Liburan ke Jepang Makin Mahal, Biaya Visa Naik 5 Kali Lipat dan Pajak Turis Melonjak Mulai 2026

Ilustrasi: Beasiswa S1 Jepang Mitsui-Bussan, Tutup 19 Februari 2021. (KalderaNews.com/Ist.)
Jepang (KalderaNews.com/Ist.)
Sharing for Empowerment

TOKYO, KalderaNews.com – Kabar kurang menyenangkan bagi para pelancong yang merencanakan perjalanan ke Negeri Sakura atau Jepang.

Pemerintah Jepang resmi mengumumkan kenaikan drastis pada biaya visa dan pajak pariwisata yang mulai berlaku tahun 2026. Langkah ekstrem ini diambil untuk menekan fenomena overtourism serta menambal defisit pendapatan negara.

BACA JUGA:

Dilansir dari Nikkei Asia, kebijakan baru ini diproyeksikan akan menyumbang pendapatan sebesar 350 miliar yen bagi kas negara Jepang pada tahun 2026.

Lonjakan Biaya Visa: Dari Rp 300 Ribu ke Rp 1,5 Juta

Kenaikan paling signifikan terjadi pada biaya administrasi masuk ke Jepang. Wisatawan mancanegara kini harus merogoh kocek lebih dalam bahkan sebelum menginjakkan kaki di sana.

  • Visa Turis: Naik lima kali lipat dari 3.000 yen menjadi 15.000 yen (sekitar Rp 1,5 jutaan).
  • Perpanjangan Visa: Biaya status tinggal atau perpanjangan melonjak dari 6.000 yen menjadi sekitar 40.000 yen.

Tak hanya visa, pajak keberangkatan (International Tourist Tax) yang biasanya sudah termasuk dalam tiket pesawat juga ikut meroket. Mulai Juli 2026, pajak ini naik dari 1.000 yen menjadi 3.000 yen (sekitar Rp 300 ribuan).

Melawan “Overtourism” di Jalur Emas

Pemerintah Jepang menyatakan bahwa kenaikan biaya ini diperlukan untuk memperbaiki sistem imigrasi dan mengatasi kepadatan wisatawan yang tidak terkendali (overtourism).

Pada tahun 2024 saja, jumlah turis asing mencapai rekor 36,87 juta orang, dipicu oleh melemahnya nilai tukar Yen.

Beberapa titik di Golden Route (Tokyo, Kyoto, Osaka) kini berada dalam kondisi kritis:

  • Kyoto: Distrik Gion terpaksa menutup gang pribadi karena perilaku turis yang mengganggu Geisha.
  • Gunung Fuji: Jalur pendakian kini menerapkan kuota harian akibat antrean yang terlalu panjang.
  • Fujikawaguchiko: Pemasangan pembatas visual di spot foto populer untuk mencegah gangguan lalu lintas lokal.

Menambal Defisit Negara

Di balik alasan pariwisata, Jepang juga tengah berupaya mendapatkan nilai lebih dari sektor ini karena pendapatan negara diprediksi turun hingga 2,2 triliun yen akibat program pendidikan gratis dan penurunan pajak bahan bakar.

Menariknya, warga lokal Jepang juga terkena dampak pajak keberangkatan ini. Namun, sebagai kompensasi, pemerintah memberikan “diskon” biaya pembuatan paspor 10 tahun dari 16.000 yen menjadi hanya 9.000 yen.

Kenaikan beban biaya yang harus ditanggung wisatawan asing di tahun 2026 tercatat sangat signifikan di berbagai komponen.

Lonjakan paling tajam terjadi pada biaya visa turis yang melesat 500%, dari semula hanya sekitar Rp 300.000 menjadi Rp 1,5 juta.

Selain itu, wisatawan juga harus bersiap menghadapi kenaikan pajak turis sebesar 300% yang kini menyentuh angka Rp 300.000 dari sebelumnya Rp 100.000.

Perubahan paling drastis terlihat pada biaya status visa atau perpanjangan masa tinggal yang meroket hingga sekitar 660%, di mana biaya yang sebelumnya hanya Rp 600.000 kini membengkak menjadi Rp 4 juta.

Seluruh penyesuaian tarif ini menjadikan perjalanan ke Jepang memerlukan perencanaan anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


829 views