Dokter Lulusan Unika Atma Jaya yang Meninggal karena Covid 19 Diberi Penghormatan oleh Media AS

Dr. Ketty Herawati Sultana (NYT)

JAKARTA, KalderaNews.com — Kematian Dokter Ketty Herawati Sultana setelah terinfeksi Covid 19 mendapat penghormatan dari surat kabar terkemuka Amerika Serikat, New York Times, dengan menyajikan obituarinya dalam rubrik Those We’ve Lost.

Rubrik tersebut dirancang untuk mengabadikan nama-nama mereka yang meninggal karena Covid 19 dari seluruh dunia. Rubrik ini disajikan terinsiprasi dari rubrik Portraits of Grief pada tahun 2001, yang didedikasikan kepada mereka yang meninggal dalam tragedi 11 September, sebagai penghormatan dan mengabadikan kisah hidup mereka.

Dr. Ketty Herawati Sultana sehari-hari bekerja di Rumah Sakit Medistra di Jakarta. Dalam obituari di NYT yang ditulis oleh Richard Paddock tersebut, Dr. Ketty digambarkan sebagai dokter yang tak kenal lelah, yang merawat siapa pun tanpa memperhatikan kesehatannya sendiri.

BACA JUGA:

Ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tiba di rumah sakit itu pada pertengahan Maret dengan gejala awal seperti penyakit tifus, Dr. Ketty adalah bagian dari tim yang merawatnya. Pada perjalanannya, ternyata Budi Karya menjadi salah satu kasus awal virus corona baru di Indonesia.

Dr. Ketty dan beberapa anggota staf lainnya segera tertular virus itu. Namun, dari mana asal penularannya tidak pernah dijelaskan.

Dia meninggal pada 3 April di rumah sakit, kata putrinya, Dr. Margareta Oktaviani. Usia Dr. Ketty 60 tahun ketika meninggal.

Kematian alumni Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya ini memperbesar sorotan pada risiko kematian pekerja medis yang merawat pasien Covid 19. Dr. Ketty, yang menghabiskan kariernya di Rumah Sakit Medistra sebagai dokter umum, adalah salah satu dari sedikitnya 42 dokter dan paramedis yang meninggal dalam pandemi ini.

Dokter kelahiran Jakarta ini memiliki reputasi sebagai orang yang baik dan murah hati. Dia juga digambarkan sebagai orang yang keras dan ulet dalam pekerjaannya.

“Mama akan merawat pasien mana pun,” kata putrinya. “Dia tidak akan berpikir dua kali apakah itu pasien dengan penyakit menular atau tidak. Jika orang sakit yang membutuhkan bantuan, Mama akan segera merawat pasien itu. “

Margareta, 29, mengatakan bahwa ibunya adalah pengaruh yang kuat baginya dan dia mengikuti teladannya menjadi dokter.

“Saya menjadi dokter karena Mama,” katanya.
“Saya melihat bagaimana Mama membantu orang lain, bagaimana dia dihormati oleh orang lain dan bagaimana dia dicintai oleh pasiennya.”

Seorang teman dan sesama dokter, Anita Puspasari, bercerita bagaimana seorang pasien bingung tentang apakah akan menjalani prosedur medis tertentu. Dr. Ketty secara pribadi membawa pasien itu ke dokter di rumah sakit lain untuk mendapatkan pendapat kedua.

“Dia ingin pasien memiliki ketenangan pikiran,” kata Dr. Anita. “Dia membantu semua orang.”

Dr. Ketty suka memasak dan sering membawa makanan ke rumah sakit yang telah disiapkannya dari rumah.

“Dia memerintahkan kami, rekan-rekannya, untuk menikmati masakannya,” kata Dr. Anita. “Dia adalah orang yang sangat menyenangkan dan baik hati. Kami semua merasakan kehilangan yang sangat besar dengan kematiannya. ”

Ketty meninggalkan seorang suami dan tiga anak.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*