IHSG ambruk sendirian di Asia hingga level 6.000-an. Pjs Dirut BEI buka suara dan desak investor fokus jangka panjang.
The Path to Financial Freedom, EduFulus – Pasar modal Indonesia sedang mengalami tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan kembali ambruk secara drastis hingga terjun bebas menjauhi level psikologis 6.100.
Koreksi tajam ini membawa indeks kembali tiarap ke level 6.000-an, sebuah pergerakan yang memicu kekhawatiran massal di kalangan pelaku pasar.
Menanggapi kepanikan tersebut, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, langsung pasang badan. Ia menegaskan agar para investor tidak terjebak dalam kepanikan jangka pendek dan tetap mengingat hakikat dasar berinvestasi di pasar saham.
SIMAK JUGA: Serem IHSG Anjlok, Bursa RI Balik ke Level Krisis Masa Covid, Serok?
“Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini kan, juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Kamis (21/5/2026).
Pihak otoritas bursa mengaku tetap optimistis karena meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia ke depan akan semakin solid, didukung komitmen Presiden Prabowo Subianto yang memangkas durasi perizinan usaha dari dua tahun menjadi hitungan minggu saja.
Kronologi Ambruknya IHSG: Terburuk di Asia Pasifik
Perdagangan pada Kamis (21/5/2026) menjadi hari yang kelam bagi bursa domestik. Hingga pukul 13.35 WIB, IHSG tercatat terjun bebas hingga 3,64% ke posisi 6.088,22.
Indeks bahkan sempat menyentuh level terendah hariannya di 6.083,69, merosot jauh dari penutupan sebelumnya di level 6.318,50.
Kejatuhan ini membuat bursa Indonesia menorehkan rapor merah sebagai indeks dengan kinerja terburuk di antara pasar emerging market Asia Pasifik.
Ketika bursa regional lain seperti KOSPI Korea Selatan melonjak hingga 8,12% dan TWSE Taiwan melesat 3,89% karena sentimen positif global, IHSG justru merana sendirian di zona merah.
Tercatat sebanyak 601 saham bertumbangan, dengan kemerosotan paling parah melanda sektor Barang Baku (IDXBASIC) yang anjlok 6,49% serta sektor Energi (IDXENERGY) yang terjerembab 5,02%.
Dua Biang Kerok Utama yang Bikin Investor Asing Kabur
Berdasarkan analisis pasar dan konfirmasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ambruknya IHSG hari ini disebabkan oleh akumulasi dua sentimen domestik yang krusial:
1. Efek Domino Kebijakan Ekspor Satu Pintu “Danantara”
Pasar merespons negatif rencana Presiden Prabowo Subianto yang mewajibkan seluruh penjualan komoditas strategis, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan besi fero alloy, melalui BUMN baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Meskipun bertujuan baik untuk memberantas transfer pricing dan mengoptimalkan Devisa Hasil Ekspor (DHE), para pengamat pasar modal menilai kebijakan ini meningkatkan regulatory uncertainty (ketidakpastian regulasi).
SIMAK JUGA: Sukanto Tanoto Kangkangi Kekayaan Prajogo Pangestu yang Ambles Efek MSCI
Investor asing cenderung melakukan aksi jual (sell-off) karena khawatir birokrasi yang terpusat ini akan mengintervensi mekanisme pasar, memangkas fleksibilitas, serta menggerus margin keuntungan emiten tambang.
2. Sentimen Negatif Rebalancing Indeks MSCI
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengonfirmasi bahwa kejatuhan indeks berkorelasi kuat dengan pengumuman rilis indeks global MSCI. Sebanyak 18 saham asal Indonesia dilaporkan keluar dari konstituen MSCI.
Akibatnya, dana asing pasif (passive fund outflow) dari reksa dana global dan ETF yang mengacu pada MSCI wajib melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham-saham tersebut. Tekanan jual massal ini diperkirakan masih akan membayangi pasar hingga kebijakan tersebut efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Kinerja 5 Tahun Terakhir Hanya Naik 6,43%
Kejatuhan bertubi-tubi ini kian memperparah rapor bursa sepanjang tahun berjalan. Sejak awal tahun 2026, IHSG tercatat sudah terkoreksi dalam hingga 29,76%.
Nahasnya, akibat penurunan tajam yang terjadi belakangan ini, akumulasi kinerja IHSG selama lima tahun terakhir terkikis habis dan tercatat hanya mampu tumbuh tipis sebesar 6,43%.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku pasar untuk menata ulang strategi portofolio mereka dan bersikap wait and see hingga detail teknis kebijakan badan ekspor komoditas resmi dirilis pemerintah.
SIMAK JUGA: Harta Menguap Rp49 T, Prajogo Dikangkangi Budi Hartono & Low Tuck
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply