Daya Tarik Program MME Swiss German University (SGU) di Mata Profesional Muda

Mahasiswa Program Master of Mechanical Engineering (MME) Swiss German University (SGU), Fuad Widiatmoko
Mahasiswa Program Master of Mechanical Engineering (MME) Swiss German University (SGU), Fuad Widiatmoko (KalderaNews/Dok. Pribadi)

TANGERANG, KalderaNews.com – Pascasarjana Swiss German University (SGU) dengan 4 program master (S2) terbaiknya, yakni Master of Arts (MA), Master of Business Administration (MBA), Master of Infomation Technology (MIT) dan Master of Mechanical Engineering (MME) memiliki daya tarik tersendiri bagi profesional muda untuk bergabung dan mengupdate ilmunya.

Salah seorang profesional muda di Program Master of Mechanical Engineering (MME) Swiss German University (SGU), Fuad Widiatmoko mengaku kepincut dengan MME di SGU karena sejumlah alasan. Selain karena para dosennya mayoritas lulusan luar negeri dari negara-negara dengan revolusi industri terdepan, kurikulum kuliahnya juga nggak ketinggalan zaman dan related dengan pekerjaannya.

“Latar belakang saya di robotic. S1 di Teknik Elektro lalu dapat kerja di Cikarang yang tidak jauh dari robotic. Kebetulan bidang pekerjaan saya sama dengan yang saya pelajari saat di kampus S1 dulu. Ada robotic, AI, automation dan mechatronic,” aku Fuad saat berbincang dengan KalderaNews.

BACA JUGA:

Setelah 4 tahun bekerja, ia merasa perlu mendalami ilmu yang digelutinya. Apalagi, lingkup pekerjaaannya memang menuntut update ilmu seperti AI (Artificial Intelligence). Nah, setelah cukup lama research di internet, ia pun kepincut dengan Master of Mechanical Engineering (MME) di Swiss German University (SGU).

Upgrade Ilmu dan Karier

“Saya S2 di SGU ambil mechatronic (mekatronik) setelah bekerja 4 tahun sejak 2016 karena ingin mengupgrade ilmu (pendidikan) dan tentunya untuk karier. S2 gajinya lebih tinggi,” akunya.

Ada banyak pertimbangan kenapa akhirnya ia memutuskan memilih kuliah MME di SGU. Salah satunya soal waktu. Ia mencari kampus dengan hari dan jam yang pas. MME di SGU ini dirasanya cocok karena pada Senin-Jumat ia bisa bekerja di Cikarang, baru kuliahnya pada Sabtu (full day).

Selanjutnya, ia pun harus pandai mengatur waktu, seperti tugas kuliah yang wajib dikerjakan Minggu pagi agar Senin dan setelahnya itu benar-benar free dan nggak ada beban dari kampus. Diakuinya, istirahat praktis cuma minggu setengah hari. Namun baginya, ini semua tak mengapa dan harus dijalani karena pendidikan memang butuh pengorbanan, seperti halnya mengorbankan waktu bersama keluarga untuk sementara.

Selain waktu, pilihan jurusan juga menjadi pertimbangannya saat memilih untuk lanjut kuliah.

“Saya cari yang sejurusan mekatronika atau elektro dan yang waktunya nggak bentrok dengan jam kerja. Akhirnaya (saya-red) menemukan SGU yang kuliahnya Sabtu full day.”

Tak berhenti di waktu dan jurusan yang pas, ia juga merasa perlu untuk mengecek kualitas para dosennya. Setelah riset di internet, ia baru merasa sreg, karena kebanyakan dosennya lulusan luar negeri. Tak melulu lulusan luar negeri semata, ternyata para dosennya bukan murni akademisi, tapi juga praktisi di lapangan. Mereka juga orang industri. Karena merasa waktu, jurusan dan dosennya cocok, ia nyoba daftar dan masuk.

Setelah perkuliahan dimulai, ia pun mengaku senang karena materi yang dipelajari di kelas related dengan industri yang ditekuninya sehari-hari.

“Walaupun tugasnya banyak, tetap ada hikmahnya. Ilmu yang dipelajari bisa dipakai di pekerjaan alias bukan angin lalu,” akunya

Sempat Minder

Masuk lagi dunia kampus, sempat membuatnya minder di awal-awal perkuliahan. Ia tergolong paling muda di antara teman-teman kuliahnya.

“Saya mulai kuliah S2 di umur 24, sementara yang lainnya ternyata sudah seumuran bapak saya. Awalnya minder karena nggak seumuran, tetapi lama-lama menarik juga. Lama-lama jadi menyenangkan. Tektokannya asyik karena ada yang dari industri juga.”

Perbedaan usia yang terpaut jauh justru mendatangkan banyak manfaat. Ia justru menemukan banyak ilmu yang bisa diserap dari mereka yang sudah berpengalaman di industri. Bahasanya juga cocok karena sama-sama dari industri.

“Di luar itu semua, kurikulum di MME SGU juga menarik karena selalu ada update. Materi dosen nggak old school lagi alias nggak ketinggalan zaman.”

Apalagi tempat kerjanya memang membuat solusi untuk customer lain (industri manufaktur), misalnya ngirim barang dari satu titik ke titik lain dengan robot, maka ilmu yang didapatkan diperkuliahan bisa langsung diimplementasikan sesuai kebutuhan di dunia kerja.

“Saya dapat mempelajari dalamannya robot lebih komprehensif dalam perkuliahan dan akhirnya saya implementasikan langsung di kantor. Robot itu pun kini bisa dijual dengan upgrade baru.”

Ia juga mengaku ada banyak hal baru yang belum diketahuinya selama ini terkait AI dan robotic, seperti struktur AI atau robot, toh akhirnya terjawab di perkuliahan dan dalam diskusi dengan teman-teman kuliahnya.

Nah, karena kepincut dengan AI, Fuad yang masih semester 3 tapi sudah ngambil tesis ini mengangkat teknologi AI dalam konteks kekinian, yakni untuk mendeteksi distancing ribuan orang.

Teknologi AI yang disematkan dalam kamera di area tertentu, seperti mall, ternyata bisa mendeteksi jarak antar orang secara real time. Dijelaskannya, misalnya jarak antar orang 2 meter yang berarti aman maka akan muncul tanda hijau, sedangkan jika jaraknya kurang dari 2 meter maka akan muncul alarm tertentu yang memerintahkan orang untuk mengambil jarak yang benar. Inovasi semacam ini tentu relevan untuk kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

“Ada banyak manfaat nyata kuliah di Program MME Swiss German University ini,” pungkasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*