The Path To Financial Freedom, EduFulus – Pasar modal Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Di balik gemerlap angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tersimpan bom waktu bernama free float atau porsi kepemilikan saham publik yang sangat minim.
Para taipan kelas kakap di negeri ini tampaknya masih “betah” menguasai nyaris seluruh saham perusahaan mereka sendiri, sebuah ego yang berisiko membuat pasar modal kita terkucilkan dari pergaulan global.
Ancaman Nyata “Gembok” MSCI
Isu ini bukan sekadar urusan administratif. Raksasa indeks dunia, Morgan Stanley Capital International (MSCI), sudah mulai kehilangan kesabaran.
SIMAK JUGA: Klabakan Bantah Terlibat Kasus Minna Padi, Emiten Happy Hapsoro (BUVA) Sebut Berita yang Beredar Menyesatkan
MSCI sempat membekukan perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia karena buruknya aksesibilitas pasar dan rendahnya jumlah saham yang benar-benar beredar di publik.
Dampaknya sudah terasa: akhir Januari lalu, IHSG “terbakar” hebat hingga terjun bebas ke bawah level 9.000.
Jika para emiten raksasa tetap keras kepala, bukan tidak mungkin MSCI akan benar-benar menutup pintu bagi Indonesia, memicu pelarian modal asing secara masif yang bisa membuat bursa kita ambruk lagi pekan depan.
Taipan “Kempit” Saham: Dari Prajogo Hingga Salim
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebenarnya sudah memberi aba-aba untuk mengerek porsi saham publik minimal menjadi 15 persen secara bertahap. Namun, fakta di lapangan justru berbanding terbalik dengan semangat transparansi tersebut.
Nama-nama besar seperti Prajogo Pangestu hingga Salim Group tercatat memiliki barisan emiten dengan porsi publik yang “memprihatinkan”.
Tengok saja BREN (Barito Renewables Energy) milik Prajogo yang hanya menyisakan 12,29 persen untuk publik, atau TPIA (Chandra Asri) yang bahkan lebih rendah di angka 10,65 persen.
Ironisnya, alih-alih menambah porsi publik sesuai keinginan otoritas, Prajogo justru berencana melakukan aksi buyback atau pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun untuk BREN dan Rp2 triliun untuk TPIA. Langkah ini bak menyiram bensin ke api; alih-alih saham publik bertambah, jumlahnya justru berpotensi makin menciut.
Berikut adalah daftar beberapa emiten “pelit” saham publik yang patut diwaspadai:
- Prajogo Pangestu (Barito Group), Emiten: BREN, TPIA, CDIA: Free Float: 9,99% – 12,29%
- Salim Group, Emiten: SIMP, ROTI: Free Float: 12,47% – 12,66%
- Boy Thohir, Emiten: ADMR: Free Float: 11,96%
- Sinarmas Group (Franky Widjaja), Emiten: GEMS: Free Float: 12,01%
- Saratoga Group, Emiten: SRTG: Free Float: 10,73%
- Lippo Group (James Riady), Emiten: LPCK, SILO: Free Float: 6,71% – 11%
- Emtek Group, Emiten: SCMA: Free Float: 10%
- Jimmy Budiarto, Emiten: PSAB: Free Float: 10%
- Peter Sondakh, Emiten: ARCI: Free Float: 10,14%
49 Emiten Penentu Nasib
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 267 emiten yang masih gagal memenuhi syarat free float 15 persen. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa 49 di antaranya menyumbang 90 persen dari total nilai pasar (market cap) yang bermasalah tersebut.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengakui bahwa 49 emiten ini menjadi prioritas utama. “Kita coba sasar dulu yang 49 itu karena mereka merepresentasikan 90 persen market cap yang belum memenuhi syarat,” ujarnya di Jakarta, Rabu (4/2).
Mengapa Publik Harus Khawatir?
Istilah free float mungkin terdengar teknis, namun maknanya sederhana: jika saham sebuah perusahaan raksasa hanya dikuasai oleh segelintir pengendali, maka harga saham tersebut sangat mudah dimanipulasi dan sulit dibeli oleh investor besar seperti dana pensiun global.
Jika para taipan ini tetap “tak legowo” melepas porsi kepemilikan mereka ke masyarakat luas, pasar modal Indonesia hanya akan menjadi “taman bermain” eksklusif para orang kaya, sementara investor ritel dan publik luas hanya kebagian ampasnya saat pasar ambruk akibat sanksi internasional.
SIMAK JUGA: Ini Tantangan Utama Reformasi Total Bursa, Tak Sebatas Instan Takluk pada Hukuman MSCI
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply