Kisah Bu Tejo, Tante April dan Om Batman

Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.
Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com — Manusia sering membuat dikotomi. Awalnya mungkin sebagai alat menganalisis untuk mengontraskan sesuatu demi menemukan solusi. Tapi lama-lama menjadi kebiasaan. Maka kita sering membuat pengelompokan-pengelompokan atau pengkategorian yang bersifat dikotomis.

Misalnya, melihat cara berbeda orang dalam menikmati bubur ayam, maka kita memberi cap kelompok bubur diaduk kepada mereka yang memakan bubur dengan terlebih dahulu mengaduknya, dan kelompok bubur tidak diaduk bagi mereka yang memakan bubur dengan tanpa mengaduknya.

Dikotomi semacam itu  dapat saja  sekadar lucu-lucuan di ajang reuni atau kongkow-kongkow. Suatu cara untuk membagi peserta menjadi dua kelompok. Tetapi tidak jarang pula dikotomi tersebut menjadi sangat serius, menciptakan geng-geng-an yang seru. Berkepanjangan hingga ke anak-cucu.

Ada banyak dikotomi yang secara sadar atau tidak kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia pendidikan, misalnya, kita sering mendengar dikotomi antara guru tetap dan guru honorer. Di berbagai instansi, kerap juga ada dikotomi antara mereka yang diterima lewat jalur sekolah kedinasan dan nonkedinasan. Dikotomi juga dapat kita temui ketika mengantre di bank: apakah kamu nasabah VIP atau nasabah biasa belaka?. Jalurnya berbeda.

Dalam menikmati dan memahami karya sastra, kerap juga kita dihadapkan pada pertanyaan dikotomis: mana yang menurut kamu benar: realitas yang menginspirasi karya fiksi atau fiksi yang menginspirasi realitas? Apakah realitas yang kita hadapi sesungguhnya sudah pernah ada di alam fiksi, atau sebaliknya, semua cerita fiksi sesungguhnya pantulan dari realitas?

Tante April dan Om Batman

Tersebutlah April O Quinn, penduduk kota Richmond di Virginia, Amerika Serikat. Sehari-hari April bekerja sebagai pekerja medis di Richmond Ambulance Authority (RAA).

BACA JUGA:

Beberapa waktu lalu April terinfeksi COVID-19. Ia mendapat perawatan cukup lama untuk kemudian sembuh kembali.

“Masalah paru-paru merupakan yang paling buruk saya hadapi. Saya tidak dapat berbaring. Saya harus duduk. Saya terpaksa tidur dengan posisi duduk,” kata April, menceritakan yang ia alami ketika sakit kepada saluran televisi 6 News Richmond.

Apa yang membuat ia menjadi ‘hero’ di mata keponakannya, adalah tekadnya untuk kembali bekerja setelah pulih. April tidak takut apalagi trauma untuk berada di antara para pasien-pasien COVID-19 sebagai pekerja medis.

April O Quinn dalam realitas (kiri) dan dalam dunia boneka (kanan) (wtvr.com)

Sang keponakan yang bernama Lacey, begitu kagumnya kepada tantenya sehingga menceritakannya kemana-mana. Lacey yang masih duduk di sekolah dasar itu, menjadikan sang Tante sebagai role model karena keberanian dan kepeduliannya.

Ketika sebuah kontes bertema “Heroes with Heart” yang diselenggarakan oleh American Girl Doll diadakan,  Lacey tak menyia-nyiakannya. Kontes itu dia jadikan momen untuk menceritakan keistimewaan sang Tante. Ia menominasikan Tante April sebagai tokoh panutan di tengah COVID-19. Lacey mengirimkan surat kepada Mattel, perusahaan yang menjadi penyelenggara kontes itu, menceritakan kepahlawanan sang Tante.

Ada ribuan surat nominasi yang diterima Mattel dalam kontes ini. Dari ribuan itu terpilih lima pemenang, salah satunya adalah surat Lacey, yang menominasikan Tante April. Mattel memilih Lacey sebagai pemenang karena sang tante yang ia nominasikan dianggap  sebagai contoh pahlawan di garis depan dalam menghadapi COVID-19, yang mempertaruhkan nyawa untuk membantu orang lain.

“Saya beruntung karena saya hanya mengalami persoalan kesehatan minor dan saya dapat segera bekerja,” kata April.

“Saya senang kembali ke sana, membantu orang-orang, dan kembali bekerja dalam gelap,” lanjut April.

Apa hadiah bagi Lacey atas prakarsanya mengajukan Tante April sebagai pahlawan? Ia menerima hadiah yang setara dengan uang sebesar US$250. Namun bukan itu yang terpenting. Tante April kemudian dijadikan salah satu model boneka produksi Mattel, lengkap dengan seragamnya sebagai pekerja medis ambulans. Tante April tak lagi hanya ditemukan dalam realitas tapi di alam fantasi anak-anak lewat boneka-boneka produksi Mattel.

Bila kembali kepada pertanyaan dikotomis tadi, kisah ini menunjukkan realitas menginspirasi dunia fiksi. Realitas kepahlawanan Tante April mengejawantah pada tokoh-tokoh fiksi berupa  para boneka, yang diharapkan akan menghasilkan fantasi positif bagi anak-anak yang memainkannya.

Tapi kisah Tante April baru setengah cerita. Ada cerita lain dari kota Santiago, Cile.

Tiba-tiba saja di kota itu hadir tokoh dari dunia fiksi, Batman, mengendarai SUV di jalan raya. Namun bila di dunia film, Batman berjuang melawan kejahatan di kota Gotham, Batman di Santiago berjuang menghilangkan kelaparan dari orang-orang miskin di kalangan tunawisma.

Batman membagi-bagikan makanan di jalanan Santiago (The Indian Express)

Dengan mengendarai mobilnya yang diisi penuh dengan paket-paket makanan, Batman berkeliling menemui para orang-orang berkekurangan. Ia membagi-bagikan makanan kepada mereka.

Santiago sempat di-lockdown pada masa puncak Pandemi COVID-19. Para tunawisma itu merupakan lapisan masyarakat yang paling terpukul. Dan, itulah yang dilihat oleh sang Batman. Ia menolong mereka, bukan saja dengan menghilangkan rasa lapar mereka, tetapi juga dengan menyentuh hati mereka dan menghibur mereka. Dengan busana Batman yang dikenakannya, ia menciptakan suasana ceria dan rasa solidaritas bersama di antara orang-orang yang merasa tertekan di masa Pandemi COVID-19.

“Lihatlah sekitar Anda, carilah sesuatu yang mungkin Anda dedikasikan, apakah itu sedikit waktumu, makanan, tumpangan, atau bahkan kata-kata penyemangat yang mungkin mereka butuhkan,” kata Batman kepada Reuters.

Sampai sekarang, Batman di Santiago itu tak mau membuka identitasnya. Ia tetap menjadi tokoh anonim. Namun jelaslah cerita ini menunjukkan bahwa kisah fiksi menginspirasi realitas. Tokoh Batman yang berawal dari kisah fiksi, menjadi nyata lewat aksinya.

Maka tatkala beberapa hari belakangan ini tokoh Bu Tejo di film Tilik demikian ramai menjadi perbincangan, mungkin kita tidak perlu lagi kebingungan untuk menjawab pertanyaan: apakah Bu Tejo adalah tokoh fiksi yang merupakan pantulan dari realitas, atau sebaliknya, kisah Bu Tejo dalam cerita fiksi itu akan menjadi realitas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada lagi dikotomi.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan. Buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), The Beautiful Sarimatondang (2020), Perempuan-perempuan Batak yang Perkasa (2020) dan Kerupuk Kampung untuk Gadis Berkacamata Bill Gates (2020).

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*