Kecurangan OSN Kabupaten/Kota 2025, Ternyata Sudah Ada Buktinya Lho!

Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2024 jenjang SMA sederajat. (dok.puspresnas)
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2024 jenjang SMA sederajat. (dok.puspresnas)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Ada dugaan kecurangan dalam OSN tingkat kabupaten/kota 2025. Muncul gerakan KawalOSN! Begini penjelasannya!

Salah satu penggagas gerakan ini adalah pakar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) Ainun Najib, alumnus OSN 2001 yang kini menetap di Singapura.

Ainun menegaskan, OSN-K sejatinya dirancang untuk menemukan serta mengembangkan talenta sains terbaik di Indonesia dengan menjunjung tinggi prinsip meritokrasi.

BACA JUGA:

Kecurangan bukan sekadar dugaan, sudah ada bukti

“Dasar OSN-K adalah menyaring dan mengembangkan potensi siswa terbaik Indonesia di bidang sains, sekaligus menjaga kredibilitas seleksi nasional berbasis meritokrasi,” ujar Ainun.

Ia memaparkan, untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan soal yang mampu mengukur kemampuan autentik peserta, bukan hanya menilai dari hasil akhir.

Selain itu, proses seleksi harus adil, terstandar, dan bebas manipulasi.

“Kita memerlukan sistem yang bisa mendeteksi dan mengurangi potensi kecurangan,” tambahnya.

Namun, Ainun melihat ada sejumlah kendala yang menghambat, salah satunya desain sistem OSN-K berbasis daring yang dinilai terlalu longgar, sehingga peserta bisa mengerjakan soal dari lokasi mana saja tanpa pengawasan ketat.

“Soal sekarang bisa dijawab dengan akurasi tinggi tanpa harus memahami materinya secara mendalam. Ini membuka peluang bagi siswa, guru, serta sekolah untuk melakukan kecurangan demi lolos,” kata Ainun.

Kata Ainun, kecurangan pada OSN-K bukan lagi sekadar dugaan.

“Sebetulnya sudah terbukti. Tapi, siapa saja yang curang itu enggak semuanya kita punya bukti,” ujarnya.

Soal OSN dijawab pakai AI

Ainun menyebut, di platform StudyX.ai terlihat foto-foto soal yang dikirimkan peserta OSN-K, terutama jenjang SMA untuk dijawab dengan AI.

Selain itu, ada bukti video penggunaan smartphone dan tidak adanya pengawasan yang ketat dalam pelaksanaan OSN-K.

“Dengan bangga ada yang posting di medsos video temen-temennya lagi ngerjain OSN, terus dia pake HP. Semuanya juga terlihat di meja ada HP di situ. Berarti semua peserta dengan mudah bisa memfoto dan upload ke platform AI. Jadi tidak ada pengawasan yang ketat terus pesertanya malah keliling-keliling bikin video gitu,” papar Ainun.

“Jujur itu Juara”?

Ainun khawatir, jika dugaan kecurangan pada OSN tingkat kabupaten/kota (OSN-K) 2025 tidak segera ditindaklanjuti Puspresnas atau BPTI.

Tanpa langkah tegas, kepercayaan publik terhadap ajang sains bergengsi di Indonesia berpotensi runtuh.

Jika dibiarkan, OSN yang selama ini menjadi simbol prestasi akademik tertinggi di Indonesia terancam berubah menjadi ajang manipulasi.

Kondisi ini juga dikhawatirkan memukul motivasi siswa-siswa unggulan yang merasa proses seleksi berjalan tidak adil. Lebih jauh, ada risiko pergeseran moral di kalangan pelajar.

“Para murid bisa saja menganggap kecurangan sebagai jalan sah untuk meraih prestasi,” katanya.

Maka, Ainun berpendapat, perlu dilakukan pembenahan untuk memastikan seleksi kembali berjalan adil, visioner, dan tahan menghadapi tantangan zaman, termasuk era kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

“Sains tidak akan lahir dari kepintaran memanipulasi sistem, tapi dari integritas dalam berpikir dan berkompetisi,” tegasnya.

Ainun pun menyatakan Puspresnas punya slogan “Jujur Itu Juara”.

“Kami ingin menagih itu. Kami itu prihatin dengan anak-anak yang digeser dengan kecurangan ini. Jadi kita ingin memperjuangkan keadilan untuk anak-anak ini,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*