Stafsus Alumni ITB dan Harvard Ini Bikin Malu, Ini Profil Lengkap Pendidikan Andi Taufan Garuda Putra

CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra saat diperkenalkan sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo
CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra saat diperkenalkan sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Foto: Antara)

JAKARTA, KalderaNews.com – Staf khusus presiden dari kalangan milenial Andi Taufan Garuda Putra bikin kehebohan. Ia menyurati para camat untuk mendukung perusahaannya melakukan program desa lawan Covod-19. Dalam surat yang ditandatanganinya dengan embel-embel staf khusus presiden tertulis kerja sama dengan PT Amartha Mikro Fintek yang tidak lain merupakan perusahaan miliknya.

Dengan pedenya ia menggunakan kop Sekretariat Kabinet Republik Indonesia untuk kepentingan perusahaan pribadinya PT Amartha Mikro Fintek (Amartha). Ia pun dikecam berbagai pihak. Meski telah mengeluarkan surat permohonan maaf atas surat yang dikeluarkannya tanggal 1 April 2020 lalu, desakan pemecatan terus menggema.

Penasaran dengan sosok muda yang ternyata lulusan ITB dan Harvard ini?

BACA JUGA:

Andi Taufan Garuda Putra atau biasa disapa Andi Putra lahir di Jakarta, 24 Januari 1987 (33 tahun). Ia pendiri lembaga peer to peer Lending bernama Amartha yang diangkat menjadi salah satu Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada 2019 lalu, bersama Adamas Belva Syah Devara, Putri Indahsari Tanjung, Ayu Kartika Dewi, Gracia Billy Mambrasar, Angkie Yudistia dan Aminuddin Ma’ruf.

Founder sekaligus CEO Amartha Mikro Fintek ini lulus dari SD Al-Azhar Kelapa Gading, Jakarta, SMP Negeri 6 Makassar, Sulawesi Selatan, SMA Negeri 5 Bandung, Jawa Barat.

Diulik dari Linkedin miliknya, setamat SMA ia kuliah di Institut Teknologi Bandung (Bachelor of Business Administration – BBA Business Administration and Management, General (2004-2007), Frankfurt School of Finance & Management untuk Summer Academy (2013) dan Harvard Kennedy School untuk Master of Public Administration – MPA Public Administration (2015-2016)

Setelah S1 ia sempat bekerja sebagai konsultan bisnis untuk IBM Global Business Services selama dua tahun. Namun, ia melihat banyak masyarakat Indonesia kesulitan untuk mendapatkan akses finansial. Pada tahun 2009, Taufan meninggalkan pekerjaannya dan mendirikan Amartha

Sejumlah penghargaan memang digondolnya mulai dari Ashoka Young Change Makers Awards Desember 2010, Finalis Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI), Juli 2011, SATU Indonesia Award dari Astra International Oktober 2011, Finalis Indonesia MDGs Awards, Februari 2012, Global Shapers by World Economic Forum April 2012, Indonesia’s Inspiring Youth and Women by Indosat, November 2012, 30 Promising Growth-stage Startups dari Forbes Indonesia, 2018, Growth Stage Impact Ventures SDG Finance Geneva Summit, Oktober 2019 dan masih banyak lagi.

Stafsus Jokowi lainnya yang kini jadi sorotan yakni Adamas Belva Syah Devara, pendiri dan CEO Ruangguru. Pasalnya, Ruangguru menjadi mitra resmi pemerintah dalam pelatihan online bagi peserta kartu prakerja. Secara khusus, keberadaan stafsus ini dipertanyakan kinerjanya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*