Ini Jawaban Ilmiah Mengapa Jakarta Masih Terkepung Banjir?

Banjir di Cawang, DI Panjaitan, Jakarta Timur
Banjir di Cawang, DI Panjaitan, Jakarta Timur (KalderaNews/JS de Britto)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – akarta dan banjir seolah menjadi dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Meskipun upaya mitigasi terus digenjot, ibu kota sering kali harus mengakui keunggulan alam saat berhadapan dengan hujan lebat.

Masalah utamanya terletak pada ketidakseimbangan antara volume air hujan dengan kapasitas tampung sistem drainase yang ada.

Secara teknis, saluran makro di Jakarta hanya dirancang untuk menampung debit hujan hingga 150 milimeter per hari.

BACA JUGA:

Sementara itu, saluran penghubung atau pendukung memiliki kapasitas yang jauh lebih terbatas, yakni maksimal 100 milimeter per hari. Kesenjangan angka ini menjadi titik lemah utama saat cuaca ekstrem melanda.

Kemampuan sistem drainase Jakarta masih terbatas. Saluran makro hanya mampu menampung debit hujan hingga 150 milimeter (mm) per hari, sementara saluran pendukung atau penghubung (PHB) maksimal 100 mm per hari.

Kondisi itu membuat banjir tak terelakkan ketika intensitas hujan melampaui kapasitas tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, hujan dengan intensitas di atas 150 mm dan durasi panjang otomatis menyebabkan genangan hingga banjir di Jakarta.

“Makanya, waktu kemarin itu hujan di atas 200 mm per hari itu terus durasinya lama, pasti banjir,” terangnya.

Kondisi tersebut membuat banjir menjadi konsekuensi logis yang tak terelakkan ketika intensitas hujan melampaui ambang batas kapasitas drainase.

Terutama jika durasinya berlangsung lama, seperti fenomena hujan di atas 200 milimeter per hari yang belakangan sering terjadi, sistem otomatis akan mengalami overflow atau luapan.

Menghadapi keterbatasan sistemik ini, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta melakukan langkah preventif melalui pengerukan kali, sungai, dan saluran pendukung.

Pada tahun 2025, fokus pengerukan diarahkan ke kawasan permukiman padat untuk memastikan aliran air di tingkat lokal tetap lancar sebelum menuju saluran utama.

Namun, pengerukan memiliki batas fisik yang sangat krusial dalam disiplin geoteknik. Kedalaman pengerukan tidak boleh dilakukan secara ekstrem dan biasanya dibatasi hanya hingga 2–3 meter.

Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas struktur tanah, karena pengerukan yang terlalu dalam berisiko memicu longsor di bagian hulu.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini memprioritaskan normalisasi sungai di tiga lokasi strategis.

Fokus utama meliputi Kali Ciliwung sepanjang 16 kilometer, Kali Krukut sepanjang 1,2 kilometer, dan Kali Cakung Lama sepanjang 2 kilometer untuk memperlebar kapasitas ruang aliran air.

Proyek ini merupakan kolaborasi besar antara Pemprov DKI dalam hal pembebasan lahan dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk pengerjaan fisik konstruksinya.

Pembangunan turap atau dinding penahan tanah menjadi agenda krusial yang ditargetkan rampung pada akhir 2026 guna memperkuat struktur tepi sungai.

Melalui kombinasi pengerukan rutin dan normalisasi permanen, Jakarta berusaha memperkecil risiko dampak curah hujan ekstrem.

Dengan target penyelesaian konstruksi secara masif hingga awal 2027, diharapkan badan sungai dapat menampung debit air yang jauh lebih besar tanpa dihantui risiko longsor maupun luapan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


488 views