. Nilai beritanya besar. Keinginan untuk melaporkan dan menuliskannya juga tidak kalah besar.

Para wartawan selalu dibekali sejumlah panduan dalam melakukan reportase maupun menulis berita bencana. Mulai dari panduan teknis –semisal informasi apa yang perlu dikumpulkan, bagaimana alur tulisan, diksi – maupun hal nonteknis jurnalistik lainnya.

Berikut ini beberapa etiket reportase dan menulis berita bencana.

1). Sensitifitas

Para wartawan selalu dianjurkan untuk mengedepankan sensitifitas saat melaporkan bencana dan kematian yang disebabkannya. Wartawan harus peka terhadap perasaan penderita/korban dan keluarga mereka.

BACA JUGA:

Ketika bertatap muka (misalnya untuk wawancara), maupun ketika menuliskan laporan, wartawan harus peka terhadap perasaan terluka mereka. Kepekaan itu ditunjukkan bukan hanya dalam gesture saat bertanya, saat menyapa, juga dalam diksi ketika menuliskannya.

2). Peka Dalam Menyebut Nama

Dalam peristiwa bencana akan jatuh korban. Sebagai wartawan, Badu mungkin mengetahui nama-nama mereka. Dalam tabrakan lalu lintas, misalnya, Badu melihat seseorang yang dia kenal telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di TKP. Naluri jurnalistik Badu akan menodorongnya menyuarkannya secara lengkap bahkan secara pandangan mata segera. Namun secara etika, Badu sebaiknya tidak menyebut nama korban sampai keluarganya diberitahu. Ini sangat penting.

Adalah sangat menyakitkan bagi siapa pun mengetahui kematian orang-orang yang mereka kasihi dari pihak ketiga, apalagi dari surat kabar. Oleh karena itu wartawan dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu apakah pihak berwajib telah mengabarkan hal itu kepada keluarga. Jika tidak, ada baiknya yang dipakai inisial.

3). Bijak dengan Gambar

Dalam pemberitaan, gambar berbicara mewakili ribuan kata. Juga dalam pemberitaan tentang bencana. Namun hal ini harus dilakukan dengan bijaksana.

Misalnya, dalam mempublikasi gambar orang yang meninggal karena bencana, atau yang berkaitan dengan korban. Apakah gambar-gambar itu akan menyebabkan kesedihan pada korban? Seberapa perlu menampilkan orang yang luka parah saat tabrakan beruntun? Seberapa perlu menampilkan gambar dengan wahah colse up di peti jenazah?

BACA JUGA:

Dalam pemberitaan sering juga diharuskan ada ilustrasi foto. Wartawan dianjurkan untuk berhati-hati dalam memilih gambar. Apakah orang yang gambarnya ditampilkan benar-benar dapat mewakili cerita? Apakah gambar-gambar itu menimbulkan kengerian yang luar biasa? Apakah orang yang gambarnya ditampilkan itu akan menjadi tertekan dan tersudutkan padahal dia tidak seharusnya menedapatkan tekanan demikian?

Barangkali kita dapat belajar dari tradisi suku Aborigin dalam hal ini. Orang Aborigin menghindari menyebut nama orang yang meninggal sampai satu tahun atau lebih. Ini dimaksudkan sebagai rasa hormat kepada yang meninggal, selain untuk menghindari rasa terluka pada keluarga yang ditinggalkan. Hal yang sama juga berlaku pada menampilkan foto, rekaman suara dan video orang yang meninggal.

4). Tidak Menghakimi

Ketika bencana terjadi, adalah manusiawi bila ada pertanyaan tentang apa penyebabnya, dan siapa yang bertanggung jawab. Namun, ketika menuliskan tentang hal ini, para wartawan selalu diwanti-wanti agar berhati-hati untuk menyalahkan siapa pun. Bila harus mengungkapkan hal ini, kutiplah mereka yang memiliki otoritas dan kompetensi dalam hal itu. Rujuklah studi atau referensi akademis yang sahih.

Sebagai contoh dalam sebuah peristiwa tabrakan, pastikan bila Anda menulis “mobil menabrak bus”, pastikan bahwa memang komentar benar-benar mobil tersebut menabrak bus. Bukan sebaliknya. Yang paling utama adalah menghindari  menyalahkan para korban. Contoh klasik yang sering terjadi ialah dalam peristiwa perkosaan. Kerap kali ada yang berkomentar, “siapa suruh dia pakai pakaian sexy.’ Ini adalah penghakiman yang sangat berat. Dan hal ini dapat terjadi pada saat bencana, termasuk pada bencana berjangkitnya virus Covid-19 ini.

Informasi tentang etiket ini adalah informasi publik. Telah banyak didiskusikan dan dibicarakan. Namun seringkali terlupakan. Semoga berguna.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*