
JAKARTA, KalderaNews.com – Buku Sejarah Nasional Indonesia resmi dirilis oleh Kementerian Kebudayaan. Akankah jadi buku wajib bagi siswa?
Karya monumental ini setebal 7.958 halaman yang tersusun dalam 11 jilid.
Menteri Pendidikan Kebudayaan, Fadli Zon, angkat bicara mengenai potensi karya kolaborasi 123 penulis dari 34 perguruan tinggi di Indonesia ini untuk menjadi materi ajar.
BACA JUGA:
- Pemerintah Resmi Tetapkan 14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional
- Sangkal Tragedi Pemerkosaan Massal pada 1998, Hendardi: Fadli Zon Tidak Punya Empati
- Kontroversi! Mahasiswa UTA 45 Diskors Gara-gara Bahas “Soeharto Bukan Pahlawan!”
Menurut Fadli Zon, buku sejarah yang baru dirilis ini memiliki potensi besar, namun statusnya sebagai materi ajar resmi di sekolah tidak diputuskan oleh pihaknya saat ini.
“Saya kira ini bisa menjadi salah satu acuan (referensi) utama,” ujar Fadli Zon.
“Tetapi tentu ini kan kebijakan itu ada nanti kepada Menteri Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah) atau Dikti (Pendidikan Tinggi),” lanjutnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meski merupakan sumber sejarah terbaru yang kredibel, penetapan buku ini sebagai kurikulum wajib di kelas masih membutuhkan persetujuan dari otoritas pendidikan terkait.
Bukan untuk siswa, tapi senjata guru lawan hoaks
Salah satu editor umum buku ini, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., memberikan klarifikasi penting mengenai target pembaca utama dari karya setebal hampir 8.000 halaman ini.
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro tersebut mengakui bahwa menyajikan buku setebal itu langsung kepada pelajar dapat membuat mereka “mabuk duluan” hanya karena melihat ukurannya.
Maka, Singgih menjelaskan bahwa buku ini diproyeksikan sebagai bahan dasar (basic material) bagi para guru dan peneliti.
“Ini menjadi basic bagi guru maupun peneliti bagaimana nanti ini dijadikan sebagai bahan dasar untuk menyusun narasi-narasi yang lebih bisa dipahami (oleh siswa),” tegas Singgih.
Ia juga menekankan bahwa penulisan ulang sejarah ini menjadi benteng penting di tengah maraknya hoaks dan pseudohistory (sejarah palsu) di masyarakat.
Dengan menggunakan metodologi dan sumber yang valid, buku ini diharapkan dapat membantu generasi muda membedakan fakta sejarah otentik dari narasi yang menyesatkan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply