
Kontroversi CoC Ruangguru memanas di Threads akibat isu keteledoran screening status akademis dan dugaan kasus pelecehan.
JAKARTA, KalderaNews.com – Ajang kompetisi adu kecerdasan akademis Clash of Champions (CoC) yang digagas oleh Ruangguru tengah menjadi pusat perhatian publik.
Namun, bukan hanya karena prestasi memukau para pesertanya, melainkan karena gelombang kontroversi yang baru-baru ini mencuat di media sosial, khususnya melalui unggahan viral di platform Threads.
BACA JUGA:
- Profil dan Biodata Vannes, Mahasiswa NTU yang Jadi Grand Finalist Clash of Champions Season 2
- Profil Amadeo Yesa, Peserta CoC Season 2 yang Raih Skor UTBK 2023 Tertinggi di Indonesia
- Profil dan Biodata Luthfi Peserta Clash Of Champions Season 2 dari KAIST
Kompetisi yang awalnya dinilai sebagai angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia ini kini harus menghadapi kritik tajam terkait sistem penyaringan (screening) peserta yang dinilai teledor oleh publik.
Kronologi Kegaduhan: Unggahan Viral di Threads
Kontroversi ini bermula dari unggahan akun Threads @acha_natari yang mempertanyakan validitas status salah satu peserta berinisial G yang berhasil lolos hingga babak kedua.
Melalui unggahannya, ia mempertanyakan bagaimana tim manajemen Ruangguru bisa meloloskan peserta tersebut.
“Gimana tim Ruang Guru ngecutnya coba, kok bisa ruang guru kecolongan gini pas screening gimana dah?? bukannya ada pas pendaftaran ada persetujuan dari pihak kampus ya? Padahal doi di pddikti nonaktif dari 2025,” tulis akun @acha_natari.
Isu ini menggelinding bak bola salju setelah muncul dugaan pelanggaran perilaku serius di masa lalu terkait peserta tersebut, yang memicu reaksi keras dan kecaman dari netizen.
Kritik Netizen: Dari Status Akademis hingga Relevansi Prestasi
Kolom komentar pada unggahan viral tersebut segera dipenuhi oleh berbagai sudut pandang netizen yang menyoroti kelemahan sistem verifikasi Ruangguru. Secara garis besar, kritik netizen terbagi menjadi tiga poin utama:
1. Keteledoran Validasi Data PDDIKTI
Netizen mempertanyakan kredibilitas proses screening administrasi. Jika status peserta sudah nonaktif di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) sejak tahun 2025, publik merasa aneh mengapa tim Ruangguru tidak mendeteksi hal tersebut sejak awal pendaftaran.
2. Transparansi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)
Beberapa netizen menyoroti bahwa capaian akademis peserta tersebut terbilang standar untuk sebuah ajang yang melabeli diri sebagai “kompetisi otak”.
“Aneh juga si IPK-nya si G ini, IPK biasa aja, bener-bener ga ada highlight bagusnya dia buat jd peserta juga,” tulis akun @rsydoo.
3. Relevansi Prestasi Non-Akademik
Sorotan lain tertuju pada latar belakang prestasi yang dipajang. Sebagian netizen merasa aneh ketika kompetisi yang menguji kemampuan matematika, logika, dan memori justru memasukkan peserta dengan latar belakang utama di bidang olahraga (finswimming).
Meskipun begitu, beberapa netizen lain membela dengan menyatakan bahwa ajang CoC sebelumnya juga sering melibatkan peserta dengan bakat non-akademik yang beragam.
Dugaan Pelanggaran Perilaku dan Pelecehan di Masa Lalu
Di samping masalah administrasi akademis, polemik ini semakin memanas setelah munculnya gelombang kritik netizen terkait rekam jejak moral salah satu peserta berinisial G. Isu yang paling menyita perhatian publik di platform Threads adalah adanya dugaan tindakan pelecehan berupa perekaman tanpa izin di area privat.
Melalui unggahan yang viral, netizen mengungkap bahwa peserta tersebut diduga pernah melakukan tindakan tidak terpuji dengan memvideokan seorang perempuan yang sedang mandi saat masa Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Munculnya isu pelecehan ini memicu kemarahan publik yang menilai bahwa pihak Ruangguru tidak hanya teledor dalam memeriksa validitas data akademis, tetapi juga gagal melakukan background check mendalam terkait etika, moral, dan perilaku sosial para kontestan sebelum meloloskan mereka ke layar kaca.
Mengapa Ruangguru Memasukkan Unsur Kedinasan?
Di tengah perdebatan, netizen juga menganalisis motif di balik pemilihan latar belakang instansi peserta. Akun @pebrinatriandini mengemukakan pendapat bahwa langkah ini kemungkinan berkaitan dengan strategi bisnis dan segmentasi pasar Ruangguru.
Sebagai platform yang juga memiliki lini produk bimbingan belajar (bimbel) khusus seleksi sekolah kedinasan, kehadiran representasi dari institusi tersebut dinilai tak ubahnya strategi daya tarik bagi jutaan anak muda Indonesia yang bermimpi masuk sekolah kedinasan karena jaminan ikatan dinas.
Evaluasi untuk Ruangguru
Dari sudut pandang industri digital dan edukasi, kasus ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya Trustworthiness (Kepercayaan) dan Expertise (Keahlian) dalam menyelenggarakan acara berskala nasional.
Sebagai pionir edutech di Indonesia, Ruangguru memikul tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa seluruh peserta yang ditampilkan tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga memiliki rekam jejak moral dan status akademis yang valid.
Keteledoran dalam fase background check dapat mengikis kepercayaan publik terhadap objektivitas kompetisi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply