Menag Nasaruddin ajukan tambahan Rp24,8 T saat ekonomi dibayangi krisis. Cek rincian alokasi untuk Madrasah & Buku Gratis.
JAKARTA, KalderaNews.com – Di tengah memanasnya diskusi publik mengenai stabilitas ekonomi nasional yang disebut-sebut mulai menyerupai situasi menjelang krisis 1998, langkah mengejutkan datang dari Lapangan Banteng.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, secara resmi mengajukan usulan tambahan anggaran tahun 2026 sebesar Rp24,8 triliun.
BACA JUGA:
- Digugat Guru Honorer ke MK Karena Sedot Anggaran Pendidikan, Mendikdasmen: MBG Tidak Potong Gaji Guru
- Anggaran Pendidikan Banyak ‘Disunat’ untuk MBG, Guru Honorer Nekat Gugat UU APBN 2026 ke MK!
- JPPI: Nilai TKA SMA Jeblok Parah, Anggaran Pendidikan Jangan Dipangkas untuk MBG!
Usulan ini disampaikan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) Bidang Pendidikan pada Sabtu (4/4/2026). Di saat nilai tukar rupiah berfluktuasi dan beban fiskal negara meningkat, Kemenag justru “merengek” meminta tambahan dana demi mengejar ketimpangan kualitas pendidikan.
Rincian Anggaran: Digitalisasi Hingga Buku Tulis Gratis
Menag Nasaruddin merinci bahwa dana jumbo tersebut bukan tanpa tujuan. Pihaknya berupaya agar Madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata dibandingkan sekolah umum. Berikut adalah rincian “daftar belanja” Kemenag untuk tahun 2026:
Rp13,7 Triliun: Revitalisasi Satuan Pendidikan (Menyasar 7.131 lembaga).
Rp10,9 Triliun: Digitalisasi Pembelajaran.
Rp159 Miliar: Bantuan Buku Tulis Gratis.
Rp22,9 Miliar: Program Sekolah Unggul Garuda Transformasi.
“Usulan anggaran ini adalah ikhtiar kita untuk menjamin bahwa tidak ada lagi ketimpangan antara Madrasah dan sekolah umum,” tegas Nasaruddin Umar, Senin (6/4/2026).
Soroti Ketimpangan Makan Bergizi Gratis (MBG)
Selain infrastruktur, Menag juga menyoroti jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak adil.
Saat ini, jangkauan MBG di madrasah dan pondok pesantren baru menyentuh angka 10-12%. Angka ini tertinggal jauh dari sekolah umum yang diproyeksikan segera mencapai 80%.
Nasaruddin menilai pesantren sebenarnya adalah ekosistem yang paling siap menjalankan MBG karena sudah terbiasa dengan pola dapur mandiri dan makan bersama yang minim risiko kesehatan.
Kontradiksi: Kebutuhan Pendidikan vs Bayang-Bayang Krisis
Permintaan anggaran ini muncul di saat narasi krisis ekonomi kembali mencuat. Analisis pasar modal mulai membandingkan kondisi saat ini dengan kerapuhan tahun 1998 akibat pelemahan rupiah dan tekanan global.
Apakah Indonesia Benar-Benar Krisis?
Meskipun Kemenag meminta tambahan dana di waktu yang sensitif, data ekonomi menunjukkan fondasi Indonesia sebenarnya masih cukup solid:
- Pertumbuhan Ekonomi: Berada di kisaran 5%, dengan proyeksi 2026 mencapai 4,9% – 5,7%.
- Cadangan Devisa: Sangat kuat di angka 151,9 miliar dolar AS per Februari 2026.
- Inflasi: Relatif terkendali di angka 4,76% (Februari 2026).
Pemerintah berargumen bahwa belanja besar, termasuk tambahan anggaran untuk pendidikan keagamaan dan program makan bergizi, justru berfungsi sebagai stimulus ekonomi dan investasi sosial jangka panjang untuk mencetak generasi unggul sesuai visi Asta Cita Presiden.
Langkah Menag Nasaruddin Umar mengajukan Rp24,8 triliun di tengah kondisi ekonomi yang menantang tentu memicu perdebatan.
Di satu sisi, revitalisasi 6.973 madrasah yang memprihatinkan adalah kewajiban negara. Di sisi lain, kedisiplinan fiskal menjadi kunci agar Indonesia tidak benar-benar terjerumus ke dalam lubang krisis seperti masa lalu.
Kini bola panas ada di tangan kementerian terkait dan DPR. Apakah usulan “rengekan” anggaran ini akan dikabulkan demi kesetaraan pendidikan, atau dipangkas demi menjaga kestabilan kas negara?
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply