Setelah Beroperasi 181 Tahun Universitas Ini Akhirnya Tutup karena Kesulitan Keuangan

Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com —  Semakin banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat mengakhiri operasinya karena kesulitan keuangan.

Yang terbaru adalah  Iowa Wesleyan University (IWU) yang mengumumkan penutupannya pada Selasa, 28 Maret lalu.

Pernyataan pers universitas berusia 181 tahun itu mengemukakan empat alasan utama penutupan.

Pertama, meningkatnya biaya.

Kedua, berubahnya tren penerimaan mahasiswa baru.

Ketiga, berkurangnya perolehan dari pengumpulan dana.

Dan keempat, penolakan pemerintah untuk membantu.

Keputusan untuk menghentikan operasi dicapai lewat keputusan bulat oleh wali amanat universitas. Meskipun demikian, dalam siaran persnya, pihak IWU mengatakan penutupan sesunguhnya dapat dihindari apabila pemerintah negara bagian sudi menyetujui permintaan bantuan dana mereka sebesar US$12 juta sebagai  bagian dari American Rescue Plan Act.

BACA JUGA:

Februari lalu IWU bersama dengan  Graceland University, Upper Iowa University dan William Penn University mengajukan permohonan bantuan keuangan masing-masing sebesar US$12 juta melalui skema American Rescue Plan Act.

Sementara permohonan universitas lainnya sampai saat ini masih dalam proses, IWU  tidak berhasil meyakinkan pemerintah.

Kantor Gubernur Negara Bagian Iowa dalam merespons pernyataan pers IWU, mengatakan keputusan sulit harus diambil dengan menolak permintaan IWU. Keputusan diambil setelah asesemen dari lembaga independen terhadap kondisi keuangan IWU mengungkapkan  terdapat masalah keuangan sistemik yang tidak akan teratasi dengan suntikan keuangan.

“Untuk lebih memahami permintaan mereka dan kesehatan keuangan universitas, kantor saya melibatkan kantor akuntan pihak ketiga yang independen untuk melakukan uji tuntas,” demikian siaran pers Kim Reynolds, gubernur negara bagian Iowa.

“Kantor akuntan tersebut melaporkan bahwa IWU memiliki pinjaman US$26,1 juta dari USDA, menggunakan kampus mereka sebagai jaminan, yang dapat disita sepenuhnya pada November 2023,” kata Reynolds.

“Selain itu, auditor IWU mengutip kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang kesehatan fiskal universitas, menyatakan ‘kerugian operasional yang signifikan dan berkurangnya likuiditas meningkatkan keraguan substansial tentang kemampuannya untuk melanjutkan kelangsungan usahanya.’ Akuntan juga menyoroti bahwa sementara pendaftaran di IWU telah berkembang  selama tiga tahun terakhir, kesehatan keuangan mereka terus memburuk selama periode yang sama.”

Berdasarkan hasil asesemen tersebut, kantor gubernur akhirnya menyimpulkan bahwa, berdasarkan analisis firma akuntansi, “dana federal tidak akan menyelesaikan masalah keuangan sistemik yang mengganggu universitas.”

Reynolds menambahkan bahwa jika negara bagian  “menyediakan dana federal seperti yang diminta dan itu digunakan untuk membiayai utang atau penggunaan lain yang tidak diizinkan menurut pedoman Departemen Keuangan AS, negara bagian dan pembayar pajak dapat bertanggung jawab atas pembayaran potensial kepada pemerintah federal.”

Pihak universitas mengatakan tekanan inflasi telah mendorong meningkatnya biaya yang harus ditanggung.

Selain itu berkurangnya pendaftar masuk ke perguruan tinggi yang telah menjadi tren nasional memperparah kondisi keuangan. Selanjutnya berkurangnya dana dari donatur melengkapi kesulitan yang dihadapi.

Saat ini jumlah mahasiswa IWU tercatat sebesar 858 orang. Mereka harus mencari universitas yang dapat menampung mereka setelah universitas itu berhenti beroperasi Mei nanti.

Gelombang Kesulitan Keuangan

Penutupan IWU memperjelas sinyal gelombang kesulitan yang dihadapi berbagai universitas di AS. Desember lalu Cazenovia College, di Cazenovia, New York, mengumumkan akan berhenti beroperasi setelah berdiri  200 tahun.

Cazenovia gagal membayar utang jatuh tempo sebesar  US$25 juta Oktober lalu. Salah satu  penyebabnya adalah penurunan mahasiswa baru dalam lima tahun terakhir hingga 40 persen.

Tahun lalu Holy Names University di Oakland, California juga mengumumkan akan menutup operasinya tahun ini setelah 154 tahun berdiri. Alasannya hampir mirip, yaitu naiknya biaya operasi dan turunnya jumlah mahasiswa baru.

Di Alabama, Birmingham-Southern College yang berdiri tahun 1856 terpaksa memohon bantuan pemerintah sebesar US$37,5 juta agar tetap bertahan.

Juni tahun lalu New Jersey City University (NJCU) menutup  48 program studi S1 untuk mengurangi biaya operasi. Sama halnya dengan Henderson State University, sebuah universitas negeri di Arkansas yang menutup belasan program dan mengurangi jumlah staf demi menghemat biaya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*