Heboh Perundungan PPDS Anestesi Unsrat Viral, dr Adrian Rantung Meninggal

dr. Adrian Rantung, peserta PPDS Anestesi Unsrat di RSUP Kandou
dr. Adrian Rantung, peserta PPDS Anestesi Unsrat di RSUP Kandou (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Imbas dugaan perundungan terkait wafatnya dr. Adrian Rantung, kegiatan PPDS Anestesi Unsrat di RSUP Kandou resmi distop sementara

JAKARTA, KalderaNews.com – Dunia kedokteran Indonesia kembali diselimuti awan hitam. Sebuah kabar duka yang memicu keprihatinan publik viral di media sosial setelah akun X Threads @divertikulitizz mengabarkan wafatnya seorang dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

BACA JUGA:

Kejadian ini kembali memicu diskusi publik yang masif mengenai urgensi reformasi sistem pendidikan kedokteran spesialis di Indonesia, khususnya terkait dugaan praktik perundungan (bullying) yang masih membayang-bayang.

Kronologi Kabar Duka dr. Adrian Rantung yang Viral

Berdasarkan informasi yang beredar luas di media sosial dan bersumber dari unggahan komunitas kedokteran @ppdsgramm, korban diidentifikasi sebagai dr. Adrian Rantung.

Ia merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (FK Unsrat) angkatan 2010 dan saat ini tengah menempuh pendidikan lanjut sebagai residen PPDS Anestesi di universitas yang sama.

Mendiang dilaporkan ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamar kostnya. Unggahan tersebut memicu gelombang simpati sekaligus spekulasi kuat dari warganet bahwa sang dokter mengalami tekanan hebat akibat dugaan tindakan perundungan selama menjalani masa PPDS.

“Turut berdukacita atas meninggalnya senior dr. Adrian Rantung (FK Unsrat 2010, saat ini tengah menjalani PPDS Anestesi FK Unsrat). Beliau ditemukan tak bernyawa di kamar kostnya. Dugaan kuat, beliau mengalami perundungan,” tulis akun @divertikulitizz.

Reaksi Keras dan Desakan Netizen

Unggahan dari akun @divertikulitizz langsung diserbu oleh ratusan komentar dari warganet. Banyak yang merasa geram karena kasus seperti ini terus berulang di lingkungan pendidikan kedokteran spesialis.

Berikut adalah beberapa reaksi dan petikan komentar langsung dari akun-akun asli netizen di media sosial:

  • @brahmanipritad: Menyoroti pertanggungjawaban pihak universitas. “Jgn dikasi kepercayaan lgi nie kampus klo gtu, kqsian anak org mahal2 skolah berakhir tragis😭💔. Rest in peace pak dokter🙏😭.”
  • @penjahittakdir: Menyuarakan keprihatinan mendalam atas pilihan hidup profesi. “Padahal jd dokter umum aja jg gpp bro … 😭😭”
  • @snkamalia: Menunjukkan rasa syok publik terhadap realita dunia medis. “Ternyata dunia pendidikan dokter seperti ini yaaa”
  • @cococrunchinmood: Menyayangkan tiadanya pembenahan sistemik. “Ih naha si keulang lg 😢😢”
  • @calistadioraheppy: Menyoroti kontradiksi profesi penyembuh yang menjadi pelaku. “Dokter aja bisa ngerundung.”
  • @its.anamarissa: Melayangkan kritik paling keras terhadap ekosistem PPDS yang dianggap toksik. “Goblok banget dah ini tukang bully, udah tau jadi dokter susah banget, ada yang mau PPDS malah dipersulit. Gimana profesi dokter mau banyak di negeri ini kalau sistemnya masih bobrok mampus kaya gini… Nabung karma buruk sampai anak orang hilang nyawa.. RIP untuk dokter Adrian..”

Urgensi Perlindungan Mental di Lingkungan PPDS

Transparansi dari pihak universitas dan rumah sakit pendidikan sangat diuji dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini. Kepercayaan publik (Trustworthiness) terhadap institusi pendidikan kedokteran di Indonesia dapat terancam jika regulasi pencegahan perundungan tidak ditegakkan secara radikal.

Kementerian Kesehatan dan Kemendikbudristek sebelumnya telah mengeluarkan instruksi tegas dan menyediakan kanal pelaporan perundungan.

Namun, insiden yang terus berulang mengindikasikan perlunya pengawasan yang lebih ketat, penegakan sanksi hukum yang menjerakan bagi pelaku, serta penyediaan fasilitas mental health support yang bebas dari stigma bagi para dokter residen.

Hingga artikel ini dimuat, publik dan komunitas medis terus mengawal perkembangan investigasi resmi dari pihak berwenang mengenai penyebab pasti meninggalnya dr. Adrian Rantung.

Kemenkes Stop PPDS Anestesi Unsrat

Kementerian Kesehatan RI resmi menghentikan sementara kegiatan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di RSUP Prof Dr R D Kandou, Manado.

Langkah tegas ini diambil menyusul kematian tragis dr. Adrian Rantung yang ditemukan meninggal dunia di kediamannya, diduga akibat mengalami tekanan berat dan perundungan (bullying) selama masa pendidikan.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya (Aco), membenarkan adanya dugaan perundungan tersebut. Ia menegaskan bahwa operasional pendidikan dihentikan sementara demi kelancaran proses investigasi menyeluruh.

“Aktivitas PPDS di RS Kandou akan dibuka kembali setelah ada hasil investigasi tim terhadap kasus tersebut. Yang dihentikan hanya kegiatan pendidikannya, bukan prodinya,” ujar Azhar Jaya saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

Investigasi Libatkan Tim Gabungan Multi-Kementerian

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan berapa lama proses penghentian sementara ini akan berlangsung. Kemenkes telah menurunkan tim gabungan lintas instansi untuk mengusut tuntas kasus ini secara terbuka. Tim tersebut melibatkan:

  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
  • Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
  • Kolegium Anestesi
  • Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)

Bukan Pelanggaran Pertama di Unsrat

Kasus pembekuan kegiatan PPDS akibat isu perundungan di RSUP Kandou Manado ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada akhir tahun 2024 lalu, Kemenkes juga sempat menyetop sementara PPDS Prodi Ilmu Penyakit Dalam FK Unsrat di rumah sakit yang sama.

Kala itu, sanksi dijatuhkan setelah ditemukan bukti adanya pemungutan liar di luar biaya pendidikan, ancaman, kekerasan verbal dan non-verbal, hingga adanya normalisasi budaya perundungan oleh oknum senior maupun dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP).

Publik dan komunitas medis kini terus mengawal jalannya investigasi gabungan ini untuk memastikan adanya reformasi sistemik dan perlindungan bagi para dokter residen.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*