Mengapa Hujan Tak Kunjung Reda? Ini 7 Fenomena yang Jadi Penyebabnya Menurut BMKG

Ilustrasi: Prakiraan hujan di Jabodetabek. (Ist.)
Ilustrasi: Prakiraan hujan di Jabodetabek. (Ist.)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Hujan yang terjadi hampir terus-menerus belakangan ini dirasakan oleh banyak wilayah di Indonesia. 7 fenomena ini diduga menjadi penyebabnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan intensitas curah hujan secara nasional.

Secara umum, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mengguyur sebagian besar wilayah Tanah Air. Namun, BMKG juga menyoroti munculnya hujan lebat hingga ekstrem di sejumlah daerah, terutama Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Selatan.

BACA JUGA:

Fenomena yang Sebabkan Hujan Terjadi Terus Menerus

BMKG menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer regional dan global.

Salah satunya adalah keberadaan sirkulasi siklonik di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berkembang menjadi bibit siklon tropis 96S, disertai penguatan monsun dingin Asia.

Monsun Asia yang aktif membawa massa udara lembap dari Laut China Selatan menuju Selat Karimata hingga Pulau Jawa.

Bersamaan dengan sirkulasi siklonik, kondisi ini membentuk area konvergensi yang luas di wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan NTB, sehingga memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

Dalam skala global, fenomena ENSO berada pada fase negatif yang menandakan La Nina lemah. Ditambah suhu permukaan laut yang relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia, pasokan uap air ke atmosfer meningkat dan mendukung pembentukan hujan.

Dari sisi regional dan lokal, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif melintasi kawasan Maluku, Laut Halmahera, hingga Papua.

Selain itu, gelombang ekuator seperti Kelvin dan Rossby juga terdeteksi aktif di beberapa wilayah, termasuk Samudra Hindia barat Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Kombinasi fenomena tersebut meningkatkan potensi hujan dan aktivitas konvektif.

BMKG juga memantau penguatan siklon tropis Nokaen di utara Maluku Utara yang memengaruhi pola angin di wilayah Indonesia bagian timur.

 Sementara itu, bibit siklon 96S diperkirakan tetap bertahan dan membentuk daerah konvergensi di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera hingga Papua, yang turut memperbesar peluang hujan lebat.

Selain itu, potensi seruakan udara dingin dari Asia diprediksi masih berlangsung. Kondisi ini mempercepat aliran monsun Asia melintasi ekuator melalui Selat Karimata dan berpotensi meningkatkan cuaca ekstrem, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa.

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih akan mendominasi cuaca di berbagai daerah hingga beberapa hari ke depan, disertai potensi angin kencang di sejumlah wilayah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*