Pak Guru Dominique Traktir Muridnya Seusai Wisuda, dan Hal Luar Biasa Ini Terjadi

Pak Guru Dominique Moore mentraktir siswanya yang wisudanya tak dihadiri orang tua maupun keluarganya. (Facebook)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com — Acara wisuda siswa SMA itu baru saja usai. Pak Guru Dominique Moore yang menjadi koordinator acara bermaksud ikut beres-beres membersihkan tempat diselenggarakannya wisuda. Tempat itu sudah nyaris kosong.

Namun, ia mendapati salah seorang siswa masih tetap duduk di tempat acara. Siswa itu sendirian.

Pak Guru Dom, demikian ia dipanggil, kemudian bertanya kepada anak itu, dimana teman-temannya yang lain. Dan ia mendapat jawaban, bahwa tidak ada lagi orang lain di sana selain siswa yang ditemuinya.

Pak Guru Dom tahu bahwa siswa-siswa lainnya sudah pulang dijemput oleh orang tua maupun keluarganya masing-masing. Namun, Pak Guru Dom tidak tega untuk menanyakan siswa di hadapannya mengapa orang tua atau keluarganya tidak datang di saat hari wisudanya.

BACA JUGA:

Oleh karena itu, Pak Guru Dom menawarkan tumpangan kepada sang siswa, agar pulang bersamanya dengan kendaraannya. Dan sebelum mereka tiba di rumah, Pak Guru Dom membawanya ke sebuah restoran Cheescake Factory dan mentraktir siswa yang ‘malang’ itu.

.Sekali lagi, pada saat makan Pak Guru Dom sama sekali tak mau bertanya mengapa keluarga sang siswa tak hadir pada acara wisudanya. Yang penting, Pak Guru Dom senang bahwa muridnya merasa mendapat apresiasi dengan pencapaiannya, lulus dari SMA.

“Saya tahu bagaimana perasaannya, dan saya tahu, bukan hanya dia yang mengalami seperti ini,” kata Pak Guru Dom, kepada AL.com, dikutip dari goodnewsnetwork.org.

Peristiwa ini terjadi pada pada 25 Juni 2020 lalu. Pak Guru Dom adalah guru di SMA Bessemer City high School di Alabama sedangkan murid yang ditemuinya, yang tidak disebutkan namanya, adalah siswa sekolah tersebut.

Pak Guru Dom membawa murid yang ditraktirnya membuka rekening bank agar dapat menampung donasi dari para donatur. (Facebook)

Sore harinya, Pak Guru Dom menceritakan pengalamannya ini di akun Facebooknya. Dia mengatakan, tidak biasanya ia memposting kisah seperti ini karena hal semacam ini sangat biasa ia hadapi dalam profesinya sebagai guru. Namun, kata dia, ada sesuatu dari dalam hatinya yang mendorongnya ingin menceritakannya.

Dia juga mencantumkan aplikasi dompet digital miliknya, tempat teman-teman FB-nya dapat menyumbangkan sesuatu kepada sang murid, apabila tergerak untuk membantu.

Tak berapa lama, sejumlah orang yang murah hati — sebagian besar bahkan tak dikenal oleh Pak Guru Dom — menyumbangkan uang mereka. Lebih dari US$5.000 terkumpul dalam waktu tidak terlalu lama.

Pak Guru Dom kemudian membawa siswa tersebut membuka rekening bank untuk menampung sumbangan dana. Uang tersebut akan dipergunakan untuk membeli mobil untuk sang siswa, dan sisanya akan dipersiapkan buat uang kuliahnya nanti.

Salah seorang donatur, bernama Chip Dillard, mengatakan dia secara sukarela akan membimbing sang murid. “Saya seorang pensiunan dan saya dengan sukarela akan membimbingnya 20 jam seminggu,” kata dia.

Pak Guru Dom merasa bersyukur bahwa banyak orang tergerak untuk membantu murid yang kesepian tersebut.

“Saya merasa takjub, begitu banyak orang yang memberi berkat padanya dengan cara masing-masing,” kata Pak Guru Dom, sembilan hari setelah kejadian tersebut, dan jumlah donasi bertambah banyak.

“Dia telah mendapatkan dana yang lebih besar lagi sehingga dia sekarang mendapat bantuan dari penasihat keuangan,” kata Pak Guru Dom tentang murid yang ditolongnya tersebut.

Pak Guru Dom berharap kisah ini akan mengingatkan banyak orang bahwa adalah sangat penting memberikan harapan kepada mereka yang sedang dalam pergumulan hidup.

“Kita memperlakukan manusia dan kehidupan sebagai anugerah. Bahkan ketika kita sedang dalam kesulitan, kejadian ini menunjukkan bahwa kemanusiaan itu baik,” kata dia.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*