Heboh awan pelangi di Jonggol Bogor. Simak penjelasan ilmiah BMKG mengenai Cloud Iridescence dan awan Towering Cumulus di sini.
BOGOR, KalderaNews.com – Masyarakat Jonggol, Kabupaten Bogor, dihebohkan oleh penampakan fenomena langka di langit pada Jumat (1/5/2026) siang.
Semburat warna-warni menyerupai pelangi muncul di sela-sela awan di Jonggol sekitar pukul 14.22 WIB.
Fenomena yang tidak membentuk lengkungan sempurna ini sempat memicu kemacetan karena banyaknya warga yang menepi untuk mengabadikan momen tersebut.
BACA JUGA:
- Fenomena Langka! ‘Gerhana’ Bintang Akan Hiasi Langit Indonesia
- Jakarta Dikepung El Nino “Godzilla”, Panas Jadi Petaka Kesehatan
- Apa itu El Nino yang Bikin Kemarau Makin Panas dan Panjang?
Salah satu saksi mata menuturkan bahwa warna tersebut muncul meski kondisi cuaca belum turun hujan.
Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini fenomena langka yang berbahaya?
Mari kita bedah secara ilmiah mengenai mekanisme dan penyebab munculnya spektrum warna indah di awan ini.
Apa Itu Cloud Iridescence (Awan Pelangi)?
Berdasarkan data dari National Environmental Satellite, Data, and Information Service (NOAA), fenomena ini secara ilmiah dikenal sebagai Cloud Iridescence atau iridisensi awan.
Ini adalah peristiwa optik atmosfer yang terjadi ketika cahaya matahari terhambur oleh tetesan air atau kristal es kecil yang berukuran seragam di dalam awan.
Berbeda dengan pelangi biasa yang membutuhkan butiran air hujan besar untuk membiaskan cahaya, iridisensi terjadi melalui proses difraksi.
Cahaya matahari yang melewati pinggiran awan yang tipis akan terbelokkan dan menghasilkan spektrum warna yang menyebar mengikuti bentuk awan tersebut.

Berbeda dengan pelangi biasa yang membentuk lengkungan sempurna di sisi langit yang berlawanan dengan matahari, iridisasi biasanya muncul di dekat posisi matahari.
Warna-warni ini sering kali muncul pada jenis awan tertentu, seperti:
- Awan Altostratus atau Altokumulus.
- Awan Sirus (awan tinggi yang terdiri dari kristal es).
- Awan Lentikular (awan yang berbentuk seperti lensa atau cakram).
Penjelasan BMKG: Peran Awan Towering Cumulus
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena di langit Jonggol ini.
Menurutnya, penampakan tersebut adalah hasil interaksi cahaya matahari dengan butiran air di udara, baik dari sisa hujan maupun hujan yang tengah terjadi di wilayah sekitar.
Ada beberapa poin penting yang dijelaskan oleh BMKG terkait bentuk pelangi yang tidak utuh tersebut:
- Interaksi Cahaya: Warna pelangi muncul akibat pembiasan cahaya pada butir air yang ada di atmosfer.
- Awan Towering Cumulus: Ida menyebutkan adanya keberadaan awan towering cumulus (awan konvektif yang tumbuh menjulang) yang menutupi sebagian jalur pelangi. Hal inilah yang membuat pelangi terlihat tidak melengkung sempurna, melainkan tampak seperti “potongan” warna yang menempel pada awan.
- Proses Konvektif: Munculnya fenomena ini menandakan adanya proses pertumbuhan awan konvektif yang dinamis di wilayah tersebut.
Apakah Awan Pelangi Pertanda Bahaya?
Munculnya warna-warna aneh di langit sering kali dikaitkan oleh masyarakat dengan pertanda bencana alam. Namun, BMKG menegaskan bahwa awan pelangi bukan merupakan tanda bahaya.
“Fenomena ini bukan tanda langsung akan terjadi badai, melainkan menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal di sekitar wilayah tersebut,” jelas Ida Pramuwardani.

Fenomena ini justru menjadi indikator kondisi atmosfer yang jenuh dengan uap air, meskipun di lokasi pengamat cuaca masih terpantau cerah atau hanya berawan sebagian.
Fenomena awan pelangi di Jonggol adalah murni peristiwa optik atmosfer yang melibatkan difraksi dan refleksi cahaya matahari.
Meskipun indah dan jarang terjadi, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mengaitkannya dengan mitos kebencanaan, melainkan menikmatinya sebagai kekayaan fenomena alam Indonesia.
Pelangi Biasa Vs Cloud Iridescence
Perbedaan mendasar antara pelangi biasa dan cloud iridescence terletak pada mekanisme fisika dan media pembentuknya.
Pelangi biasa terbentuk melalui proses refraksi atau pembiasan cahaya pada butiran air hujan yang relatif besar, sehingga menciptakan lengkungan busur sempurna yang biasanya muncul setelah hujan reda.
Sebaliknya, cloud iridescence terjadi akibat difraksi atau lenturan cahaya matahari saat melewati tetesan air atau kristal es yang sangat kecil dan seragam di dalam awan yang tipis.
Dari sisi visual, jika pelangi membentuk busur, awan irisasi tampil lebih fleksibel dengan warna-warni yang mengikuti bentuk atau tepian awan, serta sering kali menjadi indikator adanya pertumbuhan awan konvektif meskipun kondisi sekitar belum turun hujan.
Jika pelangi memiliki urutan warna tetap (Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U), warna pada Cloud Iridescence cenderung lebih acak atau berbentuk pastel yang mengikuti kontur awan.
Penampakan ni disebabkan oleh cara mata manusia menafsirkan berbagai panjang gelombang cahaya yang melewati diameter tetesan air yang bervariasi di tepian awan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply