
JAKARTA, KalderaNews.com – Selama ini patokan waktu 24 jam sehari. Tapi, rotasi Bumi makin melambat lho! Begini penjelasan BRIN!
Temuan terbaru dari para ilmuwan, termasuk penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengonfirmasi sebuah fenomena rotasi Bumi yang semakin lambat.
Jika tren ini terus berlanjut, manusia di masa depan tidak akan lagi mengenal siklus 24 jam, melainkan 25 jam dalam sehari.
Kenapa hal ini bisa terjadi dan apa dampaknya?
BACA JUGA:
- Fenomena Langka! Ada Wolf Moon 3-4 Januari 2026, Bisa Diamati di Indonesia!
- Terbaru! 5 Fenomena Astronomi Januari 2026, Nikmati Supermoon Pertama!
- Hanya 9 Jam? Siap-siap Sambut “Hari Terpendek” pada 21 Desember 2025!
Rem raksasa bernama Bulan
Fenomena melambatnya rotasi Bumi ini bukanlah isapan jempol belaka. Kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, penyebab utamanya adalah gaya gravitasi Bulan.
Interaksi antara Bumi dan Bulan menciptakan efek pasang surut air laut yang berfungsi layaknya “rem alami” bagi perputaran planet kita.
Akibat gesekan energi ini, rotasi Bumi kehilangan kecepatannya secara bertahap, sementara Bulan perlahan-lahan menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 cm per tahun.
Gempa bumi hingga perubahan iklim
Selain faktor Bulan, perlambatan ini juga dipengaruhi oleh aktivitas internal Bumi.
Gempa besar, seperti gempa Aceh tahun 2004, sempat menggeser lempeng Bumi dan sedikit mengubah kecepatan rotasi.
Selain itu, pencairan es kutub akibat perubahan iklim juga berkontribusi memindahkan massa air ke area ekuator, yang secara teknis bisa memengaruhi kecepatan putaran Bumi, mirip dengan penari balet yang melambatkan putarannya dengan merentangkan tangan.
Hanya bertambah milidetik, tapi berdampak besar
Meski terdengar mengerikan, perubahan ini terjadi dalam skala waktu yang sangat panjang (geologis).
Setiap satu abad, durasi hari di Bumi hanya bertambah sekitar 1,7 hingga 2 milidetik.
“Perubahannya hanya berorde detik per tahun, sehingga tidak terasa dalam hitungan waktu harian bagi masyarakat awam,” jelas Thomas Djamaluddin.
Namun, sejarah mencatat perubahan ini nyata. Berdasarkan pemodelan geologi pada fosil dan batuan purba, sekitar 1,4 miliar tahun yang lalu, satu hari di Bumi hanya berdurasi 18 jam.
Lalu, pada era dinosaurus 600 juta tahun lalu, satu hari sudah berkembang menjadi 21 jam.
Kapan hari 25 jam akan tiba?
Para peneliti memperkirakan bahwa manusia baru akan benar-benar merasakan hari berdurasi 25 jam dalam waktu sekitar 200 juta tahun ke depan.
Jadi, kamu belum perlu mengatur ulang jam tangan atau jadwal kerja dalam waktu dekat.
Tetapi, bila durasi ini benar-benar berubah, dampaknya tidak main-main.
Perubahan panjang hari bisa mengganggu ritme sirkadian (jam biologis) manusia yang mengatur pola tidur, hormon, hingga metabolisme tubuh.
Makhluk hidup perlu berevolusi secara drastis untuk bisa beradaptasi dengan ritme dunia yang baru.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply