SALATIGA, KalderaNews.com – Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Scientiarum (SA), merilis opini tajam berjudul “UKSW dan Cermin Sejarah yang Retak”, menyoroti kembalinya konflik internal yang mengancam integritas akademik kampus.
Penulis opini ini, seorang alumni yang kini menjadi kandidat doktor di University of Melbourne, IPTAS, mengungkapkan kegelisahan mendalamnya melihat pola lama perpecahan dan pembungkaman demokrasi kembali berulang dalam pemilihan rektor periode 2022-2027.
Bagi IPTAS, memilih UKSW adalah mencari ruang untuk tumbuh kritis dan mandiri, terinspirasi oleh para intelektual berani yang pernah ada di sana, termasuk Prof. Arief Budiman.
BACA JUGA:
- Konflik UKSW Kian Memanas, Mulai Muncul Desakan Pembekuan Dewan Pembina Yayasan dan Pergantian Rektor
- Sikapi Konflik dan Krisis Internal yang Berkepanjangan, UKSW Kedepankan Dialog Gerejawi
- Krisis UKSW Makin Memuncak, Dialog “Satya Wacana Berdialog” Gagal Redakan Konflik, Mahasiswa Lakukan Mosi Tidak Percaya ke Rektor
Namun, ironisnya, nama yang menjadi lambang kepercayaan ini justru terkadang ingin dilupakan di internal kampus. Sebagai alumni angkatan 2000, IPTAS adalah pewaris krisis 1993, sebuah peristiwa traumatis yang ia saksikan dampaknya dan pelajari langsung dari mentornya, Prof. Arief Budiman.
Kini, setelah tiga dekade, pola yang sama kembali muncul, memicu kekhawatiran bahwa sejarah buruk akan terulang.
Krisis saat ini berpusat pada pemilihan rektor 2022, di mana Yayasan Pendidikan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) dituding mengabaikan proses demokrasi transparan, mirip dengan konflik 1993.
Kala itu, penunjukan rektor oleh YPTKSW mengabaikan suara Senat, berujung pada penolakan, mosi tidak percaya, pemecatan, dan pengunduran diri puluhan dosen.
Kampus berubah menjadi medan pertarungan ideologis yang merusak reputasi akademik dan kebebasan berpikir, serta meninggalkan luka yang belum sembuh hingga kini.
Meskipun prosedur pemilihan rektor 2022 yang mengukuhkan Prof. Intiyas Utami diklaim sah, gelombang kontroversi menyertainya.
Isu dugaan dokumen tidak sesuai hingga laporan pidana menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap integritas akademik.
Pasca pelantikan, suasana kampus berubah, ruang diskusi terbatas, kritik dibungkam, dan dialog terkesan dihindari, memperlebar jurang antara yayasan dan komunitas akademik.
Ironisnya, kelompok yang dulu memenangkan pertarungan politik pada 1993 kini berada di posisi yang berbeda, bahkan kalah pada 2022. Ini menunjukkan hukum sebab-akibat, namun juga keprihatinan bahwa UKSW gagal belajar dari sejarahnya.
IPTAS berpendapat, pergantian peran ini seharusnya menjadi refleksi mendalam, mempertanyakan apakah kekuasaan telah menjadi tujuan akhir, melupakan peran sejatinya membangun komunitas akademik yang beretika.
Krisis ini terasa familiar karena pola intervensi yang sama: keputusan sepihak YPTKSW atas kewenangan Senat, diikuti reaksi berupa gugatan dan tekanan.
Bedanya, krisis 1994 terjadi di era Orde Baru yang represif, sementara kini terjadi di era demokrasi yang justru terlihat ragu menjalankan nilai-nilainya.
IPTAS memperingatkan, krisis besar seringkali dimulai dari luka kecil yang diabaikan. Ketika otoritarianisme dibiarkan, diskusi dibungkam, dan kritikus disingkirkan tanpa protes, itulah awal kehancuran.
Jika ini terus berlanjut, mahasiswa akan menjadi korban, kehilangan inspirasi, dan iklim belajar yang kritis akan berubah menjadi ketegangan.
Reputasi UKSW pun akan merosot. Yang paling menyedihkan, sejarah tampaknya tidak berhasil mengajarkan apa pun karena tidak ada mekanisme penyembuhan dan rekonsiliasi pasca-krisis 1994.
Pihak yang tersingkir dibiarkan, pihak yang menang tidak membangun tradisi evaluasi diri. Kini, ketika peran berbalik, pola sikap yang muncul tetap sama.
IPTAS menegaskan, melalui tulisan itu bukan untuk menyerang atau membela pihak tertentu, melainkan sebagai cermin dari seorang alumni yang peduli.
Ia mengingatkan bahwa UKSW pernah terluka dalam, dan masih ada waktu untuk mencegah agar krisis ini tidak berkembang sebesar krisis 1994.
Namun, ini hanya bisa terjadi jika semua pihak — YPTKSW, rektorat, senat, dosen, mahasiswa, dan alumni — bersedia membuka ruang dialog tulus untuk menyusun kembali komitmen pada nilai-nilai dasar universitas: demokrasi, integritas, kebebasan akademik, dan pelayanan sosial.
UKSW bukan milik satu kelompok, melainkan rumah bersama tempat bertumbuh. Jika gagal belajar dari masa lalu, masa depan hanya akan menjadi salinan suram yang tidak membawa kemajuan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply