Sosok Serda Ahmad Muzammil, Diduga Dianiaya Senior hingga Tewas

Serda Ahmad Muzammil Diduga Tewas Dianiaya Senior
Sharing for Empowerment

Serda Ahmad Muzammil Farisa diduga meninggal setelah dianiaya senior. Keluarga mengenang sosoknya yang pendiam, baik, dan penyayang.

MAGETAN, KalderaNews.com-  Media sosial dihebohkan dengan kabar kematian Serda Ahmad Muzammil  Farisa,  prajurit TNI Angkatan Udara (AU) yang diduga dianiaya senior.

Kematian Serda Ahmad membuat pihak keluarga menyerahkan proses hukum  tersebut kepada aparat penegak hukum dan meminta kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan senior almarhum ditangani secara serius, adil, dan transparan.

Serda Ahmad Muzammil Farisa yang bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, diduga meninggal setelah mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh empat anggota seniornya.

Prajurit asal Magetan, Jawa Timur, itu diketahui telah bertugas di lingkungan Dinas Psikologi Mabes TNI AU selama sekitar satu setengah tahun.

BACA JUGA:

Keluarga Ajukan Otopsi

Serda Ahmad Muzammil Farisa yang bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, diduga meninggal setelah mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh empat anggota seniornya.

Prajurit asal Magetan, Jawa Timur, itu diketahui telah bertugas di lingkungan Dinas Psikologi Mabes TNI AU selama sekitar satu setengah tahun.

Ayah almarhum, Toni Eko Prasetyo, mengatakan keluarga mempercayakan sepenuhnya penanganan perkara tersebut kepada aparat yang berwenang.

Namun, ia berharap proses hukum dilakukan tanpa tebang pilih dan tidak menjadikan alasan tertentu sebagai pembenaran atas dugaan penganiayaan.

Toni berharap empat anggota senior yang diduga terlibat dan menyebabkan putranya meninggal dapat memperoleh sanksi yang setimpal dengan perbuatannya.

Menurutnya, apa pun latar belakang maupun tujuan di balik dugaan penganiayaan tersebut, perkara itu harus mendapatkan perhatian serius dan diproses sesuai hukum.

Untuk mengetahui penyebab pasti kematian putranya, keluarga mengajukan permohonan otopsi kepada Dinas Psikologi Mabes AU. Hingga Jumat (11/9/2026) sore, hasil pemeriksaan tersebut masih belum diterima keluarga.

Toni berharap hasil otopsi dapat memberikan gambaran mengenai kondisi medis yang menyebabkan kematian Ahmad sekaligus memperkuat bukti yang diperlukan dalam proses hukum.

Kronologi Kematian

Keluarga pertama kali memperoleh informasi mengenai kondisi Ahmad pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, keluarga mendapat kabar bahwa Ahmad telah berada di Unit Gawat Darurat (UGD) dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Empat anggota TNI yang diduga terlibat dalam penganiayaan hingga menyebabkan Serda Ahmad meninggal dunia di Asrama Halim Perdanakusuma, Jakarta, telah diamankan.

Ironisnya, dugaan penganiayaan tersebut disebut bermula dari persoalan sepele saat Serda Ahmad diminta membeli mi untuk para seniornya. Menurut keterangan ayah korban, Toni Eko Prasetyo, peristiwa itu bermula pada Rabu, 9 September 2026, ketika Serda Ahmad mendapat perintah dari senior di asrama untuk membeli makanan.

Namun, makanan yang dibawa Serda Ahmad ternyata tidak sesuai dengan pesanan para senior. Toni menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, putranya diminta membeli mi kuah, tetapi justru membawa mi goreng.

Kesalahan tersebut kemudian diduga menjadi pemicu penganiayaan terhadap Serda Ahmad oleh empat anggota seniornya. Dugaan kekerasan itu disebut tidak hanya terjadi sekali, tetapi berlanjut hingga Kamis (10/9/2026) dini hari.

Serda Ahmad akhirnya meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan berulang. Ia juga diduga mendapat hantaman benda tumpul yang menjadi bagian dari rangkaian penganiayaan sebelum nyawanya tidak tertolong.

Adapun yang membuat keluarga semakin terpukul, informasi awal yang diterima mengenai kematian Serda Ahmad menyebutkan bahwa prajurit tersebut meninggal akibat kecelakaan.

Sosok Serda Ahmad, Dikenal Pendiam dan Penyayang Keluarga

Di mata keluarga, Ahmad dikenal sebagai sosok yang baik, tenang, ramah, dan murah senyum. Sifat pendiam tersebut disebut sudah terlihat sejak ia masih kecil.

Salah satu anggota keluarga, Warsini, mengatakan Ahmad tidak pernah menceritakan persoalan pekerjaan maupun masalah yang dialaminya selama menjalankan tugas sebagai anggota TNI AU. Keluarga juga mengaku tidak mengetahui adanya persoalan yang sedang dihadapi Ahmad sebelum kabar kematiannya.

Meski memiliki karakter pendiam, Ahmad dikenal aktif berolahraga dan dekat dengan keluarganya. Ia juga cukup sering menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuanya di Magetan.

Pada Agustus 2026, Ahmad masih sempat pulang dan bermain voli di lapangan bersama keluarga. Kebiasaannya untuk pulang ke rumah menjadi salah satu kenangan yang masih melekat bagi keluarga. Ahmad merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Toni Eko Prasetyo dan Retno Setio Rini.

Jenazah Serda Ahmad Muzammil Farisa dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang berada tidak jauh dari rumah duka di Magetan pada Kamis (10/9/2026) malam. Pemakaman tersebut dilaksanakan tanpa upacara militer.

Saat ini, keluarga masih menunggu hasil otopsi dan perkembangan proses hukum terkait dugaan penganiayaan tersebut. Keluarga berharap pihak yang terbukti terlibat dapat dijatuhi hukuman secara adil sehingga ada kepastian hukum dan keadilan bagi almarhum.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


14 views