
Ketua BEM FH UBK mengakui menerima Rp20 juta usai audiensi dengan Gibran Rakabuming. Pengakuan tersebut memicu polemik di internal kampus.
JAKARTA, KalderaNews.com– Polemik dugaan pemberian uang kepada sejumlah mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) usai pertemuan dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, terus menjadi sorotan publik.
Isu tersebut tidak hanya memicu perdebatan di media sosial, tetapi juga menimbulkan gejolak di lingkungan internal kampus.
Perhatian publik mengarah kepada Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) setelah beredar informasi bahwa salah satu mahasiswanya diduga menerima sejumlah uang setelah menghadiri agenda dialog dengan Gibran di Istana Wakil Presiden beberapa waktu lalu.
BACA JUGA:
- Teka-Teki Perlakuan Istana, Aksi BEM UI vs UBK-MH Thamrin, UI Pilih Absen?
- Demo Hari Ini, Giliran BEM UBK, Unpam Hingga UMJ Turun ke Jalan
- Kehilangan Taji Kritis: Ormas Keagamaan, Kampus dan Media Diperalat Penguasa?
Ketua BEM FH UBK akui terima uang Rp 20 juta
Akibat mencuatnya isu tersebut, jajaran pengurus BEM FH UBK mendapat tuntutan untuk memberikan klarifikasi dan pertanggungjawaban, baik dari pihak birokrasi kampus maupun sesama mahasiswa.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memulihkan nama baik universitas yang ikut terseret dalam polemik.
Dalam proses klarifikasi yang dilakukan sesama mahasiswa UBK, sejumlah pengurus BEM dimintai keterangan secara terbuka. Bahkan, proses interogasi dan konfrontasi tersebut sempat disiarkan langsung melalui platform TikTok.
Dalam salah satu video yang beredar, Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdi Maludin, menyampaikan permintaan maaf kepada mahasiswa.
“Saya ngaku salah dan mohon maaf kepada kalian semua,” ujar Abdi dalam potongan video yang viral di media sosial.
Salah seorang mahasiswa yang hadir dalam forum tersebut kemudian mempertanyakan bentuk tanggung jawab yang akan dilakukan oleh pengurus BEM.
“Langkah apa yang akan kamu pertanggungjawabkan untuk balikin nama UBK?” tanya seorang mahasiswa dalam forum klarifikasi tersebut.
Polemik semakin memanas setelah Abdi mengakui menerima uang sebesar Rp20 juta. Pengakuan tersebut disampaikan dalam forum yang disebut sebagai Pengadilan Terbuka pada Senin malam, 22 Juni 2026.
“Saya, Ketua BEM FH, mengakui menerima uang Rp20 juta dari pihak kepolisian,” ujarnya.
Dana dibagi-bagikan ke beberapa pihak
Menurut pengakuannya, dana tersebut kemudian dibagikan kepada beberapa pihak yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut dua orang senior masing-masing menerima Rp2,5 juta, Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebesar Rp2 juta, Wakil Ketua BEM Fakultas Hukum Rp2,5 juta, serta seseorang bernama Mubarak sebesar Rp2,5 juta.
Selain itu, terdapat alokasi dana untuk kebutuhan konsolidasi sebesar Rp300 ribu serta sejumlah pengeluaran lain yang tidak dijelaskan secara rinci.
Sebelumnya, dalam forum pengakuan yang beredar di media sosial, sejumlah pengurus BEM juga mengaku menerima dana dengan nominal bervariasi, berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per orang.
Saat menghadiri audiensi dengan Gibran, Abdi diketahui menjadi bagian dari rombongan yang terdiri dari 15 delegasi mahasiswa.
Kasus ini berawal dari aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Senin, 15 Juni 2026. Setelah aksi berlangsung, Gibran mengundang 15 perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus untuk berdialog secara langsung di Istana Wakil Presiden.
Delegasi tersebut berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Bung Karno (UBK), Universitas Terbuka, dan Universitas MH Thamrin.
Sekitar pukul 17.25 WIB, koordinator lapangan mengumumkan kepada massa aksi bahwa perwakilan mahasiswa mendapat kesempatan untuk bertemu dan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Wakil Presiden.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply