
PASURUAN, KalderaNews.com – Nur Aini, guru yang viral di media sosial setelah mengeluhkan jarak tempuh mengajar sejauh 57 kilometer, kini hadapi sanksi berat.
Setelah terancam sanksi berat atas dugaan pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), Nur Aini secara terbuka berharap Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, berkenan memberikan kebijaksanaan.
“Saya bingung, Pak, apalagi yang mau diupayakan. Pasrah, sabar, dan semoga ada kebijaksanaan dari Pak Bupati,” ujar Nur Aini.
Nur Aini merupakan guru di SDN II Mororejo Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
BACA JUGA:
- Kisah Apriyanti, Guru Beragama Kristen yang Mengajar di MTs Negeri, Merawat Keberagaman Tanpa Batas
- Makeup Dianggap Berlebihan, Guru SMA Ini Hapus Riasan Para Siswi, Videonya Viral di Media Sosial
- Resmi! Panduan Lengkap Hari Guru Nasional 2025, Ada Upacara Bendera Ya!
Kronologi persoalan dan ancaman sanksi
Polemik yang menimpa Nur Aini bermula ketika ia mengikuti sesi siniar (podcast) dengan Cak Sholeh.
Pada kesempatan itu, ia menceritakan beratnya perjalanan 57 kilometer dari rumahnya di Bangil menuju sekolah di Tosari, yang disebutnya sering membuatnya sakit.
Namun, cerita tersebut justru menyeret Aini ke dalam masalah kedisiplinan yang lebih serius.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah disampaikan Badan Kepegawaian Nasional (BKN), Nur Aini diduga melakukan pelanggaran berat karena tercatat tidak hadir mengajar secara kumulatif selama 90 hari tanpa alasan yang sah.
Padahal, kategori pelanggaran berat bagi ASN adalah tidak masuk 10 hari berturut-turut atau 28 hari kumulatif dalam setahun tanpa alasan.
Manipulasi data dan harapan pindah tugas
Menanggapi ancaman sanksi tersebut, Nur Aini tidak sepenuhnya menerima.
Ia mengaku memiliki bukti yang dapat menyanggah tuduhan seringnya absen (alpha). Bahkan, ia menuding Kepala Sekolah SDN II Mororejo, Endro Wibowo, telah mengotak-atik absensi yang kemudian dijadikan dasar bukti pemeriksaan oleh BKPSDM.
Meskipun dalam posisi terdesak, Nur Aini menegaskan masih ingin melanjutkan karier sebagai guru.
Tetapi, ia berharap tidak lagi ditugaskan di SDN II Mororejo karena sudah merasa tidak nyaman dan tidak lagi dipercaya, terutama untuk berhadapan dengan kepala sekolah.
“Saya tetap ingin mengajar, tapi iklim kerja yang saya rasakan sudah tidak nyaman lagi. Kalaupun diizinkan pindah, tidak terlalu jauh,” harapnya.
Sejak kasusnya viral, Nur Aini memutuskan untuk tidak masuk mengajar karena kondisi psikologisnya yang tidak stabil.
Untuk sementara, ia kini membantu usaha jual beli mobil serta penyewaan mainan milik mertuanya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply