KRAYAN SELATAN, KalderaNews.com- Sebuah rekaman video yang menampilkan perjuangan pelajar di Kalimantan Utara (Kaltara) saat melewati jalan berlumpur demi bersekolah ramai diperbincangkan di media sosial.
Salah satu siswa dalam video tersebut adalah Sharon. Sharon merupakan siswi kelas XII SMAN 1 Long Layu yang berada di Kecamatan Krayan Selatan, Kalimantan Utara.
Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil hingga kini, dirinya belum pernah merasakan akses jalan beraspal di wilayah tempat tinggalnya.
BACA JUGA:
- Viral! Gara-gara Longsor dan Akses Jalan Terputus, Guru di Bantul Ini Rela Antar Jemput 23 Siswanya Setiap Hari
- Potret Pilu Pendidikan, Guru dan Siswa di Halmahera Seberangi Sungai Deras Tiap Hari agar Bisa ke Sekolah
- Viral di Media Sosial! Dua Siswi di Mahakam Ulu Terjatuh di Jalan Berlumpur Saat ke Sekolah, Warganet Geram
“Sejak SD sampai SMA kelas 3, jalanan di kampung begitu-gitu saja, tidak ada perkembangan apalagi pengaspalan,” ujar Sharon.
Seumur Hidup Belum Pernah Rasakan Jalan Beraspal
Ia menjelaskan bahwa sepanjang hidupnya, kondisi jalan di desanya tak pernah berubah. Jalur utama yang menghubungkan rumah menuju sekolah hanya berupa tanah merah dengan kontur perbukitan yang terjal dan berliku.
“Seumur hidup, yang namanya menginjakkan kaki di jalanan beraspal saya belum pernah,” tuturnya.
Menurut Sharon, perjalanan ke sekolah menuntut waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin dan dalam. Sementara di musim kemarau, debu tebal menjadi tantangan lain yang harus dihadapi setiap hari.
“SD dan SMP saya jalan kaki ke sekolah, sekitar 25 menit dengan berjalan kaki. Saya naik sepeda motor sejak kelas satu SMA, jarak tempuh sekitar 25 menit. Jalanan di sini naik bukit turun bukit,” jelasnya.
Karena kondisi jalan yang ekstrem, Sharon dan teman-temannya kerap melepas sepatu agar lebih leluasa berjalan serta menghindari sepatu tersangkut lumpur.
Pemandangan siswa berjalan tanpa alas kaki sambil menenteng sepatu sudah menjadi hal yang lumrah sejak mereka duduk di bangku SD hingga SMA.
“Dari kelas 1 SD sampai SMP, sepatu tidak pernah bersih. Selalu kotor karena jalan becek. Biasa kami lepas sepatu, biar enggak terpeleset. Pokoknya kalau malamnya hujan, jangan harap ada celah pijakan yang bagus. Semua lumpur,” ungkap Sharon.
Setibanya di sekolah, kondisi seragam para siswa kerap terlihat kotor dan kusam. Cipratan lumpur sering meninggalkan noda membandel yang sulit dibersihkan. Pihak sekolah memahami situasi tersebut dan menyediakan fasilitas untuk membersihkan kaki sebelum masuk kelas.
“Guru memaklumi, karena mereka juga sama seperti kami, jalan kaki ke sekolah. Di lantai sekolah itu membekas tanah merah,” tambahnya.
Sharon mengakui bahwa kondisi tubuh yang basah dan kotor sering kali mengganggu fokus belajar di kelas.
“Nggak nyaman saat belajar karena kotor, berlumpur. Basah juga kan,” keluhnya.
Siswa Juga Harus Melewati Jembatan Kayu Berlumpur
Perjuangan pelajar tak hanya jalan berlumpur, mereka juga harus melewati jembatan kayu yang menjadi akses penghubung. Namun saat banjir datang, jembatan tersebut hanyut terbawa arus.
Akibatnya, siswa terpaksa menyeberangi sungai dengan meniti satu batang pohon darurat yang membentang sekitar 10 meter di atas permukaan air.
“Pas kebanjiran jembatan kayunya hanyut. Jadi terpaksa harus ikut (meniti) batang yang satu batang aja,” kenangnya.
Situasi tersebut disebut Sharon cukup menegangkan, terutama bagi siswa yang takut ketinggian. Bahkan, ia mengungkapkan pernah ada temannya yang terjatuh saat melintas.
“Ada yang jatuh sampai ke bawah. Tingginya sekitar 10 meter. Itu sangat kena mental, sempat berpikir nggak usah sekolah karena nggak ada jembatan. Tapi karena nggak ada pilihan, ya terpaksa lewat situ,” ujarnya.
Meski harus menghadapi risiko keselamatan setiap hari, semangat Sharon dan rekan-rekannya untuk bersekolah tak pernah surut
Sebagai perwakilan pelajar di Krayan, Sharon berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur di daerahnya. Ia ingin akses menuju sekolah menjadi lebih aman dan layak.
“Keinginan kami anak sekolah sekarang hanya untuk jalan kami lah, Pak. Kemarin kami ingin jalan kami ini diaspalkan. Biar kami tidak susah ke sekolah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply