Pemprov Jateng resmi inisiasi kurikulum koperasi pertama di Indonesia untuk siswa SD-SMA guna bangun ekonomi kerakyatan.
SEMARANG, KalderaNews.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali melakukan gebrakan progresif dalam dunia pendidikan dan ekonomi.
Jawa Tengah resmi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menginisiasi masuknya kurikulum perkoperasian ke dalam jenjang pendidikan dasar hingga menengah (SD, SMP, dan SMA/SMK).
BACA JUGA:
- Kisah Pilu Guru di Solo, 41 Tahun Mengabdi, Dana Pensiun Rp300 Juta Lenyap Tertipu Investasi Koperasi
- Profil Pendidikan Farida Farichah, Wamen Koperasi yang Baru Dilantik, Memiliki Latar Belakang Santri dan Aktivis Perempuan
- Mengenal Bapak Koperasi, Badan Usaha Rakyat yang Diperingati Tiap 12 Juli
Langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk membangkitkan kembali marwah ekonomi kerakyatan dan jiwa gotong royong di kalangan generasi muda.
Jembatan Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyampaikan bahwa pendidikan koperasi sejak dini sangat krusial.
Dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Finalisasi Insersi Kurikulum Pendidikan Perkoperasian di Kota Semarang, Selasa (5/5/2026), Sumarno menekankan bahwa koperasi memiliki nilai yang jauh melampaui konsep bisnis biasa.
“Koperasi adalah penggabungan antara konsep bisnis dengan nilai sosial. Di sana ada kebersamaan, ada gotong royong, dan kedaulatan tertinggi ada di tangan anggota. Inilah yang harus kita pahamkan kembali kepada masyarakat kita,” tegas Sumarno.
Selama ini, pendidikan ekonomi di sekolah dianggap terlalu umum dan kurang menyentuh esensi koperasi secara spesifik.
Dengan kurikulum baru ini, Pemprov Jateng ingin melakukan internalisasi konsep ekonomi yang berkeadilan sejak masa sekolah.
Dukung Program Nasional “Koperasi Merah Putih”
Inisiasi kurikulum ini tidak hanya bertujuan untuk skala daerah, tetapi juga menjadi langkah strategis mendukung program Presiden RI terkait Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Pemprov Jateng berharap kurikulum yang sedang disusun ini tidak hanya menjadi prototipe lokal, melainkan bisa diadopsi menjadi standar nasional oleh Kementerian Koperasi. Harapannya, masa depan koperasi di Indonesia akan dikelola oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar memahami “ruh” koperasi.
Target Implementasi Tahun Ajaran Baru
Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Dwi Silo Raharjo, menjelaskan bahwa kurikulum ini akan menyasar seluruh sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan serta madrasah di bawah Kementerian Agama (Kemenag) di Jawa Tengah.
Untuk memastikan kualitasnya, FGD finalisasi ini melibatkan 40 ahli berkompeten, termasuk:
- Tim dari Kanwil Kemenag Jateng (tingkat MI, MTs, dan MA).
- Dinas Pendidikan Provinsi Jateng (tingkat SMA, SMK, dan SLB).
- Dinas Pendidikan Kota Semarang (tingkat SD dan SMP).
- Praktisi gerakan koperasi dan tim ahli Dinas Koperasi UKM.
“Tujuan FGD ini adalah menyempurnakan draf kurikulum agar selaras dengan kebijakan nasional dan menghasilkan modul yang aplikatif,” ujar Dwi Silo.
Targetnya, kurikulum perkoperasian ini sudah bisa dieksekusi dan mulai diimplementasikan pada tahun ajaran baru mendatang.
Dengan hadirnya pendidikan koperasi ini, Jawa Tengah optimistis akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara finansial dan mandiri, tetapi juga memiliki kepekaan sosial tinggi untuk membangun ekonomi bangsa melalui semangat gotong royong.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply