
MALANG, KalderaNews.com – Sebuah video mengejutkan yang memperlihatkan seorang santri sekolah dasar (SD) dicambuk oleh kiai pemilik pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini telah menyebar luas di media sosial.
Aksi kekerasan ini menyebabkan korban menderita luka melepuh di kedua kakinya.
Insiden tersebut terjadi di sebuah ponpes yang berlokasi di Jalan Ardimulyo, Desa Segaran, Kecamatan Pakisaji, Malang.
BACA JUGA:
- Punya Banyak Anak itu Hak Setiap Orang, Tapi Jangan Abaikan Hak Dasar Anak Seperti Pendidikan
- Heboh! Dua Remaja di Depok Viral Bully Teman Sambil Live Instagram, Orang Tua Korban Lapor Polisi
- Heboh! Viral Oknum Guru SMAN 4 Serang Diduga Lecehkan Siswi, Polisi Turun Tangan
Dalam rekaman video, terlihat jelas seorang santri yang mengenakan jaket biru dan sarung dicambuk sebanyak lima kali menggunakan rotan oleh seorang pria bergamis cokelat.
Video itu direkam dari lantai dua ponpes dan diduga diambil oleh santri lain. Pelaku, yang diidentifikasi sebagai pemilik ponpes berinisial B, terlihat memerintahkan korban untuk mengangkat sarungnya sebelum melakukan cambukan.
Akibat kekerasan tersebut, kaki kiri dan kanan korban tampak memar, dengan luka paling parah berada di kaki kanan yang kulitnya melepuh dan terkelupas.
Kanit PPA Satreskrim Polres Malang, Aiptu Nurlehana, membenarkan kejadian ini. Ia menjelaskan bahwa peristiwa pencambukan terjadi pada 5 Juni 2025 lalu, namun baru dilaporkan dua minggu kemudian, tepatnya pada 20 Juni 2025.
Korban diketahui berinisial AZ, seorang siswa kelas 5 SD yang tinggal di pondok tersebut dan berasal dari Wonosari, Kabupaten Malang.
Menurut hasil penyelidikan awal, tindakan pencambukan ini merupakan bentuk hukuman atas pelanggaran aturan pondok.
“Terduga pelaku ini pemilik ponpes. Memang kalau dari keterangan, cambuk itu bagian dari aturan tertulis di ponpes, jika ada pelanggaran yang dilakukan santri,” kata Nurlehana.
Meskipun demikian, pihak kepolisian tetap mendalami unsur kekerasan dalam tindakan tersebut, mengingat korban mengalami luka serius yang terekam jelas dalam video. Polisi telah memeriksa korban dan terduga pelaku, serta mengamankan bukti video yang pertama kali diterima dari pengacara korban.
Nurlehana menambahkan bahwa ia tidak mengetahui bagaimana video tersebut bisa menjadi viral. Ia mengaku mendapatkan video tersebut dari pengacara korban, dan baru mengetahui viralitasnya setelah pemeriksaan korban dan saksi dilakukan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply