Mahasiswa Indonesia Alami Pelecehan Rasial di AS Selama Masa Pandemi Covid 19, Diungkap oleh Media




Mahasiswa internasional di AS menghadapi keadaan yang lebih sulit di masa pandemi Covid 19 (DVC Inquirer)

JAKARTA, KalderaNews.com — Sebuah pengakuan mengejutkan dari beberapa mahasiswa asal Indonesia di Amerika Serikat diungkap oleh DVC Inquirer, sebuah media online yang dikelola oleh mahasiswa Diablo Valley College, California.

Para mahasiswa Indonesia itu mengaku mendapat pelecehan rasial dari seorang perempuan kulit putih yang membuat mereka ketakutan dan mengkhawatirkan aksi xenophobia yang meningkat serta ketidakpastian masa depan. Ini membuat sebagian dari mereka memutuskan akan kembali ke Indonesia.

“Saya merasa lelah dan dan tidak berdaya secara emosioal. Saya biasanya cukup kuat, tetapi pandemi ini secara langsung mempengaruhi masa depan dan kesehatan mental saya,” kata mahasiswi asal Indonesia yang sedang belajar komunikasi di DVC yang tak mau disebutkan namanya.

Sekitar dua minggu lalu, ia dan teman sekamar mahasiswa internasionalnya, dilecehkan oleh seorang wanita paruh baya berkulit putih ketika berjalan ke toko bahan makanan di Pleasant Hill.

Ia mengatakan wanita itu meneriakkan cemoohan rasial, yang secara khusus ditujukan kepada mereka karena mereka “terlihat seperti orang China.”

“Pada saat itu, kami sangat takut karena kami tidak tahu apakah dia juga akan menyakiti kami secara fisik. Kami berjalan begitu cepat,” kata Carissa kepada The DVC Inquirer yang menurunkan tulisan ini pada 2 Mei 2020.

Seorang alumni DVC lainnya yang saat ini sedang menyelesaikan studi untuk mendapat gelar sarjana di University of South Florida (USF), juga menyuarakan keprihatinan tentang peningkatan xenophobia dan diskriminasi terhadap mahasiswa internasional sejak mewabahnya Covid-19.

“Saat ini, tinggal di Bay Area sebagai mahasiswa internasional sangat sulit. Kami sekarang, lebih dari sebelumnya, harus menghadapi diskriminasi dan rasisme, ” akunya seperti dikutip dari artikel yang ditulis oleh Vania Prayogo, anggota staf DVC Inquirer,  dengan judul For International Students at DVC and Across America, the Coronavirus Presents A World of Crisis.

“Orang-orang akan menghina Anda dan berbicara tentang Anda di jalan, menuduh Anda membawa virus ke sini. Kami harus menghadapi semua kebencian ini dari orang tak dikenal dan anonim yang belum pernah kami temui sebelumnya. “

Ia menambahkan bahwa kekhawatirannya tentang xenophobia semakin meningkat ketika saudara perempuannya, yang juga tinggal di Bay Area, dilecehkan secara rasial ketika melakukan jogging cepat di Ocean Beach beberapa waktu setelah pemberitaan tentang pandemi Covid 19 meruyak.

Selain itu, ia juga menghadapi komplikasi dengan visanya saat mengepak tasnya untuk keluar dari perumahan mahasiswa di kampus USF. Karena pandemi, dia harus meninggalkan rencananya yang sudah disiapkan bertahun-tahun untuk bekerja di Amerika Serikat. Sebagai gantinya ia akan kembali ke negara asalnya segera setelah dia menyelesaikan gelar sarjana pada bulan Mei.

“Tidak mungkin untuk mendapatkan panggilan kembali (setelah wawancara kerja) di tengah pandemi ini, apalagi untuk disetujui mengikuti Pelatihan Praktik Opsional (Optional Practical Training),” yaitu kesempatan kerja sementara untuk pemegang visa F-1,” katanya.

OPT seyogyanya akan memberi waktu kepada Jesslyn satu tahun lagi tinggal di AS dan berpotensi mendapat izin kerja di masa depan. Namun sekarang rencana itu tidak sesuai lagi.

Pada saat yang sama, ia mengapresiasi respons USF yang cepat dan efektif terhadap pandemi ini memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan mahasiswa internasional seperti dirinya.

BACA JUGA:

Hal itu menurut dia memberi sedikit harapan. Lembaga ini dapat melakukan prosedur yang cepat dan terorganisir untuk mengatasi pandemi di dalam perumahan kampusnya, sambil memberikan dukungan yang diperlukan bagi mahasiswa untuk pindah serta mempercepat proses persetujuan visa perjalanan F1 untuk mahasiswa internasional yang ingin pulang ke negara asal.

Keadaan agak berbeda di Midwest. Seorang mahasiswi jurusan Antropologi berusia 19 tahun dari Indonesia, belajar di Wheaton College di Illinois; mengatakan dia tidak merasa seberuntung beberapa rekan mahasiswanya di California. Meskipun kampusnya diberi stereotip sebagai Harvard-nya perguruan tinggi Kristen, Wheaton di mata dia, tidak cepat dan tidak efektif dalam menanggapi darurat kesehatan global.

Ia dan teman-temannya yang tinggal di kampus mengatakan bahwa mereka diberitahu tentang penutupan kampus pada pertengahan Maret. Setelah pemberitahuan yang hanya satu minggu, Wheaton mendesaknya untuk segera pindah.

“Menyadari bahwa saya harus pergi (dari kampus) sangat menakutkan. Saya panik dan bingung, ” katanya

Selain mengeluarkan perintah dengan pemberitahuan sesingkat itu, Wheaton nyaris tidak memberikan bantuan atau dukungan bagi mahasiswa di kampusnya yang mencari perumahan dengan mendesak. Ia menambahkan bahwa beberapa rekannya harus mengemas tas mereka 3-4 kali untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semuanya sambil mengerjakan tugas kuliah.

Tak lama setelah berkemas, ia pindah ke rumah seorang teman di Morton, Illinois, dua setengah jam di selatan Chicago. Tapi keraguannya sejak itu semakin besar.

“Sekarang saya telah pindah, kecemasan terbesar saya adalah, ke mana saya harus pergi sekarang? Apa yang harus saya lakukan sekarang saat semester berakhir? Apakah bijaksana untuk pulang (ke Indonesia)? Tetapi jika saya pulang, saya mungkin akan tertular virus atau menularkan virus dan membunuh lebih banyak orang.” (SM)

Sumber: https://www.dvcinquirer.com/

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*