Teliti Ketimpangan Mobilitas di Jakarta dan Kuala Lumpur, Isti Hidayati Raih Wierenga-Rengerink Prize 2020




Isti Hidayati dengan Wierenga-Rengerink Prize dari University of Groningen pada Kamis, 1 Juli 2021
Isti Hidayati memegang Wierenga-Rengerink Prize dari University of Groningen pada Kamis, 1 Juli 2021 (KalderaNews/Dok. Nuffic Neso)

GRONINGEN, KalderaNews.com – Mahasiswa asal Indonesia Isti Hidayati menorehkan prestasi luar biasa yakni meraih penghargaan disertasi terbaik 202 (Wierenga-Rengerink Prize) dari Universitas Groningen di acara Summer Ceremony pada Kamis, 1 Juli 2021.

Dengan judul disertasi “Understanding mobility inequality: A socio-spatial approach to analyse transport and land use in Southeast Asian metropolitan cities”, Isti Hidayati berhak atas hadiah uang tunai sebesar €7.500.

Sebelumnya, penghargaan diberikan kepada Namkje Koudenburg (2014), Hanna van Loo (2015), Nigel Hamilton dan Jordi van Gestel (2016), Alain Dekker (2017), Michael Lerch (2018) dan Arpi Karapetian (2019).

BACA JUGA:

Disertasi “Memahami Ketidaksetaraan Mobilitas” adalah studi istimewa yang ditujukan untuk daerah urbanisasi di Asia Tenggara, di mana akses ke fasilitas sosial-ekonomi penting seperti pekerjaan, pendidikan dan perawatan kesehatan tidak merata di berbagai kelompok pendapatan dan gender.

Dalam kajiannya, Isti Hidayati menawarkan wawasan spasial sosial tentang ketimpangan mobilitas melalui studi kasus empiris di Jakarta dan Kuala Lumpur, sebagai contoh tipikal kota-kota besar di Asia Tenggara.

Kesimpulan studinya yakni praktik sosial dan konfigurasi spasial memengaruhi bagaimana ketimpangan mobilitas memanifestasikan dirinya di Jakarta dan Kuala Lumpur dalam bentuk marginalisasi pejalan kaki dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Terinspirasi dari keprihatinan melihat kondisi transportasi

Sejak kuliah S1 di Universitas Gadjah Mada dan juga saat kuliah S2 di Universität Stuttgart, Jerman, Isti sudah tertarik pada isu transportasi dan kesetaraan. Isti prihatin melihat kondisi transportasi di Indonesia yang semakin bergantung pada kendaraan pribadi, apalagi di Jogja.

“Saya bandingkan ketika saya masih sekolah, saya banyak menggunakan transportasi umum. Saat ini, banyak siswa yang memilih diantar menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan ojek online, fasilitas antar-jemput, atau membawa kendaraan sendiri. Padahal, saya merasa pengalaman naik angkutan umum itu menarik, bisa bertemu banyak orang dan melihat aktivitas orang lain,” terangnya.

Isti Hidayati menerima Wierenga-Rengerink Prize dari University of Groningen pada Kamis, 1 Juli 2021
Isti Hidayati menerima Wierenga-Rengerink Prize dari University of Groningen pada Kamis, 1 Juli 2021 (KalderaNews/Dok. Nuffic Neso)

Ia menambahkan kalau lagi suntuk, ketemu simbah-simbah yang selesai jualan di angkot dan cerita gimana hasil jualan hari ini, itu bisa bikin dirinya senang.

“Di sisi lain, saya juga pernah mengalami racism ketika saya travelling di luar negeri (karena saya pakai kerudung), yang saya pikir tidak adil. Saya bayangkan ada banyak orang yang juga mengalami racism dan pengalaman tersebut dapat menghalangi mereka bepergian.”

Dengan berbagai pengalaman konkret ini ia pun tertarik untuk lebih mendalami tentang pengalaman ketika melakukan perjalanan dan bahwa masing-masing individu tentunya punya pengalaman yang berbeda-beda.

Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih oleh Isti Hidayati. Peter berharap prestasi anak bangsa ini bisa menambah motivasi para pelajar Indonesia lainnya dalam bersaing di kancah internasional.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*