Gempa Dahsyat Filipina, Siswa di Gorontalo Berhamburan Keluar Kelas

Mitigasi Bencana Akan Digalakkan di Sekolah-sekolah
Pelajar berkebutuhan khusus berlindung di bawah meja ketika simulasi terjadinya gempa bumi di SD Citta Bangsa, Kompleks Bumi Arya Sena, Jatikramat, Bekasi. Simulasi berbagai bencana itu untuk mendidik para pelajar sedini mungkin dalam menghadapi bencana yang terjadi dengan tepat dan benar (ANTARA FOTO/Saptono)
Sharing for Empowerment

Guncangan hebat gempa Filipina memicu kepanikan massal di Gorontalo. Anak-anak SD berhamburan saat sirine tsunami meraung.

GORONTALO, KalderaNews.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang berpusat di Mindanao, Filipina, pada Senin, 8 Juni 2026) pagi, dampaknya terasa nyata hingga ke tanah air.

Di Kota Gorontalo, guncangan yang kuat memicu kepanikan luar biasa, khususnya di sektor pendidikan.

Di SDN 41 Hulontalangi, proses belajar-mengajar mendadak berubah menjadi mencekam.

Begitu alarm peringatan dini tsunami berbunyi, para siswa dan guru langsung berhamburan keluar kelas demi menyelamatkan diri menuju lapangan terbuka.

BACA JUGA:

Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Moh Tahir Laendeng, mengonfirmasi bahwa sirine tersebut sengaja dibunyikan oleh pihak sekolah secara mandiri sebagai langkah evakuasi cepat setelah menerima peringatan resmi dari BMKG.

Fakta teknis gempa

Berdasarkan data BMKG, episentrum gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng tektonik ini berada di laut dengan kedalaman 47 kilometer, berjarak sekitar 244 kilometer dari Pulau Karatung, Sulawesi Utara.

Meski berpusat di Filipina, ancaman tsunami bukan sekadar alarm palsu.

Sensor tide gauge milik BMKG mendeteksi manifestasi gelombang tsunami nyata yang telah mencapai daratan Indonesia.

Gelombang pertama tercatat mendarat di Loloda, Halmahera Barat, Maluku Utara pada pukul 07.20 WIB dengan ketinggian 9 sentimeter.

Hanya berselang beberapa menit, tepatnya pukul 07.27 WIB, tsunami juga terdeteksi di wilayah Kepulauan Sulawesi Utara.

Di Ulusiau, Sitaro, gelombang mencapai 18 sentimeter, sedangkan di Melonguane, Kepulauan Talaud, ketinggian gelombang tercatat setinggi 19 sentimeter.

Wilayah pesisir masih siaga

Walaupun ketinggian gelombang saat ini masih tergolong minor (di bawah 20 sentimeter), Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, tetap mengimbau masyarakat di sepanjang pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara untuk waspada dan menjauhi area pantai.

Hingga siang ini, BPBD setempat terus melakukan patroli intensif dan berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau potensi adanya gelombang susulan.

Warga diminta untuk tetap tenang, tidak terprovokasi oleh isu hoaks yang beredar di media sosial, dan selalu mengikuti jalur evakuasi resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*