
SURABAYA, KalderaNews.com – Marsha, seorang murid kelas 12 dari SMA Cikal Surabaya menjadi satu-satunya pelajar Indonesia yang lolos dalam program pertukaran pelajar selama tiga bulan ke Australia.
Difasilitasi oleh Rotary Club of Shepparton, program bergengsi ini diikuti oleh perwakilan dari lebih 6 negara, termasuk Amerika, Brazil, Jepang, Finlandia, dan Jerman.
BACA JUGA:
- Fatima Bosch Raih Mahkota Miss Universe 2025, Sarjana Desain Fesyen yang Pernah di-Bully di Sekolah
- Sosok Alala “Terbang” di Atas Es Kibarkan Merah Putih di Kompetisi Ice Skating 9 Negara
- Kisah Apriyanti, Guru Beragama Kristen yang Mengajar di MTs Negeri, Merawat Keberagaman Tanpa Batas
Bagi Marsha, kepergiannya bukan sekadar menambah wawasan geografis, tetapi menjadi momen krusial yang membentuk kedewasaan dan kesiapan dirinya menghadapi dunia yang lebih luas.
Pelajar Indonesia Pertama yang Disponsori Rotary Club of Shepparton
Marsha mengungkapkan bahwa kesempatan ini adalah kali pertama bagi pelajar Indonesia yang disponsori penuh oleh Rotary Club of Shepparton bersama Rotary Indonesia.
“Aku adalah anak Indonesia pertama dan satu-satunya yang disponsori oleh Rotary Indonesia dan menjalani pertukaran pelajar selama tiga bulan,” ungkap Marsha.
Ia berhasil lolos seleksi ketat untuk program yang menawarkan berbagai destinasi negara maju tersebut.
Selama di Australia, Marsha bersekolah di Shepparton Secondary College, tempat ia merasakan perbedaan signifikan dalam sistem pembelajaran.
Ia mencatat bahwa proses di Australia lebih ketat, dengan seringnya tes yang disebut SAC (School Assessed Coursework).
Tes ini sangat menentukan karena menjadi bahan pertimbangan ranking bagi murid Kelas 12 se-Australia untuk masuk ke perguruan tinggi.
Dari Kelas Dansa hingga Mengatasi Homesickness
Tak hanya fokus pada akademik, Marsha mengisi tiga bulan waktunya dengan beragam aktivitas pengayaan. Ia mengikuti kelas dansa seperti salsa, performance class, dan ballet.
Selain itu, ia rutin menghadiri Rotary Club of Shepparton regular meeting setiap dua minggu sekali, yang memberikan perspektif baru tentang kegiatan sosial kemasyarakatan.
Marsha juga berkesempatan mengikuti program perjalanan ke Airlie Beach, Queensland, bersama siswa pertukaran lain dari Jerman, Taiwan, Italia, dan Argentina, serta menghadiri open house di University of Melbourne.
Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah homesickness atau rasa rindu rumah yang wajar, mengingat ia jauh dari keluarga di usia muda. Namun, ia mengubah tantangan tersebut menjadi kesempatan untuk beradaptasi secara positif.
“Caraku untuk menghadapinya adalah mencoba untuk meluangkan waktu dan mengalihkan perhatian dengan mengobrol dengan host family, masak bareng, menjelajah kota, main board games, dan lain sebagainya,” kenangnya.
Tumbuh Menjadi Effective Thinker
Jauh dari zona nyaman, Marsha merasakan pertumbuhan pesat, terutama dalam hal kemandirian dan kedewasaan berpikir. Ia menjadi lebih mandiri, bahkan sering memasak untuk dirinya sendiri dan menyajikan masakan tradisional Indonesia untuk host family.
Ia merasa kompetensi Skillful and Effective Thinker—salah satu Kompetensi 5 Bintang Cikal—tumbuh signifikan, memberikan dirinya skill dan pengetahuan yang bermanfaat untuk masa depan.
Di akhir perbincangan, Marsha berpesan kepada pelajar lain untuk tidak takut mengambil risiko. “Jangan enggan untuk mengambil kesempatan, karena kesempatan tersebut bisa tidak akan ditemukan kembali, lalu berani mengambil keputusan, berani menolak, dan tetap percaya diri,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply