Oleh: Ignatius Winarto, S.Pd, Guru Sejarah SMA Tarakanita 2 Jakarta
JAKARTA, KalderaNews.com – Jakarta, seakan memiliki magnet bagi masyarakat Indonesia. Saat ini Jakarta jadi pusat politik pemerintah, ekonomi dan juga multikulturalnya hidup sosial budaya. Jakarta seperti “miniaturnya” Indonesia.
Ada yang istimewa dari kota yang memiliki sejarah panjang ini, sehingga menarik untuk digaris ke belakang. Di masa kolonial, kota ini terkenal dengan sebutan kota Batavia.
Orang-orang Belanda menyebut suku Batavier, nenek moyang bangsa Belanda yang berasal dari suku Jermanik yang pernah mendiami daerah sekitar Sungai Rhein, untuk kota dagang Batavia. Adapun kongsi dagang Belanda , yakni “Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC)“.
BACA JUGA:
- Nilai-Nilai Luhur Masyarakat Nusantara Menjadi Dasar Ideologi Pancasila
- Mewujudnyatakan Lingkungan Hijau Melalui Pembelajaran Tanpa Kertas
- Model Pembelajaran Think Pair Share bagi Siswa SMA
Batavia sudah menjadi sebuah kota dagang dan administrasi, politik, tempat strategis secara geopolitik dan ekonomi terutama dalam mendukung usaha monopoli dagang Belanda di kawasan Asia , khususnya Asia Tenggara.
Batavia bukan sekedar kota dagang saja, tetapi tempat terciptanya proses muktuikulural secara sosial budaya. Dengan berbagai latar belakang asal, beda pekerjaan, agama dan keyakinan, mereka hidup bersama di pusat kota serta pinggiran Batavia.
Meski VOC dibubarkan karena berbagai permasalahan, Batavia tetap berkembang mengikuti perkembangan zaman, bahkan semakin maju dan kompleks sebagai pusat aktivitas. Pemerintah kolonial Belanda mendatangkan banyak tenaga kerja dari luar Batavia.
Batavia yang didukung Sunda Kelapa sebagai pelabuhan dagang utama tersokong daerah sekitar Batavia yang memiliki banyak hasil bumi yang sangat menguntungkan bagi kolonial Belanda.

Realitas inilah yang memungkinkan terciptanya multi etnis dan kultural. Tak heran, sampai sekarang banyak ditemui beberapa nama tempat berdasarkan asal masyarakatnya. Pun dengan kebiasaan, perilaku maupun karakter manusia sekarang merupakan bentukan dari proses panjang yang sudah ada masa kolonial.
Batavia sebagai kota yang eksklusif tidak memungkinkan semua yang datang ke Batavia bisa tinggal di dalam benteng. Sebagian besar pendatang yang merupakan pedagang bermukim di luar benteng.
Batavia sangat strategis sebagai kota yang secara geografis ada laut di utara kota dan menjadi pelabuhan perdangangan.
Dari dulu Sunda Kelapa memang menjadi yang utama dan masa sekarang ini Tanjung Priok merupakan pusat aktivitas berskala nasional maupun internasional. Pertumbuhan di daratan juga cukup pesat, Tanah Abang menjadi pasar besar dari jaman VOC sampai sekarang.
Menilik Jauh sebelum kolonial Belanda, ketika Fatahillah berhasil menaklukkan Sunda Kelapa, yang dikuasai Portugis, dan disebut Jayakarta, 22 Juni 1527, ternyata keberhasilan mengusir Portugis ini merupakan suatu peristiwa besar, bukti kerajaan lokal mampu mengalahkan kekuatan asing.

Kesuksesan pasukan Fatahillah inilah yang kini dijadikan sebagai hari jadi kota Jakarta. Walau sering masih ada kontroversi di masyarakat. DPRD DKI menetapkan 22 Juni sebagai hari jadi DKI Jakarta.
Masa Fatahillah, kongsi dagang VOC, pemerintah Kolonial Belanda sudah menjadi kota penting pada masanya. Menjadi metropolitan, kota besar pusat aktivitas poliktik, ekonomi, serta kehidupan sosial ekonomi.
Pun demikian pada masa Jepang, 8 Agustus 1942, pasukan Jepang menguasai wilayah Batavia dan mengubahnya menjadi Jakarta Tokubetsu Shi.
Di masa Jepang Batavia tetap menjadi pusat politik pendudukan Jepang di Indonesia. Simbol pusat politik bagi yang menguasai wilayah Indonesia.
Jepang mengendalikan seluruh wilayah Indonesia dari Jakarta. Jepang mengambil kebijakan menghapus segala sesuatu yang berbau Eropa, khususnya Belanda di Indonesia.
Secara politis Jepang menunjukkan dominasi dalam Perang Dunia II. Juga propaganda Jepang menarik simpati rakyat Indonesia.
Bagi rakyat Indonesia, Jakarta jadi roh perjuangan mencapai kemerdekaan, banyak tokoh perjuangan dari masa pergerakan nasional sampai proklamasi kemerdekaan.

Perumusan dan proklamasi kemerdekaan juga dilaksanakan di Jakarta, begitu pula pusat pemerintahan Indonesia.
Jakarta berkembang menjadi pusat politik, ekonomi sampai sekarang. Keberagaman masyarakat yang tinggal di Jakarta pun semakin kompleks. Salah satunya karena semakin meningkatnya urbanisasi.
Pembangunan-pembangunan mega proyek, industrialisasi, pusat perbelanjaan adalah magnet masyarakat daerah untuk ke Jakarta.
Usia 498 tahun menjadi perjalanan panjang dalam catatan sejarah Indonesia dan pusat kegiatan seluruh aspek kehidupan.
Berkembang, berbenah bukan sekadar metropolitan, Jakarta kota “global” tetap berpegang teguh pada dasar nilai-nilai budaya sendiri. Punya jati diri. Jakarta semakin kompleks, semakin besar tantangan yang dihadapi, seperti urbanisasi yang ada sejak dari dulu, transportasi, polusi hingga banjir. Jakarta adalah potret dinamika perkembangan kota yang kompleks.
Referensi
M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gajah Mada University Press, Yogyakarta 1992
Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. 2001
Ratna Hapsari, M Adil, Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI, PT Erlangga, Jakarta 2017
https://dispusip.jakarta.go.id/dinas/publications/article/mengenal-jakarta-tempo-doeloe-bagian-4-masa-kerajaan-jayakarta
https://www.jakarta.go.id/sejarah-jakarta
https://www.jakarta.go.id/jakarta498
https://archipelagoid.com/jejak-sejarah-jakarta-dalam-perjuangan-kemerdekaan/
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply