
JAKARTA, KalderaNews.com – Penghargaan “Top Digital Awards 2025” oleh Portal Berita dan Majalah ItWorks menyoroti pergeseran fokus implementasi digital di Indonesia dari sekadar adopsi teknologi umum menjadi penggunaan Smart Technology (Teknologi Pintar) yang cerdas.
Mengusung tema “Driving Operational Excellence through Intelligent Digital Transformation”, proses penilaian tahun ini lebih selektif terhadap inovasi yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, Big Data Analytics, hingga Internet of Things (IoT).
Transformasi Cerdas Kunci Daya Saing Global
Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Dr. Ilham Akbar Habibie, dalam keynote speech menegaskan bahwa transformasi digital yang cerdas adalah pilar sentral untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045.
BACA JUGA:
- Siapkah Guru Indonesia Hadapi Era Artificial Intelligence (AI)? Hasil Riset BRIN: Mengkhawatirkan!
- Tingkatkan Kemampuan Artificial Intelligence Siswa, SMA Tarakanita 2 Konsisten Hadirkan AI Ignition Training
- 3 Contoh Peran Artificial Intelligence untuk Melawan Perubahan Iklim
Penguasaan IPTEK dan digitalisasi—termasuk kedaulatan data dan kemandirian teknologi—menjadi pusat pertumbuhan di seluruh empat pilar pembangunan nasional.
Ilham Habibie juga memperingatkan bahwa seiring meningkatnya adopsi teknologi pintar, ancaman siber juga meningkat, dengan biaya rata-rata kebocoran data global mencapai US$ 4,4 juta per insiden.
Hal ini menegaskan bahwa keamanan siber harus menjadi prioritas integral dalam setiap implementasi digital.
Temuan Kritis Dewan Juri: Tantangan SDM dan Tata Kelola AI
Ketua Dewan Juri, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, mengungkap temuan strategis yang diperoleh selama proses penilaian dua bulan. Meskipun strategi digital semakin baik, implementasi masih beragam, dan tantangan integrasi data lintas unit masih kerap ditemukan.
Ada tiga poin kritis yang menjadi sorotan:
- Tata Kelola AI Belum Matang: Adopsi AI dan data analytics meningkat, tetapi tata kelola data dan etika AI yang kokoh, termasuk standar kualitas data dan pengukuran dampak (ROI), masih minim.
- SDM sebagai Tantangan Utama: Tantangan terbesar bukan lagi pada teknologi, melainkan pada kompetensi SDM dan budaya kerja digital. Proses re-skilling dan up-skilling digital masih harus ditingkatkan secara terstruktur.
- Keamanan Siber Tidak Holistik: Banyak organisasi belum memiliki holistic cyber posture, termasuk kesiapan incident response dan zero-trust framework, yang sangat krusial bagi instansi publik yang mengelola data strategis negara.
Rekomendasi Utama: Fokus pada Dampak Nyata
Berdasarkan temuan ini, Dewan Juri merekomendasikan agar seluruh instansi dan korporasi memperkuat alignment antara strategi bisnis/organisasi dengan strategi digital.
Mereka juga menekankan pentingnya membangun pondasi data yang terintegrasi dan terstandar sebagai prasyarat utama keberhasilan SPBE, serta meningkatkan kapasitas SDM digital.
Secara spesifik, setiap proyek digital didorong untuk berorientasi pada dampak dan nilai nyata bagi efisiensi, peningkatan pengalaman pelanggan, dan pencapaian target organisasi, bukan sekadar peluncuran aplikasi semata.
Penghargaan ini – yang menobatkan PT Global Digital Niaga Tbk dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di level Platinum — diharapkan menjadi katalisator bagi akselerasi dan peningkatan kualitas implementasi teknologi digital yang cerdas, efektif, dan aman di seluruh Indonesia. Hal serupa juga berlaku bagi penerima penghargaan di berbagai kategori lainnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply