Viral Mahasiswa Unisa Berbusana Perempuan, Ini Respons Rektorat dan Netizen

Unggahan kritis dari akun @mkc.unisa
Unggahan kritis dari akun @mkc.unisa (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh unggahan terkait seorang mahasiswa aktif Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Mahasiswa dari Program Studi Sarjana Psikologi tersebut dilaporkan melakukan dugaan pelanggaran tata tertib dan sejumlah norma di lingkungan kampus, termasuk mengenakan busana perempuan.

BACA JUGA:

Informasi ini menjadi perbincangan publik setelah diunggah oleh salah satu akun komunitas media sosial. Unggahan tersebut menyoroti keresahan para mahaviswi terkait privasi dan rasa aman mereka di area institusi pendidikan tinggi berbasis Islam tersebut.

Kronologi dan Keresahan yang Viral di Media Sosial

Isu ini mencuat ke permukaan salah satunya melalui unggahan akun Instagram @mkc.unisa. Dalam narasi yang beredar, akun tersebut menyampaikan kritik tajam mengenai hilangnya keberanian institusi untuk menegakkan nilai Islam demi menjaga citra atau branding kampus.

Beberapa poin krusial yang disorot dalam unggahan tersebut meliputi:

  • Pelanggaran Etik Lintas Gender: Oknum mahasiswa pria tersebut kedapatan mengenakan pakaian wanita di area kampus.
  • Tergadaikannya Privasi Mahasiswi: Muncul dugaan bahwa oknum tersebut menyusup ke fasilitas toilet atau kamar mandi mahasiswi, hingga laporan mengenai menginap di indekos lawan jenis.
  • Kritik Terhadap Jargon Kampus: Pembiaran awal dinilai menjadi tamparan keras bagi jargon “Kampus Islam Berkemajuan”, karena berujung pada tergadaikannya rasa aman dan syariat. Desakan juga mengalir agar Peraturan Rektor terkait perilaku lintas gender dipertegas demi mengembalikan wibawa institusi.

Respons Resmi Unisa Yogyakarta: Mahasiswa Terkait Tengah Dibina

Menanggapi polemik yang menggelinding panas di ruang digital, Wakil Rektor III Unisa Yogyakarta, Mufdlilah, memberikan klarifikasi resmi. Pihak kampus menegaskan bahwa kasus ini sudah diketahui dan langsung ditangani sesuai prosedur yang berlaku di universitas.

Mufdlilah menyampaikan bahwa mahasiswa yang bersangkutan saat ini sedang menjalani proses pembinaan intensif oleh pihak kampus agar tidak mengulangi pelanggaran norma sosial, agama, dan kode etik tersebut.

“UNISA juga akan terus melakukan penguatan sistem pembinaan kemahasiswaan, sosialisasi tata tertib, penguatan karakter, serta evaluasi kebijakan guna memastikan terciptanya lingkungan akademik yang aman, tertib, dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika,” tegas Mufdlilah dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/6/2026) malam.

Pihak rektorat juga mengimbau masyarakat luas agar menyikapi rumor ini secara bijak dengan mengedepankan prinsip tabayyun (mencari kejelasan fakta) serta menghindari aksi perundungan (cyberbullying).

Pro dan Kontra Reaksi Netizen: Antara Validasi Data dan Isu Penggiringan Opini

Unggahan kritis dari akun @mkc.unisa tersebut langsung dibanjiri komentar dari netizen, alumni, hingga pemilik kos di sekitar kampus. Reaksi yang muncul terbelah menjadi beberapa sudut pandang utama:

1. Keresahan Pemilik Kos dan Kesaksian Warga sekitar

Beberapa netizen mengonfirmasi bahwa perilaku oknum mahasiswa tersebut memang sudah meresahkan lingkungan sekitar kampus.

  • “FYI kasus gay oleh mahasiswa unisa sudah sampai ditegur masyarakat sekitar… berkali-kali di tegur masyarakat untungnya sekarang sudah pergi jadi mohon diperhatikan demi nama baik unisa,” ungkap salah satu netizen yang mendulang ratusan tanda suka.
  • “Aduh.. Boleh spill gak ya siapa mhs itu, saya sebagai pemilik sebuah indekos sangat2 resah…” tulis netizen lainnya yang mengkhawatirkan keamanan lingkungan kos.

2. Kekecewaan Alumni dan Desakan Sanksi Tegas

Sejumlah alumni membandingkan ketatnya aturan kampus di masa lalu dengan kondisi kelonggaran saat ini.

  • “Aku alumni aisyiyah jogja 2014… Zaman kami kuliah, ga ada model2 beginian.. syok banget ternyata sekarang udah makin terang2an… Semoga dikeluarkan dari kampus,” tulis seorang alumni.
  • “Kalo dijamanku dulu pasti udah habis kasus begini ga ada ampun… cara berpakaian, bersikap bahkan cara duduk aja diatur bgt loh dulu tu…” timpal alumni lainnya.

3. Tudingan Penggiringan Opini dan Sentimen Negatif ke Institusi

Di sisi lain, tidak sedikit netizen yang menilai narasi yang dibangun oleh akun pengunggah terlalu tendensius dan berpotensi menjadi ajang doxing atau upaya menjatuhkan nama baik organisasi Muhammadiyah/’Aisyiyah.

  • “Narasinya sangat kental penggiringan opini… Setuju jika memang ini suatu fakta, maka pihak kampus perlu mengambil sikap tegas. Hanya saja, narasi yg dibuat tidak proporsional dan terkesan sangat tendensius dg tengara lebih ingin menjelekkan institusi,” kritik salah satu akun secara jeli.
  • “Dri artikel yg saya baca dari awal sampai habis blom di nyatakan valid…. jdi ini arahnya siii anu ada unsur pingin menjatuhkan organisasi Muhammadiyah…” sebut netizen lain.

4. Saran Solusi yang Humanis

Sebagian warganet juga mengingatkan agar pendekatan yang dilakukan tetap berbasis pemulihan karakter, bukan sekadar pemecatan.

  • “Harusnya MU merangkul mereka, ajak ke jalan yg benar. Bukan mendepaknya. Disini peran MU dibutuhkan, bukan malah menjauhkan,” tulis netizen memberikan pandangan alternatif yang lebih bijak.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*