
Ketahui tantangan dan potensi Indonesia menuju kemandirian industri drone nasional melalui riset BRIN dan dukungan regulasi.
BANDUNG, KalderaNews.com – Ambisi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian di bidang teknologi kedirgantaraan, khususnya Industri Pesawat Udara Nirawak (PUNA) atau drone, kerap kali dianggap bagai mimpi di siang bolong.
Namun, data sejarah riset nasional dan penguasaan teknologi komponen mendasar membuktikan bahwa potensi tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
BACA JUGA:
- Warganet Heran Petani yang Iseng “Terbang” Pakai Drone Malah Minta Maaf
- Hati-hati, Buang Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Kena OTT Lewat Drone, Denda 500 Ribu
- Petani Jombang Viral Terbang Naik Drone, Analisis Teknologi dan Keamanannya
Dalam gelaran Indonesia Drone Summit (IDS) 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian di Bandung, Selasa (8/9/2026), Indonesia memetakan kembali posisi serta tantangan nyata yang harus dihadapi demi membangun industri drone yang berdaya saing global.
Modal Teknologi: Penguasaan Komponen Kritikal dan Paten Lokal
Indonesia sebenarnya tidak berangkat dari nol dalam teknologi drone. Riset panjang yang dimulai sejak awal tahun 2000-an telah melahirkan berbagai jenis platform PUNA buatan dalam negeri, seperti Wulung, Alap-Alap, hingga jajaran seri LAPAN Surveillance UAV (LSU) mulai dari LSU-01 hingga LSU-05.
Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fadilah Hasim, menegaskan bahwa pencapaian terbesar Indonesia tidak hanya berhenti pada platform badan pesawat (airframe), melainkan sudah menyentuh teknologi kendali penerbangan paling krusial.
“Perjalanan tersebut menjadi salah satu modal dalam membangun kemampuan teknologi penerbangan tanpa awak nasional. Salah satu capaian pentingnya adalah penguasaan Flight Control Computer (FCC) berbasis Field Programmable Gate Array (FPGA) yang telah dipatenkan dan dibuat secara lokal,” ujar Fadilah.
Penguasaan teknologi FCC mandiri ini membuktikan bahwa talenta nasional mampu merancang sistem otak atau kendali terbang drone secara independen.
5 Tantangan Utama Menuju Kemandirian Industri Drone
Mengapa kemandirian industri drone nasional masih terasa sulit dijangkau? Fadilah membandingkan perjalanan Indonesia dengan kesuksesan program Medium Altitude Long Endurance (MALE) Anka dan Aksungur milik Turkish Aerospace. Belajar dari Turki, permasalahan utama bukan sekadar kemampuan menciptakan teknologi, melainkan keberlanjutan ekosistem industri.
Beberapa ganjalan utama yang masih dihadapi Indonesia meliputi:
- Keterbatasan SDM Aeronotika: Pengembangan teknologi penerbangan membutuhkan spesialisasi tinggi sehingga ketersediaan dan kesinambungan tenaga ahli menjadi krusial.
- Komitmen Anggaran dan Konsistensi Program: Riset kedirgantaraan membutuhkan investasi jangka panjang yang tidak boleh terputus di tengah jalan.
- Akses Komponen Dual Use: Komponen sensitif bernilai ganda (sipil dan militer) kerap sulit diimpor akibat pembatasan pasar internasional.
- Belum Adanya Regulasi Strategic Trade Management (STM): Ketiadaan aturan STM menyulitkan perusahan lokal dalam menjalin kemitraan riset jangka panjang dengan institusi luar negeri.
- Rantai Pasok Lokal yang Belum Solid: Perlu dorongan integrasi antara lembaga riset dan manufaktur untuk meningkatkan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Peta Jalan Indonesia Emas 2045 dan Kesiapan Manufaktur Lokal
Guna memecah kebuntuan tersebut, Bappenas telah menyiapkan Peta Jalan Pengambangan Ekosistem Industri PUNA dalam dokumen RPJPN 2025–2045.
Salah satu strategi besarnya mencakup rencana alokasi Bandara Kertajati sebagai kawasan Aerospace Park sekaligus sandbox bagi perkembangan Low Altitude Economy.
Dari sisi manufaktur pertahanan dan industri swasta, penguatan kemampuan teknis juga terus menunjukkan grafik positif:
- PT LEN: Telah mengembangkan sistem kendali terbang dan darat mandiri (AUTACS) berbasis micro-controller, serta memperkuat portofolio produk Aerobait, Aerostrike, dan AeroSight.
- Asosiasi Sistem dan Teknologi Tanpa Awak (ASTTA): Melalui 10 perusahaan anggotanya, industri drone swasta terus memperluas kapasitas fasilitas produksi dan integrasi sistem.
Kemandirian industri drone Indonesia semoga bukan sekadar impian tanpa dasar. Dengan konsistensi komitmen anggaran, regulasi pendukung seperti STM, serta sinergi antara BRIN, pemerintah, dan pelaku industri, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pemain utama industri drone di kawasan kawasan regional menuju Indonesia Emas 2045.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply