
DENPASAR, KalderaNews.com- Sosok Timothy Anugerah Saputra atau yang akrab disapa TAS yang meninggal dunia karena bunuh diri mendapatkan sorotan di media sosial.
Ia diketahui merupakan mahasiswa semester tujuh di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, Program Studi Sosiologi.
Timothy dikenal luas sebagai sosok yang sopan, rendah hati, dan memiliki kepribadian menyenangkan oleh teman-temannya di kampus maupun sekolah lamanya.
Timothy mengembuskan napas terakhir pada Rabu (15/10) di RSUP Prof Ngoerah, Bali. Berdasarkan laporan, ia diduga mengalami gangguan kesehatan mental dan mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai 4 gedung FISIP.
BACA JUGA:
- Seorang Mahasiswa Unud Ditemukan Tewas Usai Terjatuh dari Gedung Lantai 2 Kampus
- Mahasiswa Unud yang Tewas Lompat dari Gedung FISIP Ternyata Korban Bullying, Grup WA Mahasiswa Malah Ejek Korban
- Usai Kematian TAS Akibat Bunuh Diri, 6 Mahasiswa Unud Minta Maaf Atas Perundungan di Grup WhatsApp
Sosok Mahasiswa yang Baik dan Rendah Hati
Beberapa rekan Timothy kemudian membagikan video perkenalan dirinya semasa kuliah yang beredar di media sosial.
Dalam unggahan itu, muncul berbagai komentar dari guru, dosen, hingga teman sekolah yang mengenang TAS sebagai mahasiswa berkepribadian baik dan penuh empati.
Selain aktif di bidang akademik, Timothy juga dikenal sebagai sosialis muda yang tergabung dalam organisasi Front Muda Revolusioner. Dalam unggahan obituari di media sosial organisasi tersebut tertulis,
“Timothy adalah pribadi yang lembut, rendah hati, dan selalu berpikir positif. Namun ketika membela ide-ide revolusioner sosialisme, ia menjadi sosok yang paling tegas.”
Wakil Dekan III FISIP Universitas Udayana, I Made Anom Wiranata, menyampaikan bahwa Timothy telah menghadapi masalah kesehatan mental sejak masih duduk di bangku SMP.
Dalam penjelasannya melalui akun resmi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP Unud, ia mengatakan,
“Saudara T ini, menurut penuturan ibunya, memiliki masalah kesehatan mental. Sejak SMP, saudara T mendapatkan penanganan medis dari konselor, ada terapinya. Lalu sampai dengan SMA, yang bersangkutan menolak untuk mendapat terapi lanjutan ketika masuk ke Udayana. Kami tidak mengetahui penyebabnya, tetapi itu yang terjadi,” ungkap Anom.
Perundungan Pada Timothy Terjadi Setelah Meninggal
Kabar duka tersebut semakin menyita perhatian publik setelah muncul tangkapan layar percakapan dari sejumlah mahasiswa Universitas Udayana yang memperlihatkan sikap nir-empati terhadap mendiang.
Dalam percakapan itu, beberapa mahasiswa dari FISIP, FKP, dan Kedokteran tampak menertawakan tragedi yang menimpa Timothy, bahkan menyamakan foto almarhum dengan konten kreator Kekeyi.
Aksi perundungan tersebut menuai kecaman luas dari kalangan mahasiswa Unud dan warganet. Mereka menilai tindakan itu sangat tidak berperasaan dan melanggar nilai kemanusiaan.
Menanggapi hal tersebut, pihak Universitas Udayana memberikan klarifikasi bahwa percakapan yang beredar di media sosial terjadi setelah peristiwa meninggalnya almarhum, bukan sebelumnya.
Pihak kampus menegaskan akan menindak tegas segala bentuk perundungan dan ucapan nir-empati yang tidak sesuai dengan nilai akademik yang dijunjung tinggi universitas.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply